Suarakitanews, Yahukimo – Duka mendalam menyelimuti Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, setelah seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) bernama Yemis Yohame tewas tertembak di Kota Dekai pada Selasa malam, 21 April 2026.
Peristiwa tragis tersebut terjadi hanya beberapa jam setelah kunjungan Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, ke Yahukimo. Hingga kini, kasus penembakan Yemis Yohame masih menyisakan tanda tanya besar dan memicu desakan masyarakat agar aparat segera mengungkap pelaku.
Selain itu, keluarga korban menegaskan bahwa Yemis bukan bagian dari kelompok bersenjata maupun aktivitas kriminal apa pun.
Kronologi Penembakan Yemis Yohame di Dekai
Berdasarkan keterangan saksi, Yemis Yohame diketahui sempat mengikuti kegiatan Gerakan Organisasi Wanita (GOW) di Lapangan Futsal Narema sebelum kembali ke rumahnya.
Setelah mandi dan berganti pakaian, korban kemudian keluar untuk mengakses internet di sebuah kios di Kota Dekai sekitar pukul 18.30 WIT.
Namun, suasana tenang mendadak berubah mencekam ketika suara tembakan terdengar dari arah jalan raya.
“Tiba-tiba ada bunyi tembakan,” ujar Yanto, salah satu saksi mata yang berada di lokasi kejadian.
Menurut saksi, Yemis sempat mengira headset yang digunakannya meledak. Akan tetapi, beberapa detik kemudian korban terjatuh ke belakang dengan darah mengalir dari tubuhnya.
Selanjutnya, pemilik kios langsung meminta pertolongan warga dan menghubungi ambulans dari Puskesmas Brasa yang berada tidak jauh dari lokasi kejadian.
Korban kemudian dilarikan ke RSUD Dekai untuk mendapatkan penanganan medis. Meski tenaga kesehatan telah berupaya menyelamatkan nyawanya selama hampir satu jam, Yemis Yohame akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada pukul 21.00 WIT akibat luka tembak.
Sosok Yemis Yohame di Mata Keluarga
Yemis Yohame dikenal sebagai pribadi yang tenang dan ramah. ASN di Dinas PUPR Kabupaten Yahukimo itu lahir di Erika, Distrik Anggruk, pada 14 April 1988.
Selama kurang lebih enam tahun mengabdi sebagai pegawai negeri sipil, Yemis disebut aktif bekerja dan tidak pernah terlibat masalah.
“Yemis Yohame anak yang terbaik, anak tidak tahu marah,” kata Orpa Yohame, tante korban.
Tak hanya itu, keluarga korban juga meminta aparat penegak hukum mengusut kasus tersebut secara serius dan transparan.
“Kami tetap berdoa supaya pelaku yang tembak anak saya bisa ditemukan, karena anak saya tidak bersalah,” ujarnya dengan penuh haru.
DPRK dan Tokoh Masyarakat Desak Pengusutan
Sehari setelah kejadian, keluarga korban bersama anggota DPRK Yahukimo, kepala distrik, serta tokoh adat mendatangi Polres Yahukimo untuk membuat laporan resmi.
Ketua Komisi B DPRK Yahukimo, Yafet Saram, meminta aparat kepolisian bekerja profesional dalam menangani kasus penembakan tersebut.
Selain itu, kalangan pemuda Yahukimo menilai kematian Yemis Yohame menjadi bagian dari rentetan kasus kekerasan yang terus berulang di wilayah Papua Pegunungan.
Ketua Solidaritas Pemuda Yahukimo, Otniel Sobolim, menyebut sebelumnya terdapat kasus kematian Tobias Silak dan Viktor Deyal yang juga memicu kemarahan masyarakat.
Karena itu, ia meminta masyarakat tidak terburu-buru mempercayai satu versi informasi sebelum proses penyelidikan selesai dilakukan.
TPNPB OPM Bantah Terlibat
Di sisi lain, Panglima TPNPB Kodap XVI Yahukimo, Elkius Kobak, bersama Komandan Operasi Kopitua Heluka membantah keterlibatan kelompoknya dalam penembakan Yemis Yohame.
Dalam pernyataan video yang beredar, mereka menyebut informasi yang menuding TPNPB sebagai pelaku adalah hoaks.
“Kami mengatakan bahwa pembunuhan ini bukan dilakukan TPNPB,” kata Kopitua Heluka.
Sebaliknya, mereka justru menuding aparat keamanan sebagai pihak yang bertanggung jawab atas insiden tersebut.
Meski demikian, hingga beberapa hari setelah kejadian, Polres Yahukimo belum memberikan keterangan resmi terkait hasil olah TKP maupun pemeriksaan saksi.
Duka Mendalam di Yahukimo
Jenazah Yemis Yohame dimakamkan di Kota Dekai pada 23 April 2026. Prosesi pemakaman dipenuhi suasana haru dari keluarga, kerabat, hingga masyarakat setempat.
Sementara itu, masyarakat Yahukimo berharap kasus penembakan ASN Papua tersebut dapat diusut secara adil dan transparan agar tidak kembali memicu trauma serta konflik berkepanjangan di Papua Pegunungan.
Penulis: Mita Putri






