Suarakitanews – Dunia kembali dihadapkan pada ancaman krisis energi global setelah penutupan Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa situasi saat ini bisa berkembang menjadi krisis yang bahkan lebih parah dibandingkan krisis minyak pada 1970-an.
Namun, apakah benar sejarah akan terulang dengan dampak yang lebih besar?
Krisis Minyak 1970-an: Awal Guncangan Ekonomi Global
Pada tahun 1973, dunia mengalami salah satu krisis energi terbesar dalam sejarah akibat embargo minyak oleh negara-negara Arab selama Perang Yom Kippur.
Akibat kebijakan tersebut, harga minyak melonjak hingga empat kali lipat hanya dalam waktu singkat.
Selain itu, dampaknya sangat luas:
- Terjadi kelangkaan bahan bakar di berbagai negara
- Inflasi melonjak tajam
- Pengangguran meningkat drastis
- Banyak negara mengalami resesi ekonomi
Bahkan, krisis ini mengguncang stabilitas politik, termasuk jatuhnya pemerintahan di beberapa negara Barat.
Krisis Energi Saat Ini: Dipicu Konflik dan Gangguan Pasokan
Berbeda dengan 1970-an, krisis saat ini dipicu oleh konflik geopolitik modern yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Akibatnya, penutupan Selat Hormuz menghambat distribusi minyak, gas, dan komoditas penting lainnya ke seluruh dunia.
Di sisi lain, para ahli memperingatkan bahwa dampaknya tidak hanya terjadi saat ini, tetapi juga bisa berlanjut dalam jangka panjang.
Transisinya jelas, jika krisis 1970-an terjadi karena kebijakan embargo, maka krisis saat ini lebih kompleks karena melibatkan konflik militer dan gangguan infrastruktur energi.
Apakah Dunia Sekarang Lebih Siap?
Meski terlihat mengkhawatirkan, banyak pihak menilai dunia saat ini jauh lebih siap dibandingkan 50 tahun lalu.
Beberapa faktor yang membuat kondisi sekarang lebih tangguh antara lain:
- Pasar energi lebih terdiversifikasi
- Ketergantungan terhadap minyak mulai berkurang
- Banyak negara memiliki cadangan energi strategis
- Sistem ekonomi global lebih adaptif
Namun demikian, ada sisi lain yang perlu diwaspadai.
Dampak yang Lebih Berat bagi Negara Berkembang
Berbeda dari krisis 1970-an yang lebih banyak berdampak pada negara maju, krisis saat ini justru berisiko besar bagi negara berkembang.
Hal ini karena:
- Ketahanan ekonomi lebih lemah
- Cadangan energi terbatas
- Stabilitas fiskal dan moneter rentan
- Akibatnya, lonjakan harga energi bisa langsung berdampak pada:
- Kenaikan harga kebutuhan pokok
- Penurunan daya beli masyarakat
- Potensi meningkatnya angka kemiskinan
Lebih Buruk atau Lebih Terkendali?
Secara keseluruhan, krisis energi saat ini memang memiliki skala gangguan yang besar. Namun, dunia juga memiliki sistem yang lebih siap untuk meresponsnya.
Di satu sisi, pasar energi lebih kuat dan terdiversifikasi.
Namun di sisi lain, risiko geopolitik dan dampaknya terhadap negara berkembang membuat situasi tetap berbahaya.
Oleh karena itu, satu hal yang menjadi kunci adalah seberapa cepat konflik global ini bisa mereda.
Jika tidak segera berakhir, krisis ini bukan hanya soal energi—melainkan bisa berkembang menjadi krisis ekonomi global yang lebih luas.
Penulis: Mita Putri








