Trauma Perang Gaza: Ribuan Anak Kehilangan Kemampuan Bicara Akibat Kekerasan Ekstrem

Suarakitanews – Konflik berkepanjangan di Gaza meninggalkan luka yang tak kasat mata — ribuan anak mendadak bungkam. Apa yang sebenarnya terjadi pada otak mereka, dan bagaimana secercah harapan pemulihan datang dari sebuah gelembung sabun?

Ketika Perang Membungkam Suara Anak-Anak

Bayangkan seorang anak usia lima tahun yang tadinya ceria, lincah, dan banyak bicara — tiba-tiba kehilangan suaranya. Bukan karena sakit tenggorokan, bukan pula karena pilihan. Melainkan karena otaknya tidak lagi sanggup menanggung beban trauma yang luar biasa berat.

Inilah kenyataan yang dialami oleh Adam, dan ribuan anak lainnya di Gaza.

Sejak konflik bersenjata melanda Gaza pada Oktober 2023, dampaknya tidak hanya terasa secara fisik. Trauma psikologis berat telah menyebabkan sejumlah anak berhenti berbicara — sebuah respons neurologis ekstrem terhadap tekanan yang melampaui batas kemampuan sistem saraf anak.

“Tidak ada satupun anak di Gaza yang tidak trauma. Ada lebih dari satu juta anak yang telah menderita trauma parah.”
— Katrin Glatz Brubakk, Psikoterapis Anak, MSF Norwegia

Mengapa Anak-Anak Gaza Mendadak Bisu?

Menurut Katrin Glatz Brubakk, psikoterapis anak asal Norwegia yang telah menjalankan dua misi kemanusiaan ke Gaza bersama Médecins Sans Frontières (MSF) pada 2024 dan 2025, kebisuan anak-anak Gaza bukanlah sebuah pilihan sadar.

“Ini adalah respons neurologis terhadap stres dan trauma ekstrem,” jelasnya.

Secara sederhana, ketika tekanan yang dialami anak melampaui kapasitas sistem sarafnya, otak akan memilih untuk menarik diri sepenuhnya — termasuk menghentikan kemampuan berbicara — sebagai mekanisme perlindungan diri.

Beberapa anak merespons trauma dengan cara yang lebih tampak: gelisah, susah tidur, atau menangis keras. Namun, ada anak-anak yang justru memilih diam total. Seolah sistem saraf mereka berkata, “Saya tidak kuat lagi.”

Katrin sendiri mengaku telah menemukan puluhan kasus serupa selama bertugas di Gaza. Sementara itu, dokter-dokter setempat melaporkan bahwa angka kasus seperti ini terus meningkat.

Skala Tragedi yang Tak Terbayangkan

Untuk memahami mengapa trauma ini begitu dalam, penting untuk melihat gambaran besar situasi di Gaza.

Berdasarkan data UNICEF, sejak Oktober 2023:

  • Lebih dari 20.000 anak dilaporkan tewas akibat serangan
  • Lebih dari 41.000 anak mengalami luka-luka
  • Lebih dari 1 juta anak diperkirakan mengalami trauma psikologis parah

Secara keseluruhan, menurut Kementerian Kesehatan Gaza, serangan-serangan yang terjadi telah menewaskan lebih dari 71.000 orang — mayoritas warga sipil — dan melukai lebih dari 172.000 lainnya.

Sementara itu, meskipun gencatan senjata telah diumumkan, kekerasan dilaporkan masih terus berlanjut. Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Volker Turk, menyebut bahwa serangan-serangan masih terjadi secara rutin hingga April lalu.

Kisah Adam: Ketika Seorang Anak Menyaksikan Ayahnya Pergi

Di antara sekian banyak kisah yang dibawa Katrin dari Gaza, kisah Adam adalah salah satu yang paling memilukan.

Sebelum perang, Adam adalah bocah lima tahun yang penuh semangat. Ia suka bermain di luar, tertawa, dan berbicara tanpa henti.

Suatu hari, Adam dan ayahnya pergi mengunjungi kakek dan neneknya di daerah yang dianggap aman — tidak ada perintah evakuasi di sana. Namun tanpa peringatan, sebuah proyektil jatuh sangat dekat dan melukai keduanya dengan parah.

Di lantai ruang gawat darurat yang penuh sesak, Adam menyaksikan ayahnya mengembuskan napas terakhir tepat di sampingnya. Adam sendiri kehilangan satu kaki akibat serangan tersebut.

Sejak saat itu, Adam berhenti berbicara.

Dampak Jangka Panjang: Perang Mengubah Otak Anak Secara Fisik

Salah satu temuan paling mengkhawatirkan yang disampaikan Katrin adalah bagaimana trauma ekstrem secara harfiah mengubah struktur fisik otak anak.
Berdasarkan penelitian ilmiah yang ia rujuk:

  • Amigdala — bagian otak yang mengelola emosi intens — ditemukan membesar pada anak-anak yang mengalami trauma berat. Ini bisa diukur secara klinis.
  • Korteks prefrontal — bagian otak yang berkembang paling akhir dan bertanggung jawab atas perencanaan, penyelesaian masalah, interaksi sosial, serta regulasi emosi — ditemukan lebih tipis dan memiliki lebih sedikit koneksi saraf.

Kondisi ini dikenal sebagai “cedera kognitif akibat perang” — luka yang tidak terlihat, namun berpotensi menyertai anak-anak ini sepanjang hidup mereka.

“Jika seorang anak tetap berada dalam keadaan seperti Adam tanpa perkembangan dan dibiarkan dalam situasi stres ekstrem untuk waktu yang lama, dia akan memiliki masalah di kemudian hari. Dia tidak akan pernah pulih,” tegas Katrin.

Gelembung Sabun dan Secercah Harapan

Di tengah keterbatasan yang ada, Katrin dan timnya tidak tinggal diam. Mereka menemukan cara-cara sederhana namun efektif untuk membantu anak-anak kembali berinteraksi dengan dunia.

Salah satu metode yang ia gunakan adalah bermain gelembung sabun — yang ia sebut “gelembung harapan”.

Mengapa gelembung sabun begitu efektif?

Pertama, gelembung sabun menarik perhatian anak secara alami karena keindahannya yang memukau. Kedua — dan ini kuncinya — untuk menghasilkan gelembung yang besar, seseorang harus meniup dengan pelan dan dalam.

“Bernapas dengan pelan dan dalam secara langsung menenangkan sistem saraf,” jelas Katrin.

Secara ilmiah, apa yang dilakukan Katrin adalah memberi amigdala — sistem alarm otak — kesempatan untuk tenang. Hasilnya, korteks prefrontal mendapat ruang untuk berkembang dan berfungsi lebih baik.

Bagi Mona (6 tahun), seorang anak perempuan korban luka bakar parah yang hampir sekujur tubuhnya dibalut perban, terapi bermain ini membuka jalan komunikasi yang tak terduga. Melalui permainan membangun rumah boneka dari kardus, untuk pertama kalinya Mona mampu bercerita tentang apa yang telah terjadi padanya — dan betapa ia mengkhawatirkan kondisi saudari perempuannya.

“Penderitaan dalam Diam”: Ancaman yang Sering Terabaikan

Katrin juga memperkenalkan konsep penting yang ia sebut “penderitaan dalam diam” (silent suffering).

Dalam kondisi kacau seperti Gaza — di mana tangisan, teriakan, dan kepanikan terjadi di mana-mana — anak-anak yang diam justru sangat mudah terlewatkan.

“Seorang anak yang diam, yang tidak mengekspresikan penderitaannya, adalah anak yang menderita dan membutuhkan perhatian yang sama besarnya,” tegasnya.

Jika kondisi ini dibiarkan terlalu lama, anak-anak dapat masuk ke dalam kondisi yang disebut sindrom pengunduran diri (resignation syndrome) — di mana mereka tidak hanya berhenti berbicara, tetapi juga berhenti makan, berhenti membuka mata, dan nyaris tidak merespons sentuhan sama sekali. Dalam kasus ekstrem, kondisi ini bisa berlangsung selama bertahun-tahun.

Gaza: Trauma yang Tak Tertandingi

Dengan pengalaman 12 tahun bekerja di zona konflik di Kongo, Lebanon, Mesir, Turki, dan bahkan di atas kapal penyelamat di Laut Mediterania, Katrin menyatakan dengan tegas:

“Tingkat trauma dan kehancuran di Gaza tidak sebanding dengan apapun yang pernah saya saksikan.”

Perbedaan mendasarnya adalah bahwa di Gaza, tidak ada tempat aman yang bisa dituju. Tidak ada jalan keluar. Seluruh wilayah hancur, sistem kesehatan diserang, dan seluruh populasi terdampak tanpa terkecuali.

Apa yang Dibutuhkan Anak-Anak Gaza Sekarang?

Katrin menutup pesannya dengan sebuah seruan yang sederhana namun mendesak:

“Satu-satunya hal yang benar dan yang dibutuhkan oleh anak-anak di Gaza sekarang adalah perdamaian sejati. Mengembalikan kehidupan mereka. Memberi mereka tempat yang aman untuk tinggal dan sekolah untuk belajar.”

“Jika tidak, kita akan menghancurkan seluruh generasi anak-anak.”

Sementara akses internasional ke Gaza masih dibatasi sejak 1 Januari — termasuk bagi staf MSF seperti Katrin — sebanyak 1.600 karyawan lokal MSF dilaporkan masih terus berjuang di lapangan.

Namun pada akhirnya, pemulihan sejati anak-anak Gaza tidak bisa hanya datang dari terapi dan gelembung sabun. Ia harus dimulai dari terhentinya suara senjata.

Penulis: Mita Putri
Editor: Redaksi Suara Kita News



Mita Putri

Artikel Terkait

Dari Sakit Kepala Biasa Menjadi Vonis Glioblastoma: Kisah Josh Smith dan Pentingnya Mendengarkan Tubuh

Wales, Suarakitanews — Sakit kepala sering kali dianggap remeh oleh banyak orang. Biasanya, kita langsung menyalahkan stres, kurang tidur, atau dehidrasi. Namun, bagi Josh Smith (34), seorang operator mesin dari…

Lanjutkan Membaca

// // //
Jongkok Dalam: Gerakan Sederhana yang Bisa Jadi Penentu Mobilitas Anda di Usia Tua

Suarakitanews — Coba perhatikan video orang-orang lanjut usia di pasar tradisional yang masih sanggup berjongkok penuh sambil memilah sayuran selama belasan menit. Bandingkan dengan kebanyakan pekerja kantoran yang baru beberapa…

Lanjutkan Membaca

// // //

Rekomendasi

Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

  • October 12, 2026
Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

  • October 10, 2026
Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

  • October 9, 2026
Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

  • October 8, 2026
Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

  • October 8, 2026
Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri

  • October 8, 2026
Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri