Suarakitanews – Selat Hormuz yang selama ini menjadi urat nadi perdagangan global kini menjadi titik krisis. Ketika konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memanas pada akhir Februari, dampaknya ternyata merambat jauh hingga ke sawah-sawah Asia Tenggara.
Pupuk Langka, Petani Terpaksa Menyerah
Awalnya, masalah ini terasa sederhana: pupuk menghilang dari pasaran. Namun, kenyataannya jauh lebih kompleks.
Di Thailand, seorang petani bernama Suchart Piamsomboon memilih tidak menanam padi musim ini. Selain karena kelangkaan pupuk, harga juga melonjak drastis hingga hampir dua kali lipat.
Akibatnya, banyak petani mulai berpikir ulang. Mereka menghadapi dilema: tetap menanam dengan risiko rugi, atau berhenti demi bertahan hidup.
Lebih lanjut, kondisi ini tidak hanya terjadi di Thailand. Dari Delta Mekong hingga pedesaan di Asia Tenggara lainnya, situasinya serupa: pupuk langka, biaya produksi naik, dan harapan panen menurun.
Penutupan Selat Hormuz Jadi Pemicu Utama
Masalah utama bermula ketika Selat Hormuz praktis tertutup akibat konflik.
Padahal, sekitar sepertiga perdagangan pupuk dunia melewati jalur ini.
Akibatnya, harga urea—pupuk nitrogen paling penting—melonjak lebih dari 40% dalam waktu singkat.
Tidak berhenti di situ, dunia kemudian bergantung pada China sebagai pemasok utama. Namun, keputusan Beijing justru memperburuk keadaan.
China Tutup Ekspor, Krisis Semakin Dalam
Pada Maret, China membatasi ekspor pupuk untuk menjaga pasokan domestik.
Sebagai akibatnya, negara-negara Asia Tenggara yang sangat bergantung pada China langsung terpukul.
- Vietnam mendapatkan lebih dari 50% pupuknya dari China
- Filipina bergantung hingga 75%
- Thailand juga bergantung pada impor dari China dan Teluk
Dengan demikian, ketika dua jalur pasokan utama terputus secara bersamaan, sistem pangan regional mulai goyah.
Rantai Ketergantungan yang Rapuh
Situasi ini menunjukkan satu hal penting: rantai pasok pangan Asia sangat rapuh.
Sebagai contoh:
- Filipina bergantung pada beras dari Vietnam
- Vietnam bergantung pada pupuk dari China
Jika satu mata rantai terputus, maka seluruh sistem bisa runtuh.
Oleh karena itu, krisis ini bukan sekadar masalah pertanian, melainkan ancaman serius bagi ketahanan pangan kawasan.
Dampak Nyata Baru Akan Terasa
Meski demikian, dampaknya tidak langsung terlihat di pasar saat ini.
Namun demikian, para ahli memperingatkan bahwa krisis sebenarnya akan muncul pada akhir tahun, ketika hasil panen menurun drastis atau bahkan gagal total.
Menurut World Food Programme, konflik ini berpotensi mendorong 45 juta orang tambahan ke dalam kelaparan akut pada 2026.
Selain itu, kawasan Asia Pasifik diprediksi mengalami peningkatan kerawanan pangan hingga 24%.
Ancaman Nyata di Depan Mata
Singkatnya, perang yang terjadi ribuan kilometer dari Asia Tenggara kini berdampak langsung pada meja makan jutaan orang.
Pada akhirnya, jika krisis pupuk ini terus berlanjut, maka “lumbung padi Asia” bukan hanya terancam—tetapi bisa benar-benar mengering.
Penulis: Mita Putri








