Suarakitanews, JAKARTA — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto bukan sekadar upaya pemenuhan gizi masyarakat. Lebih dari itu, program unggulan ini terbukti mampu menggerakkan roda perekonomian desa secara nyata, dengan perputaran uang mencapai Rp 10,8 miliar per desa setiap tahunnya.
Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Presiden Prabowo dalam acara peresmian 1.620 Koperasi Desa Merah Putih, Sabtu (16/05/2025), sebagaimana dikutip dari siaran resmi YouTube Sekretariat Presiden.
Perhitungan Sederhana di Balik Angka Rp 10,8 Miliar
Dalam paparannya, Prabowo merinci bagaimana angka Rp 10,8 miliar tersebut diperoleh. Setiap hari, program MBG mengalirkan dana untuk 3.000 porsi makan dengan nilai Rp 15.000 per porsi, sehingga total perputaran harian mencapai Rp 45 juta.
Karena program ini berjalan 20 hari per bulan (5 hari seminggu selama 4 minggu), total dana yang bergerak mencapai Rp 900 juta per bulan. Dikalikan 12 bulan, hasilnya adalah Rp 10,8 miliar per tahun yang beredar di satu desa.
“Dua belas kali Rp 900 juta, Rp 10,8 miliar,” tegas Prabowo dalam peresmian tersebut.
Lebih Besar dari Dana Desa
Salah satu poin penting yang digarisbawahi Presiden Prabowo adalah bahwa nilai MBG jauh melampaui dana desa konvensional. Selama ini, setiap desa hanya menerima sekitar Rp 1 miliar dari program dana desa untuk kebutuhan pembangunan.
Dengan hadirnya MBG, pemerintah pusat secara efektif menambah Rp 10 miliar yang langsung berputar di ekosistem ekonomi desa. Meski demikian, Prabowo mengakui bahwa pada tahap awal, pemerintah desa perlu terlebih dahulu menggunakan dana desa — sekitar Rp 500 juta — untuk membangun fasilitas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Investasi ini, menurutnya, akan kembali dalam waktu 6 tahun.
Efek Berganda bagi Petani, Peternak, dan UMKM Desa
Tidak hanya berdampak pada penerima manfaat langsung, program MBG juga menciptakan multiplier effect yang signifikan bagi para produsen lokal.
Dengan adanya permintaan bahan makanan dalam jumlah besar dan berkelanjutan setiap harinya, para pelaku usaha kecil di desa kini memiliki pasar yang pasti.
Prabowo mencontohkan berbagai kelompok masyarakat yang ikut merasakan manfaat nyata dari program ini:
- Peternak ikan lele — hasil budidaya terserap langsung
- Petani bawang merah — produk laku di pasar lokal
- Pengrajin tempe — permintaan meningkat stabil
- Penjual telur — omzet terjamin setiap hari
“Satu desa Rp 10,8 miliar beredar di situ, artinya pasarnya ada di desanya sendiri,” ujar Prabowo.
Dengan kata lain, desa tidak lagi sekadar menjadi konsumen, melainkan bertransformasi menjadi produsen aktif yang memiliki pasar lokal yang kuat dan berkelanjutan.
Sinergi MBG dan Koperasi Desa Merah Putih
Lebih jauh, efektivitas program MBG akan semakin diperkuat melalui sinergi dengan Koperasi Desa Merah Putih. Hingga saat ini, sebanyak 1.061 unit koperasi telah beroperasi di seluruh Indonesia.
Pemerintah menargetkan angka tersebut tumbuh menjadi 3.000 koperasi pada Agustus 2026, dan minimal 20.000 koperasi dalam jangka panjang.
Melalui koperasi ini, rantai distribusi bahan pangan untuk MBG dapat diperpendek, sehingga harga lebih efisien dan keuntungan lebih banyak mengalir langsung ke tangan petani dan pelaku usaha desa.
“MBG ditambah dengan Koperasi Desa Merah Putih ini akan membangkitkan ekonomi kita,” terang Prabowo.
Target Ambisius hingga 2027
Ke depan, Prabowo juga memaparkan sejumlah target pembangunan yang akan menjadi kelanjutan dari ekosistem ekonomi desa ini, antara lain:
- Agustus 2026: Minimal 20.000 koperasi desa berdiri dan beroperasi
- Desember 2026: 1.000 desa nelayan ditargetkan aktif
- 2027: Pembangunan ratusan sekolah baru dan sekolah rakyat di berbagai wilayah
Dengan demikian, program MBG tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari ekosistem pemberdayaan desa yang terintegrasi dan berkelanjutan.
Kesimpulan
Program Makan Bergizi Gratis membuktikan bahwa kebijakan sosial yang dirancang dengan baik mampu memberikan dampak ekonomi yang jauh lebih luas dari tujuan awalnya.
Dengan perputaran dana Rp 10,8 miliar per desa per tahun, MBG berpotensi menjadi katalis transformasi ekonomi pedesaan yang belum pernah ada sebelumnya di Indonesia.
Penulis: Mita Putri
Editor: Redaksi Suara Kita News








