Suarakitanews – Suku Amungme adalah salah satu suku asli Papua yang memiliki tanah ulayat di wilayah operasional tambang Freeport Indonesia. Namun, meski tanah adat mereka telah ditambang selama puluhan tahun, mayoritas masyarakat Amungme masih hidup dalam kemiskinan. Ironisnya, hal ini terjadi di tengah klaim Freeport yang menyebut telah menggelontorkan dana triliunan rupiah untuk pembangunan masyarakat lokal di Mimika.
Pegunungan Sakral Nemangkawi Ninggok, Warisan Leluhur Amungme
Bagi orang-orang Amungme, pegunungan bersalju Nemangkawi Ninggok bukan sekadar tempat tinggal. Mereka menganggapnya sebagai tempat sakral dan menyebutnya sebagai anak perempuan sulung mereka. Hubungan spiritual ini membuat gunung tersebut sangat berarti, jauh lebih berharga daripada sekadar sumber mineral.
Namun, segalanya berubah pada tahun 1960. Seorang geolog sekaligus pemimpin Freeport, Forbes Wilson, mengajak tokoh Amungme bernama Moses Kilangin untuk melakukan ekspedisi ke Nemangkawi Ninggok. Tujuh tahun kemudian, pada 1967, Freeport resmi menandatangani kontrak karya dengan pemerintah Indonesia, yang kemudian membuka jalan bagi penambangan di wilayah adat Amungme.
Janji Freeport yang Tidak Pernah Sepenuhnya Terwujud
Ketika Freeport mulai beroperasi di puncak Ertsberg pada awal 1970-an, warga Amungme sempat melakukan perlawanan. Mereka memasang kayu berbentuk salib di landasan helikopter Freeport sebagai simbol penolakan. Namun, pada akhirnya pertemuan antara Freeport dan perwakilan Amungme pada 6 Januari 1974 menghasilkan kesepakatan.
Dalam pertemuan itu, seorang kepala marga Amungme berkata:
“Gunung ini adalah anak perempuan sulung kami. Perusahaan ini telah mengambilnya tanpa memberikan mas kawin kepada kami.”
Sebagai gantinya, Freeport berjanji membangun sekolah, klinik, pasar, rumah penduduk, hingga membuka lapangan kerja bagi masyarakat lokal. Warga pun akhirnya mengizinkan penambangan di Ertsberg. Sayangnya, setelah puluhan tahun, janji-janji itu tidak sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat adat.
Kemiskinan di Tengah Tambang Emas Terbesar
Hingga kini, mayoritas masyarakat Amungme, terutama yang tinggal di Kampung Waa, masih hidup dalam keterbatasan. Ironisnya, sebagian warga bahkan mencari nafkah dengan mendulang emas di sungai yang tercemar limbah Freeport.
Seorang tokoh Amungme, Jemmy Natkime, yang merupakan keturunan kepala marga pemilik hak ulayat, mengungkapkan kekecewaannya:
“Di tempat kami ini, tambang emas yang luar biasa. Nomor satu di dunia, tapi hidup kami miskin betul.”
Sementara itu, Freeport mengklaim telah mengucurkan dana sekitar Rp 33,9 triliun sejak 1992 hingga 2023 untuk berbagai sektor, mulai dari pendidikan, kesehatan, ekonomi, hingga budaya masyarakat Mimika. Namun, faktanya, kesenjangan sosial dan ekonomi masih nyata di tengah masyarakat asli Papua.
Mengapa Orang Amungme Menolak Tambang dan Eksplorasi Baru?
Kisah orang Amungme menjadi gambaran bagaimana masyarakat adat kerap terpinggirkan dalam proyek-proyek besar. Bagi mereka, tanah dan gunung bukan hanya aset ekonomi, tetapi juga simbol identitas dan spiritualitas. Karena itu, penolakan terhadap pertambangan, termasuk rencana eksplorasi Blok Warim sebagai blok minyak terbesar di Indonesia, semakin menguat.
Kisah suku Amungme Papua menunjukkan ironi besar: pemilik tanah ulayat dari salah satu tambang emas terbesar di dunia justru hidup dalam kemiskinan. Meski Freeport menyatakan telah memberikan kontribusi besar bagi masyarakat, fakta di lapangan memperlihatkan sebaliknya. Inilah mengapa suara orang-orang Amungme terus menggema, menuntut keadilan dan pengakuan atas hak-hak mereka.
Penulis: Mita Putri








