Suarakitanews.com – Apa Itu Eco-Anxiety dan Mengapa Semakin Banyak Anak Muda Mengalaminya?Pernahkah kamu merasa sesak napas bukan karena polusi atau penyakit, tetapi karena kecemasan tentang masa depan bumi? Jika iya, kamu tidak sendirian. Perasaan itu dikenal sebagai eco-anxiety—rasa takut berlebihan yang muncul akibat dampak perubahan iklim dan kerusakan lingkungan yang makin parah.
Setiap hari, kita disuguhi berita tentang kebakaran hutan, banjir bandang, suhu ekstrem, hingga kota-kota yang terancam tenggelam. Sementara itu, pemerintah dan korporasi seolah-olah menutup mata dan terus menjalankan proyek yang merusak lingkungan. Maka wajar jika muncul pertanyaan, “Apakah dunia akan terus seperti ini?”
Krisis Iklim Nyata, Tapi Tindakan Pemerintah Masih Minim
Sayangnya, meskipun krisis iklim semakin terlihat nyata, respons dari pemerintah dan industri masih sangat mengecewakan. Contoh nyatanya meliputi:
- Proyek tambang dan PLTU yang terus bertambah
- Ruang terbuka hijau digusur untuk pembangunan komersial
- Solusi dari pemerintah yang minim dan tidak berpihak pada rakyat
Semua ini memperparah eco-anxiety yang dialami banyak orang, terutama generasi muda yang sangat peduli terhadap masa depan planet ini.
Lalu, Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Meski kecemasan itu nyata, kita bisa mengubahnya menjadi bahan bakar untuk aksi nyata. Daripada hanya merasa takut, kita bisa:
- Mengurangi plastik sekali pakai
- Membawa tas belanja dan botol minum sendiri
- Mendukung energi terbarukan
- Bergabung dengan komunitas lingkungan
- Menekan kebijakan publik yang ramah iklim
Kabar baiknya, ada banyak inovasi dan gerakan positif yang sedang berjalan untuk menyelamatkan bumi. Artinya, harapan masih ada.
Dari Cemas Jadi Aksi: Pilih Diam atau Bergerak?
Perasaan takut dan stres karena krisis iklim adalah hal yang wajar. Tapi jangan biarkan kita hanya terjebak dalam rasa takut. Kita bisa dan harus bergerak bersama.
Ingat, kita bukan satu-satunya yang peduli. Semakin banyak orang yang sadar, semakin besar peluang kita untuk menciptakan perubahan. Jadi, mau terus-terusan parno, atau mulai bergerak?
“Pilihan ada di tangan kamu.”
Penulis : Mita Putri








