Suarakitanews – Indonesia, raksasa energi terbarukan yang belum sepenuhnya bangkit, di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap krisis iklim, Indonesia justru berada di persimpangan penting. Kurang dari dua minggu lagi, forum global Transition Away from Fossil Fuels (TAFF) akan digelar di Kolombia. Namun, hingga kini Indonesia belum mengonfirmasi kehadirannya.
Padahal, jika berbicara soal potensi, Indonesia bukan pemain kecil. Sebaliknya, Indonesia adalah salah satu negara dengan sumber energi terbarukan terbesar di dunia.
Potensi Energi Terbarukan Indonesia Capai 3.687 GW
Berdasarkan data Kementerian ESDM, potensi energi terbarukan Indonesia mencapai 3.687 GW pada tahun 2025. Angka ini menunjukkan peluang besar untuk keluar dari ketergantungan energi fosil.
Namun demikian, kapasitas terpasang saat ini masih jauh dari optimal. Hingga tahun 2023, realisasinya baru mencakup:
- 6.784,2 MW tenaga air
- 573,8 MW tenaga surya
- 154,3 MW tenaga angin
Artinya, meskipun potensinya besar, pemanfaatannya masih tertinggal.
Contoh Nyata: Energi Terbarukan Sudah Berjalan
Meski belum maksimal, Indonesia sebenarnya sudah memiliki berbagai proyek energi bersih yang terbukti berhasil.
Sebagai contoh:
- PLTS Cirata di Jawa Barat mampu menerangi sekitar 50.000 rumah
- PLTB Sidrap di Sulawesi Selatan melayani hingga 90.000 pengguna listrik
- PLTA Saguling di Jawa Barat menghasilkan 2.156 GWh per tahun
Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk meragukan kemampuan Indonesia dalam mengembangkan energi terbarukan.
RUPTL “Paling Hijau”, Tapi Perlu Percepatan
Selanjutnya, pemerintah telah merancang RUPTL 2025–2034 yang disebut sebagai rencana paling hijau. Dalam dokumen tersebut, ditargetkan:
- 17,1 GW tenaga surya
- 11,7 GW tenaga air
- 7,2 GW tenaga angin
Namun, tantangan utamanya terletak pada waktu implementasi. Jika pembangunan justru difokuskan di akhir periode, maka percepatan transisi energi bisa terhambat.
Di sisi lain, ambisi membangun 100 GW PLTS dalam dua tahun membutuhkan komitmen yang jauh lebih serius dari pemerintah, khususnya Kementerian ESDM.
Dukungan Dana JETP: Peluang yang Tak Boleh Terlewat
Lebih jauh lagi, Indonesia sebenarnya sudah memiliki dukungan internasional melalui skema Just Energy Transition Partnership (JETP).
Kesepakatan yang lahir dari G20 Bali ini menyediakan pendanaan sebesar US$ 20 miliar (sekitar Rp 300 triliun) dalam bentuk pinjaman lunak dan hibah.
Dengan adanya JETP, Indonesia memiliki modal kuat untuk mempercepat transisi energi. Meski demikian, transparansi dan implementasi tetap menjadi kunci utama.
Kesadaran Publik Meningkat, Momentum Semakin Kuat
Menariknya, dukungan masyarakat terhadap transisi energi juga terus meningkat. Survei Ipsos Global (2024) menunjukkan bahwa 82% responden menyadari pentingnya energi bersih.
Selain itu, generasi muda—terutama Gen Z—sudah memahami bahwa cuaca ekstrem berkaitan erat dengan krisis iklim.
Dengan kata lain, pemerintah tidak berjalan sendiri. Ada dukungan sosial yang kuat untuk mendorong perubahan.
TAFF: Momentum yang Tidak Boleh Dilewatkan
Akhirnya, pertanyaannya sederhana: apakah Indonesia akan mengambil peran, atau hanya menjadi penonton?
Konferensi TAFF di Kolombia bukan sekadar forum biasa. Ini adalah panggung global untuk menunjukkan komitmen nyata dalam meninggalkan energi fosil.
Jika Indonesia hadir dengan strategi yang jelas, bukan tidak mungkin Indonesia bisa menjadi pemimpin transisi energi di kawasan, bahkan dunia.
Kesimpulan
Singkatnya, Indonesia memiliki semua yang dibutuhkan:
- Potensi energi melimpah
- Proyek yang sudah berjalan
- Dukungan pendanaan global
- Kesadaran publik yang tinggi
Namun tanpa langkah nyata dan keberanian mengambil posisi di forum global, semua itu bisa menjadi peluang yang terlewat. Saatnya Indonesia tidak hanya punya potensi, tapi juga aksi.








