“Kisah Haru TNI Gugur di Lebanon: Orang Tua Lebih Takut Saat Bertugas di Papua”

  • News
  • April 6, 2026

Suarakitanews – Duka mendalam menyelimuti keluarga prajurit TNI yang gugur saat menjalankan misi perdamaian di Lebanon Selatan. Namun di balik tragedi ini, muncul satu pengakuan yang mengejutkan sekaligus menyayat hati.

Seorang ayah justru mengaku lebih takut saat anaknya bertugas di Papua dibandingkan ketika dikirim ke Lebanon.

Lebanon yang Dianggap Aman, Berakhir Tragis

Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar menjadi salah satu prajurit yang gugur akibat ledakan saat menjalankan tugas bersama pasukan perdamaian PBB.

Insiden tersebut terjadi ketika konvoi kendaraan TNI melintas di wilayah rawan di Lebanon Selatan.

Selain Zulmi, Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan juga meninggal dunia dalam ledakan yang diduga berasal dari alat peledak rakitan (IED). Bahkan sebelumnya, satu prajurit lain, Praka Farizal Rhomadhon, juga lebih dulu gugur dalam insiden terpisah.

Namun demikian, yang paling mengguncang bukan hanya tragedinya—melainkan cerita di baliknya.

“Saya Lebih Was-was Saat di Papua”

Iskandarudin, ayah dari Zulmi, mengungkapkan bahwa dirinya tidak terlalu khawatir ketika anaknya berangkat ke Lebanon.

Sebaliknya, rasa cemas justru muncul ketika Zulmi ditugaskan ke Papua.

Hal ini karena, menurutnya, situasi di Papua mempertemukan prajurit dengan konflik langsung di lapangan. Sementara itu, misi di Lebanon dianggap sebagai tugas perdamaian.

Namun ironisnya, justru di tanah yang dianggap lebih “aman”, nyawa anaknya harus berakhir.

Perbedaan Risiko: Papua vs Lebanon

Di satu sisi, Papua dikenal sebagai wilayah dengan potensi konflik bersenjata, terutama dengan kelompok separatis seperti TPNPB. Oleh karena itu, prajurit yang bertugas di sana sering berada dalam situasi kontak langsung.

Sementara itu, di sisi lain, Lebanon Selatan merupakan wilayah misi perdamaian di bawah PBB melalui UNIFIL. Pasukan Indonesia bertugas menjaga stabilitas dan memantau perbatasan antara Lebanon dan Israel.

Akan tetapi, konflik antara Israel dan Hizbullah yang terus memanas membuat wilayah tersebut tetap berbahaya.

Dengan kata lain, meskipun berlabel “misi damai”, risiko tetap tidak bisa dihindari.

Duka yang Dirasakan Keluarga

Tidak hanya keluarga Zulmi, kesedihan juga dirasakan keluarga Praka Farizal Rhomadhon di Yogyakarta.

Kabar duka datang secara tiba-tiba, padahal Farizal hampir menyelesaikan masa tugasnya. Ia meninggalkan seorang istri dan anak yang masih kecil.
Akibatnya, kehilangan tersebut terasa begitu dalam.

“Orang tua kehilangan anaknya, istri kehilangan suami, dan saya kehilangan adik,” ujar salah satu anggota keluarga dengan penuh haru.

Desakan Evaluasi Misi Perdamaian

Seiring dengan kejadian ini, muncul berbagai desakan kepada pemerintah untuk mengevaluasi keterlibatan Indonesia dalam misi perdamaian internasional.

Beberapa pihak bahkan meminta agar pasukan ditarik dari wilayah berbahaya seperti Lebanon Selatan.

Selain itu, rencana pengiriman pasukan Indonesia ke Gaza juga mulai dipertanyakan. Mengingat, situasi keamanan dinilai belum memberikan jaminan keselamatan.

Namun demikian, ada pula pandangan yang menegaskan bahwa misi perdamaian merupakan bagian dari komitmen Indonesia dalam menjaga stabilitas dunia.

Antara Pengabdian dan Risiko

Pada akhirnya, kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik seragam dan tugas negara, ada keluarga yang menunggu dengan harap dan cemas.

Di satu sisi, mereka bangga. Namun di sisi lain, mereka juga harus siap menghadapi kemungkinan terburuk.

Dan dalam kasus ini, kekhawatiran terbesar justru tidak terjadi di tempat yang paling ditakuti.

Penulis: Mita Putri

Mita Putri

Artikel Terkait

Laporan Khusus: Jejak Sunyi Sang “Manusia Bayangan Republik” Zulkifli Lubis

Suara Kita News. Com, Dalam lembaran sejarah Indonesia, panggung utama kerap dikuasai oleh mereka yang bersuara lantang di atas mimbar. Namun, di balik layar sejarah kemerdekaan, terdapat figur-figur yang memilih…

Lanjutkan Membaca

// // //
  • News
  • July 1, 2026
  • //
Biaya Visa Jepang Resmi Naik 5 Kali Lipat per 1 Juli 2026, Turis Indonesia Wajib Tahu!

Suarakitanews — Kabar penting bagi Anda yang berencana liburan ke Negeri Sakura: biaya visa Jepang naik secara signifikan mulai 1 Juli 2026. Kenaikan ini bukan sekadar penyesuaian kecil, melainkan lonjakan…

Lanjutkan Membaca

// // //

Rekomendasi

Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

  • October 12, 2026
Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

  • October 10, 2026
Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

  • October 9, 2026
Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

  • October 8, 2026
Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

  • October 8, 2026
Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri

  • October 8, 2026
Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri