Suara Kita News.com – Acahayati binti Acep Suhari, seorang istri, ibu, dan hamba Allah yang menjalani hidupnya dengan satu tujuan: mencari ridho-Nya. Sejak kecil, ia diajarkan bahwa kebahagiaan sejati bukanlah tentang memiliki segalanya, tetapi tentang memberi segalanya dengan keikhlasan. Setelah menikah dengan Kiyai Haji Raden Mas’udinur, hidupnya tidak lagi tentang dirinya sendiri, tetapi tentang pengabdian kepada suami, santri-santri yang akan menjadi penerus perjuangan Islam, dan yang terpenting, kepada Allah.
Setiap pagi sebelum fajar, Acahayati bangun lebih awal untuk bersujud dan berdoa. Dengan langkah ringan, meskipun tubuhnya lelah, ia pergi ke dapur untuk menyiapkan hidangan bagi suami dan para santri. Setiap suapan makanan yang mereka nikmati adalah hasil kerja tangannya yang disertai cinta. Baginya, ini bukan hanya pekerjaan, tetapi juga ibadah.
Acahayati selalu memperhatikan suaminya saat makan. Ia ingin memastikan bahwa suaminya menyukai apa yang ia sajikan dan melihatnya bahagia. Ia ingin suaminya pulang dari mengajar dengan hati yang ringan karena tahu ada istri yang mencintainya dengan tulus di rumah. Ia tidak pernah makan sebelum suaminya mengambil suapan pertama. Baginya, ridho suami adalah ridho Allah, dan setiap senyum di wajah suaminya adalah sumber kebahagiaannya.
Santri-santri di pondok pesantren juga dianggap sebagai anak-anaknya. Mereka datang dari berbagai daerah untuk menimba ilmu agama. Acahayati tidak ingin mereka merasa kesepian dan ingin mereka merasakan bahwa mereka memiliki seorang ibu di sana. Ia menjahit pakaian mereka yang robek, menyiapkan makanan saat mereka lelah, dan memastikan bahwa mereka selalu sehat dan nyaman. Ia tidak pernah mengeluh dan justru merasa semakin dekat dengan Allah dalam pengabdian ini.
Suatu malam, tubuh Acahayati terasa sangat lemah hingga ia hampir tidak bisa berdiri. Namun, ia tetap pergi ke dapur, memasak, dan mengurus semua kebutuhan suami dan santri. Ia tahu bahwa di setiap tetes keringatnya, ada pahala yang Allah siapkan. Ia ingin menjadi seperti Khadijah binti Khuwailid yang setia mendampingi suaminya dalam suka dan duka. Ia juga ingin menjadi seperti Fatimah Az-Zahra yang mengabdikan dirinya sepenuhnya untuk keluarga tanpa mengharapkan balasan duniawi.
Hingga suatu hari, tubuh Acahayati semakin lemah, tetapi hatinya tetap tenang. Sambil tersenyum, ia menatap suaminya dan berbisik, “A, saya duluan ya.” Ia melihat seseorang datang menjemputnya dengan wajah bersih, memakai jubah dan sorban putih. Ia tahu ini adalah pertanda baik. Sambil tersenyum, ia mengucapkan kata terakhir dalam hidupnya: “Allah.”
Acahayati pergi dengan wajah bercahaya, meninggalkan dunia dengan damai, dan Insya Allah, membawa cinta dan pengabdiannya sebagai bekal menuju surga.
Kisah Acahayati adalah teladan bagi para wanita yang ingin mencari ridho Allah. Kesetiaan, ketulusan, dan pengabdian kepada suami dan keluarga bukanlah beban, melainkan tangga menuju kemuliaan. Ridho suami adalah ridho Allah, dan dalam pengabdian ini, ada surga yang menanti.
Penulis : Ayu
Editor : Yerrydewa






