Suarakitanews – Kemampuan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk menahan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) diperkirakan hanya berlangsung dalam waktu singkat. Hal ini terjadi seiring lonjakan harga minyak dunia yang dipicu konflik geopolitik di Timur Tengah.
Sejumlah ekonom menilai bahwa pemerintah saat ini memang masih mampu menjaga harga BBM tetap stabil. Namun demikian, kemampuan tersebut diprediksi hanya bertahan dalam hitungan minggu hingga beberapa bulan ke depan.
Tekanan Global Jadi Faktor Utama
Lonjakan harga minyak mentah dunia yang berada di kisaran US$ 85 hingga US$ 109 per barel menjadi tekanan utama. Kondisi ini dipicu oleh konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Selain itu, potensi kebijakan Iran yang akan mengenakan tarif tinggi bagi kapal tanker di Selat Hormuz turut memperparah situasi. Padahal, jalur tersebut merupakan salah satu jalur distribusi energi terpenting di dunia.
Akibatnya, biaya logistik, asuransi, dan distribusi energi global dipastikan meningkat. Oleh karena itu, harga minyak dunia diperkirakan tidak akan kembali ke level normal dalam waktu dekat.
Pemerintah Pilih Tahan Harga Demi Stabilitas
Di tengah tekanan tersebut, pemerintah memutuskan untuk tidak menaikkan harga BBM, baik subsidi maupun non-subsidi.
Keputusan ini diambil sebagai upaya menjaga daya beli masyarakat serta stabilitas ekonomi nasional. Di sisi lain, langkah ini juga bertujuan meredam potensi gejolak sosial akibat kenaikan harga kebutuhan pokok.
Namun, kebijakan ini tentu memiliki konsekuensi besar terhadap APBN. Jika dipaksakan terus, pemerintah harus menambah utang atau memangkas anggaran di sektor lain.
Strategi Penghematan Mulai Diberlakukan
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah mulai menerapkan sejumlah kebijakan penghematan energi sejak 1 April 2026.
Beberapa di antaranya meliputi:
- Work From Home (WFH) bagi ASN setiap hari Jumat
- Pembatasan penggunaan kendaraan dinas
- Pengurangan perjalanan dinas hingga 50–70%
- Perluasan program car free day
- Pembatasan pembelian BBM bersubsidi
Dengan demikian, pemerintah menargetkan penghematan hingga ratusan triliun rupiah dari berbagai sektor.
APBN Hanya Kuat Jangka Pendek
Meski berbagai langkah efisiensi telah dilakukan, para analis menilai APBN hanya mampu menahan kenaikan harga BBM dalam jangka pendek.
Direktur kebijakan publik CELIOS menyebut bahwa ruang fiskal Indonesia masih cukup untuk sementara waktu. Akan tetapi, jika harga minyak tetap tinggi, beban subsidi akan semakin berat.
Bahkan, beberapa pihak memperkirakan penyesuaian harga BBM bisa terjadi dalam waktu kurang dari satu bulan.
Risiko Jika Harga BBM Tidak Naik
Menahan harga BBM terlalu lama juga berisiko terhadap kondisi keuangan negara dan BUMN energi.
Pertamina, misalnya, harus menanggung selisih harga jual dan harga keekonomian BBM non-subsidi. Jika kondisi ini berlanjut, potensi kerugian atau tekanan keuangan bisa meningkat.
Di samping itu, defisit APBN juga berpotensi melebar jika subsidi energi terus membengkak.
Kenaikan BBM Tinggal Menunggu Waktu?
Melihat kondisi global yang belum stabil, banyak ekonom sepakat bahwa kenaikan harga BBM hanya tinggal menunggu waktu.
Meski demikian, pemerintah kemungkinan akan menaikkan harga secara bertahap. Tujuannya, agar dampaknya terhadap masyarakat tidak terlalu drastis.
Selain itu, bantuan sosial juga diperkirakan akan disiapkan sebagai bantalan bagi kelompok masyarakat rentan.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, kebijakan menahan harga BBM saat ini hanyalah solusi jangka pendek. Sementara itu, tekanan global yang terus berlangsung membuat kenaikan harga BBM menjadi sulit dihindari.
Masyarakat diharapkan tetap tenang, namun juga bersiap menghadapi kemungkinan perubahan harga dalam waktu dekat.
Penulis: Mita Putri








