Suarakitanews – Volodymyr Zelensky menyebut konflik di Ukraina sebagai salah satu awal dari era peperangan modern berbasis robot dan kecerdasan buatan (AI). Dalam beberapa tahun terakhir, medan perang Ukraina berubah drastis dengan meningkatnya penggunaan drone tempur, robot darat tanpa awak, hingga sistem persenjataan otomatis.
Perkembangan tersebut dinilai menjadi gambaran nyata bagaimana perang di masa depan akan berlangsung. Bahkan, sejumlah analis militer meyakini bahwa jumlah robot tempur suatu saat bisa melampaui tentara manusia di medan perang.
Ukraina Gunakan Robot dan Drone dalam Operasi Militer
Perusahaan teknologi militer Ukraina bernama UFORCE mengklaim telah terlibat dalam operasi militer besar yang menggunakan kombinasi drone udara, robot darat, dan sistem tanpa awak lainnya.
Menurut perusahaan tersebut, teknologi mereka sudah digunakan dalam lebih dari 150 ribu misi tempur sejak invasi besar-besaran Rusia pada 2022.
Selain itu, UFORCE disebut menjadi bagian penting dalam pengembangan sistem robotik militer modern.
Dalam sebuah video yang dirilis pada April lalu, Zelensky menampilkan berbagai teknologi senjata robotik terbaru Ukraina. Meski demikian, detail operasi militer tersebut masih dirahasiakan demi alasan keamanan.
Teknologi AI Militer Berkembang Sangat Cepat
Tidak hanya Ukraina, Rusia juga mulai menggunakan robot tempur untuk mengirim bahan peledak ke posisi lawan. Karena itu, perang Rusia-Ukraina kini dianggap sebagai laboratorium terbesar pengembangan teknologi militer modern.
Selain UFORCE, perusahaan teknologi pertahanan asal Amerika Serikat seperti Anduril Industries juga terus mengembangkan sistem persenjataan berbasis AI. Bahkan, perusahaan tersebut telah melakukan uji terbang jet tempur tanpa pilot.
Sementara itu, perusahaan besar seperti BAE Systems, Boeing, dan Lockheed Martin mulai menghadapi persaingan dari perusahaan teknologi militer generasi baru.
AI Diprediksi Mengubah Cara Perang Modern
Para analis menilai penggunaan AI dalam sistem persenjataan akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan. Bahkan, pemerintah Amerika Serikat secara terbuka mendorong militernya menjadi kekuatan tempur berbasis AI.
Pada Januari 2026, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan bahwa negaranya harus menjadi “kekuatan tempur yang mengutamakan AI”.
Selain Amerika Serikat, China juga dilaporkan mempercepat pengembangan sistem militer berbasis kecerdasan buatan. Akibatnya, persaingan teknologi militer global diperkirakan semakin intensif.
Menurut peneliti senior di Brookings Institution, Melanie Sisson, konflik Ukraina menunjukkan bagaimana kebutuhan perang mampu mempercepat inovasi teknologi secara ekstrem.
Muncul Kekhawatiran Etika dan Hak Asasi Manusia
Meski teknologi militer terus berkembang, sejumlah kelompok hak asasi manusia mengingatkan adanya risiko besar dari penggunaan AI dalam peperangan.
Amnesty International menilai bahwa keputusan hidup dan mati tidak seharusnya sepenuhnya diserahkan kepada mesin.
Di sisi lain, perusahaan pertahanan berpendapat bahwa manusia tetap menjadi pengambil keputusan utama dalam penggunaan kekuatan militer.
Teknologi AI, menurut mereka, hanya membantu mengurangi kesalahan dalam situasi perang yang kompleks dan berbahaya.
Perang Masa Depan Diprediksi Didominasi Robot
Pengamat pertahanan dari RAND Europe menyebut perang robot kemungkinan besar akan meluas ke pertempuran darat, udara, hingga laut.
Saat ini, drone Ukraina dan Rusia sudah saling menyerang secara otomatis di berbagai wilayah konflik. Oleh sebab itu, peperangan modern diperkirakan akan semakin bergantung pada robot, AI, dan sistem tanpa awak.
Konflik Ukraina pun kini dianggap sebagai gambaran awal tentang bagaimana perang masa depan akan berlangsung — lebih cepat, lebih canggih, dan semakin didominasi teknologi kecerdasan buatan.
Penulis: Mita Putri








