Suarakitanews – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan publik. Kali ini, program tersebut ramai diperbincangkan karena menu yang dibagikan saat libur sekolah di beberapa wilayah Tangerang Selatan (Tangsel) diduga tidak sesuai standar. Pasalnya, distribusi MBG disebut berisi bahan mentah seperti beras, telur puyuh, dan buah, serta makanan ringan kemasan seperti biskuit dan kacang.
Distribusi MBG Disesuaikan dengan Libur Sekolah
Menurut A. Basiro, Kepala SPPG Yasmit Ciputat Timur, menu Makan Bergizi Gratis (MBG) dibagikan dalam bentuk bahan mentah karena sekolah sedang libur atau menjelang class meeting. Sebanyak 4.075 siswa dari 18 sekolah menerima paket tersebut, mulai dari PAUD hingga SMA.
“Agar bisa dibawa pulang dan tahan lama,” jelasnya. Namun, temuan di lapangan menunjukkan adanya snack kemasan seperti biskuit dan kacang, yang memicu pertanyaan soal kualitas gizi MBG.
Minimnya Koordinasi dengan Pemda Tangsel
Kepala Disdikbud Tangsel, Deden Deni, menyebut tidak ada koordinasi antara SPPG dan pemerintah daerah soal distribusi Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ia menambahkan, selama bulan puasa, menu MBG berupa makanan kering seperti biskuit dan sereal dinilai masih sesuai. Kurangnya koordinasi ini memicu kebingungan dan ketidaksesuaian pelaksanaan di lapangan.
Teguran dari Badan Gizi Nasional (BGN)
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah mengeluarkan kebijakan resmi terkait pembagian MBG dalam bentuk bahan mentah. Ia juga menegaskan pentingnya prinsip pemerataan gizi, efektivitas penyaluran, dan keberlanjutan manfaat dalam pelaksanaan program MBG.
Sebagai bentuk tanggapan, BGN memberikan teguran lisan kepada SPPG Tangsel karena dianggap telah melakukan pelanggaran terhadap Standar Operasional Prosedur (SOP).
Anggaran Jumbo, Realisasi Masih Rendah
Meski memiliki anggaran besar, realisasi program MBG masih tergolong rendah. Hingga 12 Juni 2025, realisasi anggaran baru mencapai Rp 4,4 triliun atau sekitar 6,2 persen dari total pagu Rp 71 triliun. Dari target 17,9 juta penerima manfaat, baru sekitar 4,89 juta orang yang telah menerima bantuan.
Menariknya, pemerintah telah menaikkan target menjadi 82,9 juta penerima manfaat, dan menaikkan pagu anggaran menjadi Rp 171 triliun.
CISDI: Hanya 17 Persen Menu MBG Penuhi Target Gizi
Laporan dari Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) mengungkapkan bahwa hanya 5 dari 29 sampel menu MBG yang memenuhi 30-35 persen kebutuhan energi harian sesuai Angka Kecukupan Gizi (AKG).
Bahkan, 45 persen dari menu yang diteliti masih mengandung pangan ultra-proses seperti susu kemasan tinggi gula, yang justru berpotensi membahayakan kesehatan anak-anak jika dikonsumsi secara rutin.
Apa Dampaknya bagi Anak Sekolah?
Menu bergizi seharusnya menunjang konsentrasi dan performa akademik siswa. Konsumsi menu rendah kalori dan tinggi gula secara berulang dapat menyebabkan kelelahan, risiko obesitas, hipertensi, serta penyakit tidak menular lainnya. Program MBG yang tidak tepat sasaran justru berpotensi menurunkan kualitas kesehatan generasi penerus bangsa.
Kesimpulan
Program Makan Bergizi Gratis adalah langkah strategis pemerintah dalam menanggulangi masalah gizi anak-anak sekolah. Namun, pelaksanaan yang tidak sesuai standar, minimnya koordinasi antar lembaga, serta kurangnya pengawasan terhadap kandungan gizi dalam menu, dapat menghambat tujuan utama program ini.
Perlu adanya evaluasi menyeluruh dan penguatan sistem distribusi agar MBG benar-benar memberikan manfaat optimal bagi para siswa, terutama di masa libur sekolah.
Penulis: Mita Putri








