Suarakitanews.com – Dalam waktu relatif singkat, Kabinet Merah Putih telah mencatatkan sejumlah capaian signifikan di sektor industri. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berperan penting dalam meningkatkan kinerja industri manufaktur nasional melalui berbagai kebijakan strategis yang pro-industri. Berikut adalah beberapa kebijakan dan capaian yang patut diapresiasi.
Perpanjangan Program Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT)
Salah satu kebijakan penting yang diperpanjang hingga 2025 adalah Program Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT). Kebijakan ini menjadi angin segar bagi sektor industri, karena tidak hanya menjamin kepastian usaha dan daya saing, tetapi juga menarik minat investor untuk menanamkan modal di Indonesia. Dengan HGBT, biaya produksinya dapat ditekan, sehingga produk lokal mampu bersaing di pasar global.
Penguatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN)
Kemenperin juga gencar mendorong Program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN). Fokus utama adalah implementasi kebijakan TKDN untuk produk Handphone, Komputer Genggam, dan Tablet (HKT). Tujuannya adalah meningkatkan investasi, menciptakan lapangan kerja, serta mendorong penggunaan bahan baku dan komponen lokal. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada impor.
Evaluasi Relaksasi Kebijakan Impor
Untuk melindungi produk dalam negeri, Kemenperin mendukung kementerian/lembaga lain dalam mengeluarkan kebijakan yang pro-industri. Salah satunya adalah evaluasi relaksasi kebijakan impor, yang bertujuan memastikan produk lokal tetap kompetitif di pasar domestik. Langkah ini juga mendorong pertumbuhan industri manufaktur nasional.
Paket Stimulus Ekonomi di Sektor Manufaktur
Kemenperin memberikan berbagai insentif untuk mendukung sektor manufaktur, baik dari sisi supply maupun demand. Beberapa insentif yang diberikan meliputi PPN Ditanggung Pemerintah (DTP), Pembebasan Bea Masuk untuk Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB), serta insentif PPnBM untuk kendaraan hybrid. Selain itu, ada juga insentif pembiayaan industri padat karya sebesar 3% untuk membantu revitalisasi mesin.
Capaian Sektor Industri Nasional
Dalam 100 hari masa kerjanya, Kemenperin telah mencatatkan sejumlah prestasi gemilang. Ekspor sektor industri pengolahan non-migas mencapai US$ 196,55 miliar pada 2024, atau 74,25% dari total ekspor nasional. Sektor ini juga menyerap investasi sebesar Rp 515,7 triliun, setara dengan 40,9% dari total investasi nasional.
Indikator kinerja lainnya seperti Purchasing Manager’s Index (PMI) dan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) juga menunjukkan tren positif. PMI Manufaktur kembali ekspansi pada Desember 2024 dengan skor 51,2, sementara IKI bertahan di level ekspansif di atas 52.
Berdasarkan data IMF, Indonesia kini menduduki peringkat ke-8 sebagai ekonomi terbesar dunia berdasarkan PDB (PPP) dengan nilai US$ 4,66 triliun, melampaui negara maju seperti Prancis dan Inggris.
Melalui berbagai kebijakan dan program yang dijalankan, Kemenperin berhasil meningkatkan daya saing industri nasional. Dukungan dari Presiden Prabowo dan sinergi antar kementerian/lembaga menjadi kunci keberhasilan ini. Dengan terus mengoptimalkan kebijakan pro-industri, Indonesia siap menjadi pemain utama di kancah global.
Penulis : Mita








