Suarakitanews – Rusia kembali menunjukkan kekuatan militernya setelah menggelar latihan nuklir strategis terbesar pada 19 Mei 2026. Latihan berskala besar ini dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan perang Rusia-Ukraina dan memicu kekhawatiran dunia terhadap potensi eskalasi konflik nuklir global.
Kementerian Pertahanan Rusia menyebut latihan militer bertajuk “Guntur” itu bertujuan untuk mempersiapkan penggunaan kekuatan nuklir dalam menghadapi ancaman agresif dari pihak luar.
Dalam latihan tersebut, Rusia melibatkan seluruh triade nuklirnya, yakni rudal balistik antarbenua (ICBM), kapal selam nuklir strategis, hingga pesawat pembom strategis.
Tidak hanya itu, Rusia juga mengoperasikan lebih dari 200 peluncur rudal, 140 pesawat tempur, 73 kapal perang, dan 13 kapal selam, termasuk delapan kapal selam rudal strategis yang siap tempur.
Latihan Nuklir Rusia Digelar Setelah Serangan Drone Ukraina
Latihan nuklir strategis Rusia berlangsung setelah serangan drone besar-besaran Ukraina ke wilayah Moskow.
Dua hari sebelum latihan dimulai, serangan drone dilaporkan menewaskan tiga warga di wilayah Moskow dan melukai sedikitnya 17 orang. Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, menyebut serangan tersebut sebagai “respons yang adil” atas serangan Rusia ke Ukraina.
Sementara itu, pemerintah Rusia tidak secara resmi mengaitkan latihan nuklir dengan serangan drone tersebut. Namun demikian, banyak analis militer menilai waktu pelaksanaan latihan menunjukkan pesan strategis Rusia kepada negara-negara Barat.
Belarus Kembali Jadi Pusat Manuver Nuklir Rusia
Menjelang latihan strategis utama, Rusia juga menggelar latihan senjata nuklir taktis di Belarus.
Sebelumnya, Rusia diketahui telah menempatkan hulu ledak nuklir taktis di Belarus sejak 2023. Oleh sebab itu, latihan di wilayah tersebut kembali memicu kekhawatiran NATO dan negara-negara Barat.
Kementerian Pertahanan Belarus mengatakan latihan itu bertujuan menguji kemampuan pasukan meluncurkan rudal dari lokasi yang tidak dipersiapkan sebelumnya.
Di sisi lain, NATO juga rutin mengadakan latihan udara dengan bom nuklir Amerika Serikat di sejumlah negara Eropa seperti Italia, Belgia, Jerman, Belanda, dan Turki.
Namun, aktivitas militer Rusia di Belarus dinilai lebih sensitif karena wilayah itu pernah menjadi jalur utama invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
Rusia Uji Rudal Nuklir Sarmat
Tidak hanya menggelar latihan militer, Rusia juga melakukan uji coba rudal balistik antarbenua terbaru bernama Sarmat pada 12 Mei 2026.
Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengklaim rudal Sarmat memiliki jangkauan lebih dari 35.000 kilometer dan mampu menyerang target melalui berbagai lintasan yang sulit dicegat sistem pertahanan musuh.
Rudal Sarmat disiapkan untuk menggantikan rudal lama R-36M Voevoda. Selain itu, Putin juga kembali menyinggung sejumlah proyek senjata nuklir modern Rusia seperti rudal Oreshnik, kendaraan bawah laut Poseidon, dan rudal jelajah Burevestnik.
Meski demikian, hingga kini belum ada bukti independen yang memastikan seluruh proyek tersebut telah berhasil diuji secara penuh.
Dunia Khawatir Ketegangan Rusia dan NATO Semakin Memanas
Latihan nuklir besar-besaran Rusia dinilai menjadi sinyal meningkatnya ketegangan antara Moskow dan NATO.
Apalagi, perang Rusia-Ukraina masih berlangsung dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Karena itu, banyak negara Barat kini meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan eskalasi konflik yang lebih luas.
Di tengah situasi global yang semakin tidak menentu, latihan nuklir Rusia menjadi pengingat bahwa ancaman perang berskala besar masih membayangi dunia internasional.
Penulis: Mita Putri








