Suarakitanews — Babak baru dalam hubungan Amerika Serikat dan Iran akhirnya dimulai. Setelah berbulan-bulan tensi memanas, kedua negara dikabarkan telah menyepakati perjanjian damai yang akan ditandatangani secara resmi di Swiss. Kabar ini pertama kali diumumkan oleh Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, yang berperan sebagai salah satu mediator utama dalam proses negosiasi.
Pakistan Jadi Penengah, Penandatanganan Digelar di Swiss
Melalui akun media sosialnya, Sharif menyampaikan bahwa kesepakatan antara Washington dan Teheran telah dicapai setelah serangkaian pembicaraan yang intensif.
Ia menegaskan bahwa kedua belah pihak sepakat menghentikan seluruh operasi militer secara permanen di berbagai front, termasuk di Lebanon. Selain itu, ia juga berterima kasih kepada Qatar, Arab Saudi, dan Turki yang turut membantu melancarkan proses mediasi tersebut.
Presiden Donald Trump kemudian mengonfirmasi kabar tersebut lewat platform Truth Social, tepat saat dirinya menghadiri jamuan makan malam keluarga di Gedung Putih untuk memperingati hari kelahirannya.
Trump menyebut kesepakatan ini sebagai pencapaian yang gagal diraih oleh para presiden sebelum dirinya, sekaligus mengizinkan pembukaan kembali Selat Hormuz tanpa batasan apa pun.
Tidak hanya itu, ia juga menginstruksikan pencabutan blokade Angkatan Laut AS secara serentak. Dalam unggahannya yang penuh semangat, Trump menyerukan agar kapal-kapal dunia kembali menyalakan mesin dan membiarkan aliran minyak berjalan normal. Kabarnya, Wakil Presiden JD Vance akan mewakili pemerintah AS dalam seremoni penandatanganan di Jenewa.
Iran Sebut Ini sebagai Kemenangan
Di sisi lain, pemerintah Iran turut memberikan tanggapan resmi. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, membenarkan tercapainya kesepakatan tersebut melalui sambungan telepon dengan televisi pemerintah.
Ia memastikan bahwa pengumuman resmi penghentian perang akan disampaikan malam itu juga, mencakup penghentian operasi militer secara permanen di berbagai front.
Stasiun televisi pemerintah Iran bahkan menyebut bahwa Amerika Serikat “terpaksa” menyetujui kesepakatan demi mengakhiri konflik dengan Iran beserta jaringan Poros Perlawanannya. Sejumlah media Iran pun ramai-ramai mengklaim hasil ini sebagai kemenangan diplomatik bagi Teheran.
Rincian Nota Kesepahaman: 14 Poin Penting
Menurut laporan kantor berita semi-resmi Iran, Mehr, terdapat sekitar 14 poin utama dalam draf nota kesepahaman yang dibahas kedua negara meskipun belum dikonfirmasi secara resmi. Beberapa poin pentingnya antara lain:
- Gencatan senjata permanen di semua front, termasuk Lebanon
- Komitmen AS untuk tidak mencampuri urusan internal Iran
- Pencabutan blokade laut oleh AS dalam tempo 30 hari
- Penarikan pasukan militer AS dari wilayah Iran
- Pembukaan kembali Selat Hormuz dalam 30 hari di bawah pengaturan Iran
- Rencana rekonstruksi senilai sedikitnya US$300 miliar dari AS dan sekutunya
- Pencabutan sanksi terhadap sektor minyak dan energi Iran
- Penegasan ulang komitmen Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir
- Komitmen AS untuk tidak menambah kekuatan militer di kawasan maupun menjatuhkan sanksi baru
Lebih lanjut, Mehr melaporkan bahwa negosiasi final baru akan dimulai setelah separuh dana Iran yang dibekukan dicairkan, sanksi minyak ditangguhkan, dan blokade laut dihentikan. Perjanjian akhir nantinya direncanakan disahkan lewat resolusi Dewan Keamanan PBB.
Dampaknya bagi Pasokan Minyak Dunia
Sementara itu, dampak kesepakatan ini terhadap pasar energi global belum bisa dirasakan secara instan. ADNOC, perusahaan minyak nasional Uni Emirat Arab, memperkirakan aliran minyak melalui Selat Hormuz baru akan kembali normal pada kuartal pertama atau kedua tahun mendatang, meski perjanjian damai berjalan mulus.
Sebagai informasi tambahan, Badan Energi Internasional (IEA) sebelumnya telah mengumumkan pelepasan 400 juta barel minyak dari cadangan strategis negara-negara anggotanya sejak Maret, dan lebih dari sepertiganya sudah terdistribusi.
Para produsen pun diperkirakan akan lebih dulu memprioritaskan pemenuhan permintaan global yang mencapai sekitar 104 juta barel per hari, sebelum berfokus mengisi ulang cadangan yang terpakai. Sebagai akibatnya, proses pemulihan stok minyak dunia diperkirakan masih membutuhkan waktu berbulan-bulan.
Masih Banyak yang Belum Jelas
Meskipun begitu, euforia kesepakatan ini diwarnai oleh banyak ketidakpastian.
Nasib program nuklir Iran, yang sempat dijadikan alasan pecahnya konflik, sepertinya akan menjadi agenda negosiasi lanjutan di masa depan.
Pada akhirnya, kesepakatan ini dinilai mampu meredakan sebagian tekanan ekonomi global serta beban politik yang dihadapi Trump, meski belum sepenuhnya menuntaskan akar permasalahan.
Kondisi pun perlahan kembali mendekati situasi sebelum konflik pecah, walau target besar yang diinginkan Trump masih jauh dari tercapai.
Penulis: Mita Putri








