Kerusuhan Yalimo Papua: Dipicu Ucapan Rasis Pelajar, Mengapa Kasus Rasisme Papua Terus Berulang?

  • News
  • September 19, 2025

Suarakitanews – Yalimo, Papua Pegunungan. Kerusuhan kembali pecah di Kabupaten Yalimo, Papua Pegunungan, pada Selasa (16/9/25). Peristiwa ini diduga dipicu oleh ucapan rasis antar pelajar SMA, yang kemudian meluas menjadi bentrokan besar hingga menyebabkan puluhan bangunan terbakar dan ratusan warga mengungsi.

Kronologi Kerusuhan di Yalimo

Menurut keterangan Kapolres Yalimo, Kompol Joni Samonsabra, kerusuhan bermula ketika seorang siswa berinisial AB mengucapkan kata-kata bernuansa rasis kepada teman sekelasnya saat jam belajar pukul 07.00 WIT. Insiden tersebut memicu baku pukul antar pelajar, yang kemudian merembet ke luar sekolah.

Tak berhenti di situ, massa marah kemudian membakar kios yang diduga milik keluarga siswa AB. Aksi ini berlanjut dengan pembakaran mess perwira, asrama Polres, hingga puluhan rumah dan kios di sekitar Elelim.

Kabid Humas Polda Papua, Kombes Cahyo Sukarnito, melaporkan bahwa lebih dari 30 kios dan rumah hangus terbakar, enam rumah dinas rusak, serta satu mess perwira ikut dibakar massa. Tidak hanya itu, 23 orang terluka, termasuk aparat TNI dan Polri yang terkena panah.

Dampak Kerusuhan: Ratusan Warga Mengungsi

Kerusuhan Yalimo membuat lebih dari 200 warga non-Papua mengungsi. Namun, sebagian masih bertahan di tengah ketakutan. Camila, seorang perantau bersama bayi berusia satu tahun, menceritakan detik-detik rumahnya terbakar.

“Massa datang dan lempar rumah, (kami) disuruh keluar. Saya baru keluar dari pintu belakang, asap sudah naik. Rumah saya terbakar, rata dengan tanah,” ungkap Camila.

Mengapa Kasus Rasisme Papua Selalu Berulang?

Sejumlah tokoh adat dan agama mengutuk keras tindakan rasisme yang berujung kerusuhan di Yalimo. Pastor John Bunay dari Jaringan Damai Papua menilai bahwa kasus rasisme terhadap orang asli Papua selalu berulang karena tidak pernah diselesaikan dengan rekonsiliasi yang mendalam.

“(Kasus rasis) masih meninggalkan bekas di hati orang Papua. Jadi ketika ada ucapan yang merendahkan martabat, responsnya bisa langsung aksi besar, pembakaran, bahkan demo,” jelasnya.

Pastor John menegaskan bahwa pendekatan keamanan tidak cukup. Ia mendorong model rekonsiliasi tiga tingku, yaitu melibatkan tetua adat dari tujuh wilayah, tokoh agama, dan pemerintah.

Pentingnya Rekonsiliasi untuk Papua

Pendekatan dialogis dinilai penting agar kasus rasisme tidak terus menjadi pemicu konflik. Jika tidak ada penyelesaian yang adil, maka luka lama di Papua akan terus terulang dalam bentuk kerusuhan baru.

Dengan rekonsiliasi, masyarakat di Papua diharapkan dapat menemukan titik temu, membangun rasa saling menghormati, serta menciptakan kedamaian yang berkelanjutan di Tanah Papua.

Penulis: Mita Putri

Mita Putri

Artikel Terkait

Laporan Khusus: Jejak Sunyi Sang “Manusia Bayangan Republik” Zulkifli Lubis

Suara Kita News. Com, Dalam lembaran sejarah Indonesia, panggung utama kerap dikuasai oleh mereka yang bersuara lantang di atas mimbar. Namun, di balik layar sejarah kemerdekaan, terdapat figur-figur yang memilih…

Lanjutkan Membaca

// // //
  • News
  • July 1, 2026
  • //
Biaya Visa Jepang Resmi Naik 5 Kali Lipat per 1 Juli 2026, Turis Indonesia Wajib Tahu!

Suarakitanews — Kabar penting bagi Anda yang berencana liburan ke Negeri Sakura: biaya visa Jepang naik secara signifikan mulai 1 Juli 2026. Kenaikan ini bukan sekadar penyesuaian kecil, melainkan lonjakan…

Lanjutkan Membaca

// // //

Rekomendasi

Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

  • October 12, 2026
Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

  • October 10, 2026
Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

  • October 9, 2026
Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

  • October 8, 2026
Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

  • October 8, 2026
Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri

  • October 8, 2026
Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri