Coercive Control: Ketika “Aku Sayang Kamu” Berubah Jadi Penjara

Suarakitanews — Awalnya terasa seperti perhatian. Tapi lama-lama, kamu merasa sesak. Itulah wajah asli coercive control dalam hubungan — kekerasan yang datang diam-diam, bersembunyi di balik kata “aku cuma khawatir.”

Perhatian atau Kontrol? Kenali Bedanya

Banyak orang tidak menyadari bahwa mereka sedang berada dalam hubungan yang tidak sehat. Pasalnya, tanda pacar posesif sering kali muncul secara perlahan dan terasa seperti bentuk kasih sayang.

Pertanyaan seperti “Kamu di mana?”, “Itu chat dari siapa?”, atau “Boleh jaga jarak sama dia?” mungkin terdengar wajar di awal. Namun, apabila pertanyaan-pertanyaan itu berubah menjadi aturan, larangan, dan ancaman — itu bukan lagi sayang. Itu adalah kontrol.

Selain itu, tanda-tanda lain yang perlu diwaspadai antara lain:

  • Kamu mulai kehilangan teman-teman karena pasangan melarang atau menciptakan drama setiap kali kamu bertemu mereka
  • Kamu merasa harus minta izin untuk hal-hal kecil sekalipun
  • Kamu takut membuat pasangan marah dan terus berusaha menghindari konflik
  • Kamu mulai merasa kesepian meskipun sedang berpacaran

Apa Itu Coercive Control?

Dalam psikologi, pola perilaku seperti ini dikenal sebagai coercive control — sebuah bentuk kekerasan non-fisik yang dilakukan secara terus-menerus dengan tujuan mengisolasi, merendahkan, dan merampas kebebasan korban (Lohmann et al., 2024).

Oleh karena itu, penting untuk memahami bahwa coercive control bukan sekadar “posesif biasa.” Ini adalah kekerasan psikologis yang berdampak serius.

Beberapa studi menemukan bahwa korban coercive control berisiko mengalami:

  • Pandangan negatif terhadap diri sendiri
  • Gejala depresi dan kecemasan kronis
  • Trauma atau gejala PTSD
  • Pemikiran untuk menyakiti diri sendiri
    (Choudhury et al., 2025; Lohmann et al., 2024)

Dengan kata lain, hubungan yang seharusnya menjadi sumber kebahagiaan justru perlahan-lahan menghancurkan kesehatan mentalmu.

Kamu Boleh Mencintainya, Tapi Jangan Lupakan Dirimu

Kamu mungkin masih mencintai pasanganmu. Dan itu sepenuhnya manusiawi. Namun, yang terpenting adalah: bagaimana kamu memperlakukan dirimu sendiri?

Jika kamu baru menyadari tanda-tanda ini, langkah pertama yang bisa kamu lakukan adalah berbicara jujur kepada pasanganmu — tentang apa yang kamu rasakan dan perubahan seperti apa yang kamu butuhkan untuk membangun hubungan sehat.

Namun, apabila pasanganmu mengabaikan atau menyepelekan perasaanmu, ketahuilah: itu bukan hubungan yang aman untukmu.

Cara Keluar dari Hubungan dengan Coercive Control

Meninggalkan hubungan seperti ini memang tidak mudah. Akan tetapi, kamu berhak melindungi dirimu. Berikut langkah-langkah yang bisa dimulai:

  1. Dokumentasikan Bukti

    Simpan screenshot ancaman, rekaman percakapan, foto luka, atau catatan kejadian di tempat yang tidak bisa diakses pasanganmu. Ini penting apabila kamu membutuhkan perlindungan hukum ke depannya.
  2. Buka Diri ke Orang Terdekat

    Selanjutnya, mulailah bercerita kepada keluarga, sahabat, atau siapa pun yang kamu percaya. Isolasi adalah senjata utama pelaku coercive control — maka membangun kembali koneksi sosial adalah langkah pemulihan yang krusial.
  3. Cari Bantuan Profesional

    Pada akhirnya, jangan ragu untuk berbicara dengan psikolog atau terapis. Mereka dapat membantumu memproses pengalaman ini dan merencanakan langkah selanjutnya dengan lebih aman.

Ini Bukan Cinta — Ini Coercive Control

Pasangan yang benar-benar mencintaimu tidak akan membuatmu merasa takut, terkekang, atau kehilangan jati diri. Sebagai penutup, ingatlah selalu:

Hubungan yang sehat memberimu ruang untuk tumbuh — bukan tembok yang mengurungmu.

Jika kamu atau orang di sekitarmu mengalami situasi ini, jangan tunggu sampai terlambat. Cari bantuan sekarang.

Penulis: Mita Putri | Editor: Redaksi Suara Kita
Referensi: Lohmann et al. (2024); Choudhury et al. (2025)

Mita Putri

Artikel Terkait

Blind Spot Adalah: Cara Mengenal Diri Lewat Johari Window dan Feedback Orang Lain

Suarakitanews – Pernahkah seseorang mengatakan sesuatu tentang dirimu, lalu kamu terdiam karena tidak menyadarinya sama sekali? Jika pernah, artinya kamu baru saja bertemu dengan blind spot milikmu sendiri. Blind spot…

Lanjutkan Membaca

// // //
Laki-Laki Boleh Menangis: Mengekspresikan Emosi Bukan Tanda Lemah

Suarakitanews – Pernahkah kamu menahan tangis hanya karena takut dianggap lemah? Jika iya, kamu tidak sendirian. Banyak laki-laki mengalami hal yang sama — dan ini bukan sesuatu yang harus terus…

Lanjutkan Membaca

// // //

Rekomendasi

Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

  • October 12, 2026
Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

  • October 10, 2026
Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

  • October 9, 2026
Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

  • October 8, 2026
Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

  • October 8, 2026
Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri

  • October 8, 2026
Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri