88 Hari Tanpa Internet, Warga Iran Menangis Bahagia Saat Koneksi Kembali Pulih

Suarakitanews – Setelah melewati pemadaman internet terpanjang dalam sejarah modern, jutaan warga Iran akhirnya kembali terhubung ke dunia digital. Namun, ancaman sensor yang semakin ketat masih membayangi kebebasan berinternet mereka.

Bayangkan selama 88 hari penuh tidak bisa mengirim pesan kepada orang tua, tidak bisa membuka toko online, bahkan tidak bisa membuktikan kepada saudara di luar negeri bahwa Anda masih hidup dan selamat.

Itulah yang dialami jutaan warga Iran sejak pemerintah memutus akses internet pada 28 Februari, menyusul pecahnya perang antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Namun kini, pemadaman internet Iran yang bersejarah itu akhirnya berakhir.

Seperti “Tahanan yang Dibebaskan”

Tidak ada kata yang lebih tepat untuk menggambarkan perasaan warga Iran saat koneksi internet kembali pulih, selain lega yang luar biasa.

“Setelah 88 hari, rasanya persis seperti seorang tahanan yang dibebaskan setelah tiga bulan dipenjara dan untuk pertama kalinya melihat langit,” ungkap seorang warga Iran kepada media internasional.

Meskipun terdengar berlebihan, perasaan itu nyata dan dirasakan oleh jutaan orang. Saat mengklik sebuah situs dan melihatnya terbuka, banyak warga mengaku hampir menangis karena bahagia.

“Ketika saya menyadari bisa kembali mengirim pesan melalui Telegram, WhatsApp, dan platform lainnya, rasanya tidak terlukiskan. Bahkan sekarang, saat saya berbicara, saya hampir menangis karena bahagia,” katanya.

Selain itu, notifikasi pertama di ponsel yang meminta pembaruan puluhan aplikasi pun menjadi momen emosional tersendiri, sebuah tanda bahwa kehidupan digital mereka kembali berdenyut.

Pemadaman Internet Terpanjang dalam Sejarah Modern

Menurut kelompok pemantau internet NetBlocks, pemadaman yang berlangsung selama 88 hari ini tercatat sebagai pemadaman internet nasional terpanjang dalam sejarah modern.

Pemerintah Iran memutus akses internet tak lama setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer terhadap negara itu. Para pejabat beralasan langkah tersebut bertujuan untuk mencegah pengawasan asing, spionase, dan serangan siber terhadap infrastruktur nasional.

Akibatnya, seluruh lini kehidupan masyarakat terdampak, mulai dari komunikasi pribadi, bisnis online, hingga akses terhadap informasi dan layanan digital.

Sinyal Pemulihan: Langkah Pemerintah

Oleh karena itu, ketika Wakil Presiden Pertama Iran Mohammad Reza Aref mengumumkan pemulihan internet pada Selasa lalu melalui platform X, kabar tersebut disambut dengan sukacita.

Dalam unggahannya, Aref menyatakan bahwa pemerintah telah mengambil “langkah awal” menuju akses internet yang “bebas dan terkelola”, sesuai arahan Presiden Masoud Pezeshkian.

Dengan demikian, pemulihan ini dikaitkan dengan kebutuhan masyarakat sipil, pengembangan ilmu pengetahuan, dan pertumbuhan ekonomi berbasis teknologi.

Dampak Nyata bagi Bisnis dan Kehidupan Sehari-hari

Tidak hanya soal komunikasi, pemadaman internet Iran selama hampir tiga bulan ini juga menghancurkan roda perekonomian digital.

Pantea, mahasiswi Ilmu Komputer, mengaku terpaksa menghentikan toko online-nya selama pemadaman berlangsung.

“Saya sangat senang internet akan dipulihkan karena bisnis bisa kembali berjalan normal. Saya sempat memiliki toko daring dan menjual produk. Ini jelas akan menguntungkan kami,” ujarnya kepada Associated Press.

Sementara itu, Rastin, mahasiswa ilmu komputer lainnya, menilai berakhirnya pemadaman ini sebagai hal yang sepenuhnya positif, meskipun ia tetap menyoroti dampak jangka panjang terhadap dunia usaha.

“Pasar daring sangat ingin kembali ke kondisi semula. Bisnis sangat bergantung pada internet, dan setiap kali ada pembatasan, hal itu membuat kehidupan mereka semakin sulit,” tegasnya.

Lonjakan VPN 6.000 Persen: Tanda Warga Tak Mau Dibatasi Lagi

Menariknya, begitu koneksi internet mulai dipulihkan, Proton VPN langsung mencatat lonjakan pendaftaran pengguna baru dari Iran hingga 6.000 persen.

Angka yang luar biasa ini bukan tanpa alasan. NetBlocks melaporkan adanya tanda-tanda “penyaringan yang lebih luas” dibandingkan sebelum pemadaman. Artinya, meskipun internet kembali terbuka, sensor justru semakin diperketat.

“Layanan masih mengalami penyaringan ketat, dengan pembatasan baru pada layanan pesan dan toko aplikasi dibandingkan sebelum Januari. Seruan untuk internet yang bebas dan terbuka melampaui perbedaan politik dan seharusnya didengar,” demikian pernyataan resmi NetBlocks.

Di sisi lain, sejumlah warga melaporkan bahwa koneksi internet rumah mereka sudah aktif, namun layanan data kartu SIM di ponsel masih belum berfungsi. Tidak sedikit pula yang mengaku belum mendapat layanan sama sekali.

Keluarga yang Terpisah oleh Keheningan Digital

Tidak hanya warga di dalam Iran yang merasakan dampaknya. Bagi diaspora Iran di seluruh dunia, 88 hari ini adalah periode penantian yang menyiksa.

Shaparak Khorsandi, komedian dan penulis Inggris kelahiran Iran, mengungkapkan perasaannya kepada BBC Radio 4.

“Rasanya ini pengalaman yang sangat familiar bagi orang Iran — terputus, diliputi kekhawatiran, panik, dan merasa tidak berdaya,” katanya dengan suara emosional.

Bahkan, pamannya yang berhasil mengirimkan pesan dari dalam Iran sempat mengucapkan selamat ulang tahun untuk dirinya sendiri atas nama seluruh keluarga, karena tahu mereka tidak bisa menghubunginya.

“Hari ini ulang tahun saya, dan saya tahu kalian tidak bisa menghubungi saya untuk mengucapkan selamat, jadi saya mengirim pesan ini untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada diri saya sendiri atas nama kalian,” tulis sang paman.

Khorsandi menyebut humor paman tersebut sebagai sesuatu yang “sangat penuh kasih sayang”, sebagai upaya agar keluarga tidak terlalu larut dalam kekhawatiran.

Sensor Bukan Hal Baru, tapi Kali Ini Lebih Mengkhawatirkan

Perlu dicatat bahwa pemadaman internet bukan hal baru bagi Iran. Akses internet juga pernah diputus saat protes anti-pemerintah pada Januari lalu, yang kemudian diberangus oleh aparat keamanan.

Namun, kondisi kali ini jauh lebih mengkhawatirkan. Dengan catatan 88 hari dan sistem sensor yang lebih canggih dari sebelumnya, banyak pihak mempertanyakan seberapa “bebas” internet yang dijanjikan pemerintah.

Seorang remaja berusia 17 tahun di Teheran bahkan meluapkan kelelahan hidupnya secara terang-terangan: “Kami benar-benar lelah. Dengan harga yang tinggi, dengan sanksi, dengan internet yang lemah. Semuanya juga memburuk. Saya tidak bisa hidup seperti ini lagi.”

Harapan di Tengah Ketidakpastian

Meskipun jalan menuju internet yang benar-benar bebas di Iran masih panjang, kembalinya koneksi ini tetap menjadi simbol harapan, baik bagi warga di dalam negeri maupun jutaan diaspora Iran di seluruh penjuru dunia.

Sebagaimana diungkapkan Khorsandi, hal pertama yang ingin ia sampaikan kepada keluarganya di Iran hanyalah satu kalimat sederhana namun penuh makna:

“Kami mencintai mereka, dan berharap tidak ada keheningan apapun yang membuat mereka berhenti merasakan hal itu.”

Sumber: Middle East Daily, Associated Press, BBC Radio 4, NetBlocks
Penulis: Mita Putri

Mita Putri

Artikel Terkait

Krisis Migran Ceuta dan Melilla: Pengerahan Militer Spanyol di Tengah Sengketa Kedaulatan Berabad-Abad

Suarakitanews – Tegangan diplomatik kembali memanas di Selat Gibraltar setelah Pemerintah Spanyol mengerahkan pasukan militer tambahan ke Ceuta, sebuah wilayah kantong Spanyol di Afrika Utara. Langkah drastis ini diambil sebagai…

Lanjutkan Membaca

// // //
Detik-Detik Mencekam Gempa Venezuela: Kisah Perempuan Berjam-jam Mencari Kabar Keluarganya di Caracas

Venezuela, Suarakitanews — Sebuah pesan suara singkat di WhatsApp menjadi awal dari berjam-jam kecemasan yang tak terlupakan. “Baru saja terjadi gempa yang sangat hebat, saat ini masih terasa gunangannya,” demikian…

Lanjutkan Membaca

// // //

Rekomendasi

Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

  • October 12, 2026
Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

  • October 10, 2026
Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

  • October 9, 2026
Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

  • October 8, 2026
Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

  • October 8, 2026
Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri

  • October 8, 2026
Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri