Suarakitanews – Kenapa kita ikut-ikutan borong barang saat Panik? Pernah nggak sih, awalnya kamu cuma ingin beli sabun ke supermarket, tetapi pulangnya malah bawa banyak barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan? Nah, kondisi ini sering terjadi saat fenomena panic buying muncul.
Apalagi, ketika kamu melihat orang lain memborong barang, diskon besar, atau tulisan “stok terbatas”, tanpa sadar kamu ikut membeli. Lalu, sebenarnya apa yang terjadi?
Apa Itu Panic Buying?
Secara sederhana, ini merupakan perilaku membeli barang dalam jumlah besar karena rasa takut akan kelangkaan. Biasanya, hal ini terjadi saat situasi tidak pasti, seperti krisis ekonomi, pandemi, atau isu kelangkaan barang.
Dengan kata lain, kamu bukan sekadar membeli barang, tetapi sedang mencari rasa aman.
Panic Buying vs Impulsive Buying: Apa Bedanya?
Meskipun terlihat mirip, panic buying dan impulsive buying memiliki perbedaan.
Kegiatan memborong barang ini terjadi karena rasa takut kehabisan dalam situasi tidak pasti. Sedangkan, impulsive buying terjadi karena dorongan spontan tanpa perencanaan.
Namun demikian, keduanya saling berkaitan. Artinya, ketika kamu panik, kamu juga lebih mudah membeli secara impulsif.
Kenapa Kita Mudah Ikut Panic Buying?
Ada beberapa faktor psikologis yang membuat seseorang mudah terjebak panic buying. Berikut penjelasannya:
- Social Proof (Pengaruh Orang Lain)
Pertama, otak kita cenderung mengikuti apa yang dilakukan banyak orang. Jadi, ketika melihat orang lain memborong, kamu menganggap itu hal yang benar. - FOMO (Fear of Missing Out)
Selain itu, rasa takut ketinggalan membuat kamu berpikir, “Bagaimana kalau nanti kehabisan?” Akibatnya, kamu memilih membeli sekarang daripada menyesal nanti. - Efek Domino
Selanjutnya, kepanikan satu orang bisa menyebar ke orang lain. Dengan demikian, hal tersebut juga bisa terjadi secara massal dalam waktu singkat.
Apakah Panic Buying Hanya Soal Panik?
Ternyata tidak. Menurut penelitian, hal ini juga merupakan cara seseorang untuk merasa lebih tenang dan memiliki kontrol.
Misalnya, ketika situasi terasa tidak pasti, memiliki stok barang bisa memberikan rasa aman. Oleh karena itu, perilaku ini sebenarnya adalah respon alami manusia.
Dampak Panic Buying yang Perlu Diwaspadai
Di sisi lain, hal ini juga memiliki dampak negatif, seperti:
- Kelangkaan barang di pasaran
- Harga menjadi tidak stabil
- Orang lain yang lebih membutuhkan tidak kebagian
Karena itu, penting untuk mengontrol perilaku ini.
Cara Menghindari Panic Buying
Agar tidak terjebak, kamu bisa melakukan beberapa langkah berikut:
- Validasi Perasaan
Pertama-tama, sadari bahwa rasa cemas itu wajar. Namun, jangan langsung bertindak impulsif. - Buat Daftar Belanja
Selanjutnya, tulis kebutuhan prioritas sebelum pergi ke toko. Dengan begitu, kamu lebih terkontrol. - Kurangi Konsumsi Berita Negatif
Selain itu, batasi waktu melihat berita yang memicu kecemasan atau kepanikan. - Beli Secukupnya
Terakhir, ingat bahwa kebutuhan orang lain juga penting. Jadi, belilah sesuai kebutuhan saja.
Singkatnya, ini bukan sekadar perilaku boros, tetapi respon psikologis terhadap rasa takut dan ketidakpastian. Namun demikian, jika tidak dikendalikan, hal ini bisa merugikan diri sendiri dan orang lain.
Oleh sebab itu, penting untuk tetap tenang, berpikir rasional, dan berbelanja dengan bijak.
Pernah nggak kamu ikut panic buying? Barang apa yang paling “nggak kepakai” yang pernah kamu beli?








