Suarakitanews — Babak baru hubungan Amerika Serikat dan Iran akhirnya dimulai. Setelah berbulan-bulan konflik bersenjata yang mengguncang pasar energi dunia, kedua negara resmi mengakhiri permusuhan lewat penandatanganan nota kesepahaman damai. Langkah ini juga membuka jalan bagi normalisasi pelayaran di Selat Hormuz, jalur vital yang selama ini menjadi penentu arah harga minyak global.
Kronologi Singkat: Dari Swiss ke Versailles
Awalnya, penandatanganan resmi dijadwalkan berlangsung di Swiss pada 19 Juni 2026. Namun, prosesnya justru berlangsung lebih cepat ketika Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian meneken nota kesepahaman pada 17 Juni 2026, dengan Pezeshkian menandatangani naskah tersebut di Teheran sementara Trump melakukannya di pinggiran Paris. Selanjutnya, para mediator Pakistan serta perwakilan kedua negara mengumumkan penandatanganan resmi pada Kamis, 18 Juni 2026.
Lewat kesepakatan tersebut, AS dan Iran membuka masa negosiasi 60 hari guna mencapai perjanjian final. Sementara itu, Juru Bicara Kemenlu Iran, Esmaeil Baghaei, memastikan bahwa kesepakatan sudah berlaku sejak naskah diteken. Di sisi lain, AS dilaporkan mulai mencabut blokade laut dan berbagai hambatan terhadap Iran tidak lama setelah nota ditandatangani, dengan target blokade tersebut berakhir total dalam 30 hari.
Menariknya, meski sepakat berdamai, masing-masing pihak tetap menunjukkan sikap keras. Trump, misalnya, menegaskan dalam konferensi pers di sela KTT G7 di Evian-les-Bains bahwa AS akan kembali menyerang apabila Iran melanggar kesepakatan. Akan tetapi, ia juga menyatakan tidak menginginkan hal tersebut terjadi selama Iran menghormati perjanjian.
Dampaknya ke Harga Minyak Dunia
Begitu kabar kesepakatan mencuat, pasar energi global langsung merespons positif. Harga minyak Brent maupun WTI tercatat anjlok signifikan dalam hitungan jam, bahkan sempat turun hampir lima persen pada perdagangan Senin, 15 Juni 2026.
Sebagai akibatnya, optimisme pasar pun merambat ke bursa saham Asia. Indeks Nikkei 225 di Jepang dan Kospi di Korea Selatan sama-sama melesat, mengingat kawasan Asia Timur dan Tenggara sangat bergantung pada pasokan minyak serta gas alam cair dari Timur Tengah.
Tidak hanya berdampak di luar negeri, gelombang penurunan harga minyak dunia ini turut memicu desakan di dalam negeri. Sejumlah anggota DPR RI bahkan mendorong Pertamina untuk segera menyesuaikan harga BBM nonsubsidi seiring meredanya konflik dan turunnya harga minyak mentah global.
Mengapa Pasokan Minyak Belum Bisa Langsung Normal?
Meski kabar damai disambut gembira, para pakar energi kompak mengingatkan bahwa pemulihan penuh jalur Selat Hormuz tidak akan terjadi dalam semalam.
Pertama, ranjau laut yang sempat ditebar selama konflik perlu dibersihkan tuntas, proses yang diperkirakan memakan waktu beberapa pekan hingga enam bulan. Kedua, antrean panjang kapal tanker yang sempat tertahan menanti giliran melintas turut memperlambat pemulihan arus pelayaran. Ditambah lagi, produksi minyak serta lalu lintas kapal juga harus kembali bertahap ke level sebelum perang, sebuah proses yang menurut sejumlah analis militer bisa berlangsung sekitar satu hingga satu setengah bulan sebelum benar-benar lancar.
Faktanya, perkembangan terbaru menunjukkan proses tersebut memang berjalan bertahap. Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengumumkan bahwa lalu lintas maritim di Selat Hormuz akan dibuka dan ditingkatkan secara berangsur menyusul berlakunya Nota Kesepahaman Islamabad.
Selama 60 hari pertama, Iran tidak akan mengenakan biaya apa pun kepada kapal yang melintas, dengan seluruh biaya operasional ditanggung pemerintah Iran. Sebagai gambaran kondisi terkini, otoritas keamanan maritim internasional pun menurunkan status ancaman di koridor minyak global tersebut dari level kritis menjadi moderat, meski para pelaut tetap diminta waspada selama proses pembersihan ranjau berlangsung.
Apa Selanjutnya?
Ke depan, perhatian dunia akan tertuju pada proses negosiasi lanjutan selama 60 hari yang mencakup isu sensitif seperti pencabutan sanksi, akses dana Iran yang dibekukan di luar negeri, hingga keringanan ekonomi jangka panjang. Namun demikian, langkah ini membutuhkan persetujuan Kongres AS, sehingga kemungkinan masih akan menghadapi tarik-ulur politik di dalam negeri Amerika sendiri.
Pada akhirnya, kesepakatan damai AS-Iran ini menjadi titik balik penting bagi stabilitas geopolitik Timur Tengah sekaligus pasar energi global. Meski harga minyak sudah melandai, perjalanan menuju normalisasi penuh pasokan minyak dunia masih panjang, dan publik diimbau untuk tidak berharap perubahan drastis dalam waktu singkat.
Penulis: Mita Putri








