Suara Kita News. Com. KARAWANG – Di sebuah bilik sempit di Dusun Sasak, Desa Amansari, waktu tidak berjalan maju; ia hanya berputar pada kecemasan yang sama. Ma Enju, seorang ibu tua berusia 68 tahun, kini hanya bisa bersahabat dengan suara derit kayu yang kian ringkih. Baginya, hujan bukan lagi berkah, melainkan ancaman yang bisa sewaktu-waktu merobohkan istana rapuhnya.
Rumah di RT 11/03 itu sudah kenyang akan janji. Berkali-kali petugas datang membawa buku catatan, berkali-kali pula lensa kamera membidik sudut-sudut dinding yang berlubang sebagai syarat administrasi program Rumah Layak Huni (Rulahu). Namun, pilu itu tetap di sana. Begitu kilat lampu kamera padam, harapan Ma Enju pun ikut redup.
”Rumah saya sudah didata, berkali-kali disurvei. Katanya mau dibantu,” tutur Ma Enju. Suaranya serak, matanya berkaca-kaca menatap plafon yang sudah melengkung. “Tapi sampai sekarang, batang hidung Pak Lurah pun tidak pernah terlihat. Saya seperti dibiarkan menunggu dalam ketidakpastian.”
Ironi paling menyayat justru muncul dari jarak yang begitu dekat. Ma Enju tidak tinggal di hutan belantara. Ia kabarnya hidup di “halaman belakang” seorang tokoh parlemen, anggota DPRD Karawang yang seharusnya menjadi penyambung lidahnya.
Masyarakat kini melemparkan tanya yang menghujam: Bagaimana bisa seorang wakil rakyat tertidur pulas di balik dinding yang kokoh, sementara hanya beberapa langkah dari rumahnya, seorang nenek tua harus terjaga setiap malam, takut jika atap rumahnya berubah menjadi nisan?
Apakah birokrasi telah menjadi labirin yang begitu dingin hingga mampu membekukan rasa empati para pemimpinnya?
Program Rulahu yang digadang-gadang sebagai jembatan kesejahteraan kini terasa seperti komoditas politik semata. Di atas kertas, ia adalah angka keberhasilan; namun di tanah Amansari, ia adalah luka yang menganga.

Administrasi seringkali dijadikan tameng untuk menutupi kelambanan yang tak beralasan.
Warga miskin seperti Ma Enju seolah hanya menjadi objek foto untuk melengkapi laporan, tanpa pernah mencicipi semen dan bata yang dijanjikan.
Keheningan dari Kepala Desa Hanapi di tengah jeritan warganya adalah potret krisis kepemimpinan lokal yang nyata.
Sebagai penyambung lidah mereka yang tak bersuara, kami mendesak Pemerintah Kabupaten Karawang untuk berhenti bersolek dengan laporan-laporan manis. Ma Enju tidak butuh statistik keberhasilan; ia butuh perlindungan dari terik dan hujan.
Audit independen terhadap penyaluran Rulahu bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Jangan biarkan kepercayaan rakyat hancur berkeping-keping, sama seperti kayu-kayu lapuk di rumah Ma Enju yang kini sedang menghitung detik untuk menyentuh tanah.
Karawang harus bangun. Sebelum doa-doa Ma Enju berubah menjadi duka yang tak lagi bisa diperbaiki.
Laporan : ( Red/Ahyar)






