Kisah Suku Amungme Papua: Pemilik Tanah Ulayat Freeport yang Tetap Hidup Miskin di Tengah Tambang Emas Raksasa

  • News
  • September 13, 2025

Suarakitanews – Suku Amungme adalah salah satu suku asli Papua yang memiliki tanah ulayat di wilayah operasional tambang Freeport Indonesia. Namun, meski tanah adat mereka telah ditambang selama puluhan tahun, mayoritas masyarakat Amungme masih hidup dalam kemiskinan. Ironisnya, hal ini terjadi di tengah klaim Freeport yang menyebut telah menggelontorkan dana triliunan rupiah untuk pembangunan masyarakat lokal di Mimika.

Pegunungan Sakral Nemangkawi Ninggok, Warisan Leluhur Amungme

Bagi orang-orang Amungme, pegunungan bersalju Nemangkawi Ninggok bukan sekadar tempat tinggal. Mereka menganggapnya sebagai tempat sakral dan menyebutnya sebagai anak perempuan sulung mereka. Hubungan spiritual ini membuat gunung tersebut sangat berarti, jauh lebih berharga daripada sekadar sumber mineral.

Namun, segalanya berubah pada tahun 1960. Seorang geolog sekaligus pemimpin Freeport, Forbes Wilson, mengajak tokoh Amungme bernama Moses Kilangin untuk melakukan ekspedisi ke Nemangkawi Ninggok. Tujuh tahun kemudian, pada 1967, Freeport resmi menandatangani kontrak karya dengan pemerintah Indonesia, yang kemudian membuka jalan bagi penambangan di wilayah adat Amungme.

Janji Freeport yang Tidak Pernah Sepenuhnya Terwujud

Ketika Freeport mulai beroperasi di puncak Ertsberg pada awal 1970-an, warga Amungme sempat melakukan perlawanan. Mereka memasang kayu berbentuk salib di landasan helikopter Freeport sebagai simbol penolakan. Namun, pada akhirnya pertemuan antara Freeport dan perwakilan Amungme pada 6 Januari 1974 menghasilkan kesepakatan.

Dalam pertemuan itu, seorang kepala marga Amungme berkata:

“Gunung ini adalah anak perempuan sulung kami. Perusahaan ini telah mengambilnya tanpa memberikan mas kawin kepada kami.”

Sebagai gantinya, Freeport berjanji membangun sekolah, klinik, pasar, rumah penduduk, hingga membuka lapangan kerja bagi masyarakat lokal. Warga pun akhirnya mengizinkan penambangan di Ertsberg. Sayangnya, setelah puluhan tahun, janji-janji itu tidak sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat adat.

Kemiskinan di Tengah Tambang Emas Terbesar

Hingga kini, mayoritas masyarakat Amungme, terutama yang tinggal di Kampung Waa, masih hidup dalam keterbatasan. Ironisnya, sebagian warga bahkan mencari nafkah dengan mendulang emas di sungai yang tercemar limbah Freeport.

Seorang tokoh Amungme, Jemmy Natkime, yang merupakan keturunan kepala marga pemilik hak ulayat, mengungkapkan kekecewaannya:

“Di tempat kami ini, tambang emas yang luar biasa. Nomor satu di dunia, tapi hidup kami miskin betul.”

Sementara itu, Freeport mengklaim telah mengucurkan dana sekitar Rp 33,9 triliun sejak 1992 hingga 2023 untuk berbagai sektor, mulai dari pendidikan, kesehatan, ekonomi, hingga budaya masyarakat Mimika. Namun, faktanya, kesenjangan sosial dan ekonomi masih nyata di tengah masyarakat asli Papua.

Mengapa Orang Amungme Menolak Tambang dan Eksplorasi Baru?

Kisah orang Amungme menjadi gambaran bagaimana masyarakat adat kerap terpinggirkan dalam proyek-proyek besar. Bagi mereka, tanah dan gunung bukan hanya aset ekonomi, tetapi juga simbol identitas dan spiritualitas. Karena itu, penolakan terhadap pertambangan, termasuk rencana eksplorasi Blok Warim sebagai blok minyak terbesar di Indonesia, semakin menguat.

Kisah suku Amungme Papua menunjukkan ironi besar: pemilik tanah ulayat dari salah satu tambang emas terbesar di dunia justru hidup dalam kemiskinan. Meski Freeport menyatakan telah memberikan kontribusi besar bagi masyarakat, fakta di lapangan memperlihatkan sebaliknya. Inilah mengapa suara orang-orang Amungme terus menggema, menuntut keadilan dan pengakuan atas hak-hak mereka.

Penulis: Mita Putri

Mita Putri

Artikel Terkait

Laporan Khusus: Jejak Sunyi Sang “Manusia Bayangan Republik” Zulkifli Lubis

Suara Kita News. Com, Dalam lembaran sejarah Indonesia, panggung utama kerap dikuasai oleh mereka yang bersuara lantang di atas mimbar. Namun, di balik layar sejarah kemerdekaan, terdapat figur-figur yang memilih…

Lanjutkan Membaca

// // //
  • News
  • July 1, 2026
  • //
Biaya Visa Jepang Resmi Naik 5 Kali Lipat per 1 Juli 2026, Turis Indonesia Wajib Tahu!

Suarakitanews — Kabar penting bagi Anda yang berencana liburan ke Negeri Sakura: biaya visa Jepang naik secara signifikan mulai 1 Juli 2026. Kenaikan ini bukan sekadar penyesuaian kecil, melainkan lonjakan…

Lanjutkan Membaca

// // //

Rekomendasi

Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

  • October 12, 2026
Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

  • October 10, 2026
Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

  • October 9, 2026
Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

  • October 8, 2026
Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

  • October 8, 2026
Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri

  • October 8, 2026
Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri