Suarakitanews – Konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel terus memanas setelah serangan udara gabungan yang diklaim Washington dan Tel Aviv berhasil melemahkan kemampuan militer Teheran.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bahkan menyatakan bahwa pertahanan udara, angkatan laut, hingga kepemimpinan militer Iran telah hancur akibat serangan tersebut.
Namun demikian, Iran tidak tinggal diam. Negara itu langsung merespons dengan meluncurkan serangan balasan ke Israel serta beberapa negara Timur Tengah yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat.
Lalu, bagaimana sebenarnya strategi Iran dalam menghadapi kekuatan militer AS dan Israel yang jauh lebih unggul?
Strategi Perang Atrisi: Menguras Lawan Secara Perlahan
Menurut pakar keamanan Timur Tengah dari Royal United Services Institute (RUSI), Dr. H. A. Hellyer, strategi militer Iran bukanlah untuk memenangkan perang secara konvensional.
Sebaliknya, Iran berusaha membuat konflik menjadi panjang, mahal, dan melelahkan bagi pihak lawan.
Dengan kata lain, Iran menerapkan strategi perang atrisi, yaitu taktik militer yang bertujuan menguras sumber daya lawan hingga melemahkan kemampuan tempur mereka secara bertahap.
Nicole Grajewski, peneliti dari Center for International Studies (CERI) Sciences Po Prancis, menjelaskan bahwa pendekatan ini juga memiliki dimensi psikologis.
Misalnya, pada konflik sebelumnya dengan Israel, Iran disebut lebih sering mengarahkan serangan ke wilayah sipil.
Tujuannya bukan semata-mata ketepatan militer, tetapi untuk menimbulkan tekanan mental dan rasa takut di masyarakat.
Rudal Balistik dan Drone Jadi Andalan Iran
Selain itu, kekuatan utama strategi militer Iran terletak pada rudal balistik dan drone tempur.
Israel memperkirakan bahwa pada awal 2026 Iran memiliki sekitar 2.500 rudal, mulai dari jarak pendek hingga menengah.
Beberapa sistem rudal yang digunakan Iran antara lain:
- Sejjil – rudal jarak menengah dengan jangkauan hingga 2.000 km
- Fattah – rudal hipersonik yang diklaim mampu melaju jauh lebih cepat dari kecepatan suara
Meskipun sebagian persediaan rudal dilaporkan rusak selama perang sebelumnya, para analis menilai Iran masih memiliki stok yang signifikan.
Hal ini karena banyak rudal disimpan di fasilitas bawah tanah yang sering disebut sebagai “kota rudal” oleh media Iran.
Drone Shahed: Senjata Murah yang Efektif
Di sisi lain, Iran juga mengandalkan drone Shahed sebagai bagian penting dari strategi militernya.
Diperkirakan Iran telah memproduksi puluhan ribu drone serang satu arah sebelum konflik terbaru ini terjadi.
Menariknya, teknologi drone tersebut bahkan telah digunakan oleh Rusia dalam perang di Ukraina.
Selain menimbulkan kerusakan langsung, drone ini memiliki tujuan strategis lainnya.
Yaitu memaksa sistem pertahanan udara lawan menghabiskan rudal pencegat yang sangat mahal.
Dengan cara ini, Iran dapat secara perlahan mengikis kemampuan pertahanan udara musuh.
Ancaman Selat Hormuz dan Dampak Ekonomi Global
Selain menyerang secara langsung, Iran juga memiliki kartu strategis lain yaitu Selat Hormuz.
Selat sempit ini merupakan jalur vital yang dilewati sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Jika Iran mengganggu atau bahkan menutup jalur tersebut, dampaknya bisa langsung terasa pada ekonomi global dan harga energi dunia.
Karena itulah, para analis menilai gangguan kecil sekalipun di wilayah ini dapat menciptakan krisis energi internasional.
Jaringan Sekutu Iran di Timur Tengah
Lebih jauh lagi, Iran tidak hanya mengandalkan kekuatan militernya sendiri.
Negara ini juga memiliki jaringan sekutu regional yang dikenal sebagai “Poros Perlawanan”, di antaranya:
- Houthi di Yaman
- kelompok milisi di Irak
- Hizbullah di Lebanon
- Hamas di Palestina
Meski demikian, beberapa kelompok tersebut telah mengalami tekanan besar sejak konflik Gaza pada Oktober 2023.
Konflik Berkepanjangan Jadi Taruhan Iran
Pada akhirnya, strategi utama Iran tampaknya adalah menciptakan konflik yang berkepanjangan.
Dengan cara ini, Iran berharap tekanan ekonomi, militer, dan politik akan membuat negara-negara di kawasan Timur Tengah menekan Amerika Serikat agar menghentikan perang.
Namun demikian, strategi ini juga memiliki risiko besar.
Jika negara-negara Teluk merasa terancam oleh serangan Iran, mereka justru bisa berbalik mendukung operasi militer AS dan Israel.
Karena itu, masa depan konflik ini masih sangat bergantung pada ketahanan internal Iran serta dinamika politik di kawasan Timur Tengah.
Penulis: Mita Putri








