Suarakitanews – Serangan udara Israel kembali mengguncang Kota Gaza dan menewaskan Mohammed Odeh, Komandan Sayap Militer Hamas, beserta istri dan putranya. Insiden ini memperpanjang daftar panjang konflik yang terus membara meskipun gencatan senjata resmi telah diberlakukan.
Siapa Mohammed Odeh?
Mohammed Odeh bukan nama sembarangan dalam struktur militer Hamas. Pemerintah Israel menyebutnya sebagai salah satu perancang utama serangan brutal 7 Oktober 2023 — tragedi yang menewaskan sekitar 1.200 warga Israel dan menyebabkan 251 orang disandera.
Odeh diangkat menggantikan pendahulunya, Izz ad-Din al-Haddad, yang juga tewas dalam serangan udara Israel pada awal Mei lalu. Pergantian dua komandan dalam waktu singkat ini menunjukkan tekanan besar yang dihadapi kepemimpinan militer Hamas di lapangan.
Kronologi Serangan: Rudal Hantam Pasar Ramai Jelang Idul Adha
Serangan terjadi pada Selasa, 26 Mei, ketika kawasan pusat Kota Gaza tengah dipadati warga yang berbelanja menjelang Hari Raya Idul Adha.
Setidaknya lima rudal menghantam Gedung al-Kayali di pusat kota hampir secara bersamaan dari berbagai arah. Tiga lantai teratas bangunan hancur parah, merenggut nyawa sedikitnya tiga warga sipil dan melukai puluhan lainnya.
Seorang saksi mata menuturkan, ia mendengar suara helikopter yang melayang rendah sebelum ledakan terjadi. Tim ambulans dan pertahanan sipil segera bergegas ke lokasi, namun kesulitan menjangkau bagian atas bangunan akibat besarnya kerusakan struktural.
Operasi Intelijen Berbulan-bulan di Balik Serangan
Militer Israel (IDF) dan badan intelijen Shin Bet mengonfirmasi bahwa serangan ini bukan tindakan spontan. Dalam pernyataan resminya, mereka menegaskan bahwa pergerakan Odeh dan jaringan pembantunya telah dipantau selama beberapa bulan melalui operasi intelijen yang terkoordinasi.
“Sebagai bagian dari operasi gabungan IDF dan Shin Bet, beberapa bangunan di jantung kota Gaza yang menjadi tempat persembunyian Odeh diserang setelah berbulan-bulan pengawasan intelijen,” demikian pernyataan resmi IDF.
Selain mengincar Odeh, militer Israel juga menyerang apartemen milik anggota Hamas lain yang disebut terlibat dalam serangan 7 Oktober dan merupakan bagian dari lingkaran kepercayaan Odeh.
Gencatan Senjata Berlaku, Kekerasan Tetap Terjadi
Fakta ini menjadi salah satu ironi terbesar konflik Gaza: gencatan senjata telah disepakati sejak Oktober, namun kekerasan hampir tidak pernah berhenti setiap harinya.
Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan lebih dari 900 warga tewas akibat serangan Israel selama periode gencatan senjata berjalan. Hamas berulang kali menuduh Israel melanggar ketentuan perjanjian, sementara Israel berdalih memiliki hak untuk menargetkan anggota Hamas secara individual.
Selain itu, tahap lanjutan rencana perdamaian yang digagas AS belum juga diimplementasikan. Kemajuan terhenti sejak Amerika Serikat dan Israel memulai konfrontasi militer dengan Iran pada Februari lalu.
Situasi Kemanusiaan Makin Memburuk
Sejak Israel melancarkan operasi militer besar-besaran sebagai respons atas serangan 7 Oktober, lebih dari 72.800 warga Gaza dilaporkan tewas, menurut data Kementerian Kesehatan Gaza — angka yang diakui keandalannya oleh PBB.
Dari 2,1 juta penduduk Gaza, sebagian besar telah kehilangan tempat tinggal akibat penghancuran infrastruktur yang masif. Rekonstruksi dan demiliterisasi yang dijanjikan dalam rencana perdamaian tampak semakin jauh dari kenyataan.
Sementara itu, Hamas justru tampak mengaktifkan kembali kepolisian dan mempertegas otoritasnya di lapangan — langkah yang bertentangan langsung dengan syarat pelucutan senjata yang diminta Israel dan AS.
Netanyahu: “Israel Akan Menjangkau Mereka Semua”
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan sikap negaranya tanpa kompromi. Dalam pernyataan resmi usai terbunuhnya Odeh, ia berkata:
“Israel akan terus memburu siapa pun yang terlibat dalam pembantaian 7 Oktober. Cepat atau lambat, Israel akan menjangkau mereka semua.”
Menteri Pertahanan Israel Israel Katz turut menambahkan bahwa Israel berkomitmen mencegah Hamas memerintah Gaza “baik secara sipil maupun militer”, seraya menyebut adanya rencana emigrasi sukarela bagi warga Gaza yang akan dilaksanakan pada waktu yang dinilai tepat.
Konflik Meluas hingga Lebanon
Eskalasi tidak hanya terjadi di Gaza. Serangan terbaru Israel di Lebanon menewaskan 31 orang, menyusul pernyataan Netanyahu yang berjanji meningkatkan tekanan militer terhadap kelompok Hizbullah. Militer Israel mengklaim serangan tersebut menargetkan infrastruktur dan personel Hizbullah.
Kesimpulan
Terbunuhnya Mohammed Odeh menandai babak baru dalam perang panjang Israel-Hamas yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir. Di satu sisi, Israel terus mengklaim keberhasilan operasi intelijen dan militernya. Di sisi lain, rakyat Gaza terus menanggung beban kemanusiaan yang semakin berat.
Pertanyaan besarnya tetap sama: kapan perdamaian sejati — bukan sekadar gencatan senjata di atas kertas — akan benar-benar terwujud di bumi Gaza?
Penulis: Mita Putri








