Suarakitanews – Keputusan Rahayu Saraswati Djojohadikusumo untuk mengundurkan diri dari keanggotaannya di DPR RI menarik perhatian publik. Langkah ini dinilai langka, terutama karena Saraswati adalah sosok politisi muda berprestasi dengan rekam jejak bersih dan independen.
Meski baru menjabat, keputusan tersebut membuktikan bahwa Saras lebih mengutamakan integritas dibanding ambisi politik. Hal ini jarang terjadi di dunia politik Indonesia, sehingga wajar jika publik menilai langkahnya sebagai teladan baru bagi generasi muda.
Karier Politik Rahayu Saraswati: Dari Kegagalan hingga Sukses di 2024
Saraswati pernah gagal saat mencalonkan diri menjadi anggota DPR RI pada Pemilu 2019. Namun, ia tidak menyerah. Dengan kerja keras dan komitmen, ia berhasil terpilih pada 2024. Menariknya, kesuksesan itu tidak ia raih dengan memanfaatkan hubungan keluarganya—meski ia merupakan keponakan Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto.
Keberhasilan tersebut menegaskan bahwa perjalanan politik Saras dibangun dari dedikasi, bukan sekadar privilese.
Alasan Mundur: Kritik Publik dan Akuntabilitas
Keputusan mundur Saras muncul setelah dirinya mendapat kritik terkait wawancara di sebuah podcast. Walau kritik itu masih bisa diperdebatkan, ia memilih bertanggung jawab.
Langkah ini mengingatkan pada budaya politik di Jepang, di mana pejabat rela mundur hanya karena keterlambatan kereta. Dengan sikap ini, Saras membuktikan bahwa akuntabilitas politik masih mungkin ditegakkan di Indonesia.
Ia menegaskan:
“Berjuang demi bangsa tidak harus menjadi anggota DPR!”
Apresiasi dan Dukungan untuk Rahayu Saraswati
Dukungan dari TIDAR Jakarta Barat
Sebagai organisasi sayap kepemudaan Partai Gerindra, TIDAR Jakarta Barat menyatakan apresiasi terhadap langkah Saras. Menurut mereka, keputusan ini adalah contoh kepemimpinan berani dan jujur.
“Pesan beliau menjadi dasar keyakinan kami bahwa jalan perjuangan pemuda selalu terbuka, baik di dalam maupun di luar parlemen.”
Mahfud MD: Saraswati Jadi Korban Badai Politik
Mantan Menko Polhukam Mahfud MD juga menilai Saras sebagai sosok cerdas dan profesional.
“Saraswati itu berkualitas. Tetapi karena terjadi badai politik di DPR, ia ikut menjadi korban,” tulis Mahfud di akun X pribadinya.
Veronica Tan: Totalitas Perjuangan untuk Kaum Marginal
Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Veronica Tan, ikut bersuara. Ia menegaskan bahwa Saras konsisten memperjuangkan hak perempuan, anak, dan kelompok marginal.
“Saya salut dengan perjuangannya, dan akan mendukung langkah-langkahnya ke depan.”
Bukan Demi Kursi Menpora
Rumor yang menyebut mundurnya Saras terkait jabatan Menpora langsung ditepis olehnya.
“Kalau itu tujuannya, saya tidak perlu mundur dari DPR RI. Di DPR saja saya sudah dituduh dapat kursi karena keponakan, apalagi menteri,” tegas Saras.
Teladan Integritas untuk Generasi Muda
Mundurnya Rahayu Saraswati dari DPR RI menjadi pesan penting bagi generasi muda: bahwa politik bukan sekadar soal jabatan, tetapi tentang keberanian menjaga nilai-nilai integritas.
Keputusan ini sekaligus membuka mata bahwa perjuangan membangun bangsa dapat dilakukan dari berbagai jalur, baik dalam parlemen maupun di luar sistem formal.
Penulis: Mita Putri








