Suarakitanews.com – PT Sri Rejeki Isman Tbk atau Sritex, salah satu produsen tekstil terbesar di Asia Tenggara, resmi dinyatakan pailit. Putusan ini menjadi pukulan berat bagi industri tekstil nasional. Pada 28 Februari 2025, lebih dari 10.000 karyawan kehilangan pekerjaan, menandai berakhirnya perjalanan panjang perusahaan yang telah berdiri selama hampir enam dekade.
Dari Kios Kecil ke Pasar Global
Perjalanan Sritex bermula pada 1966, ketika Haji Muhammad Lukminto mendirikan kios kain di Pasar Klewer, Solo. Dua tahun kemudian, ia membangun pabrik kain putih dan berwarna. Pada 1978, Sritex resmi terdaftar di Kementerian Perdagangan.
Seiring waktu, bisnis Sritex berkembang pesat. Pada 1992, mereka memperluas lini produksi ke pemintalan, penenunan, sentuhan akhir, dan busana. Produk mereka pun menembus pasar internasional. Bahkan, pada 1994, Sritex menjadi pemasok seragam militer NATO dan Jerman.
Puncak Kesuksesan dan Tantangan Finansial
Puncak kejayaan Sritex terjadi saat perusahaan ini go public pada 2013. Dengan ekspansi agresif, mereka menjadi produsen seragam militer di 30 negara dan mengekspor produk ke lebih dari 100 negara.
Namun, kejayaan itu tidak bertahan lama. Perlambatan ekonomi global, beban utang yang besar, dan dampak pandemi COVID-19 membuat keuangan perusahaan tekstil raksasa Indonesia itupun terguncang. Pada 2023, mereka mulai menghadapi kesulitan likuiditas, hingga akhirnya dinyatakan pailit.
Akhir Sebuah Era
Bangkrutnya Sritex menjadi peringatan bagi industri tekstil Indonesia. Kejadian ini menunjukkan pentingnya manajemen keuangan yang bijak dan adaptasi terhadap dinamika pasar global. Kini, setelah 58 tahun, perusahaan tekstil tersebut resmi mengakhiri perjalanannya, meninggalkan jejak besar dalam sejarah industri tekstil nasional.
Penulis : Mita
Sumber : bbcindonesia








