Suarakitanews – Duka mendalam menyelimuti keluarga prajurit TNI yang gugur saat menjalankan misi perdamaian di Lebanon Selatan. Namun di balik tragedi ini, muncul satu pengakuan yang mengejutkan sekaligus menyayat hati.
Seorang ayah justru mengaku lebih takut saat anaknya bertugas di Papua dibandingkan ketika dikirim ke Lebanon.
Lebanon yang Dianggap Aman, Berakhir Tragis
Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar menjadi salah satu prajurit yang gugur akibat ledakan saat menjalankan tugas bersama pasukan perdamaian PBB.
Insiden tersebut terjadi ketika konvoi kendaraan TNI melintas di wilayah rawan di Lebanon Selatan.
Selain Zulmi, Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan juga meninggal dunia dalam ledakan yang diduga berasal dari alat peledak rakitan (IED). Bahkan sebelumnya, satu prajurit lain, Praka Farizal Rhomadhon, juga lebih dulu gugur dalam insiden terpisah.
Namun demikian, yang paling mengguncang bukan hanya tragedinya—melainkan cerita di baliknya.
“Saya Lebih Was-was Saat di Papua”
Iskandarudin, ayah dari Zulmi, mengungkapkan bahwa dirinya tidak terlalu khawatir ketika anaknya berangkat ke Lebanon.
Sebaliknya, rasa cemas justru muncul ketika Zulmi ditugaskan ke Papua.
Hal ini karena, menurutnya, situasi di Papua mempertemukan prajurit dengan konflik langsung di lapangan. Sementara itu, misi di Lebanon dianggap sebagai tugas perdamaian.
Namun ironisnya, justru di tanah yang dianggap lebih “aman”, nyawa anaknya harus berakhir.
Perbedaan Risiko: Papua vs Lebanon
Di satu sisi, Papua dikenal sebagai wilayah dengan potensi konflik bersenjata, terutama dengan kelompok separatis seperti TPNPB. Oleh karena itu, prajurit yang bertugas di sana sering berada dalam situasi kontak langsung.
Sementara itu, di sisi lain, Lebanon Selatan merupakan wilayah misi perdamaian di bawah PBB melalui UNIFIL. Pasukan Indonesia bertugas menjaga stabilitas dan memantau perbatasan antara Lebanon dan Israel.
Akan tetapi, konflik antara Israel dan Hizbullah yang terus memanas membuat wilayah tersebut tetap berbahaya.
Dengan kata lain, meskipun berlabel “misi damai”, risiko tetap tidak bisa dihindari.
Duka yang Dirasakan Keluarga
Tidak hanya keluarga Zulmi, kesedihan juga dirasakan keluarga Praka Farizal Rhomadhon di Yogyakarta.
Kabar duka datang secara tiba-tiba, padahal Farizal hampir menyelesaikan masa tugasnya. Ia meninggalkan seorang istri dan anak yang masih kecil.
Akibatnya, kehilangan tersebut terasa begitu dalam.
“Orang tua kehilangan anaknya, istri kehilangan suami, dan saya kehilangan adik,” ujar salah satu anggota keluarga dengan penuh haru.
Desakan Evaluasi Misi Perdamaian
Seiring dengan kejadian ini, muncul berbagai desakan kepada pemerintah untuk mengevaluasi keterlibatan Indonesia dalam misi perdamaian internasional.
Beberapa pihak bahkan meminta agar pasukan ditarik dari wilayah berbahaya seperti Lebanon Selatan.
Selain itu, rencana pengiriman pasukan Indonesia ke Gaza juga mulai dipertanyakan. Mengingat, situasi keamanan dinilai belum memberikan jaminan keselamatan.
Namun demikian, ada pula pandangan yang menegaskan bahwa misi perdamaian merupakan bagian dari komitmen Indonesia dalam menjaga stabilitas dunia.
Antara Pengabdian dan Risiko
Pada akhirnya, kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik seragam dan tugas negara, ada keluarga yang menunggu dengan harap dan cemas.
Di satu sisi, mereka bangga. Namun di sisi lain, mereka juga harus siap menghadapi kemungkinan terburuk.
Dan dalam kasus ini, kekhawatiran terbesar justru tidak terjadi di tempat yang paling ditakuti.
Penulis: Mita Putri








