Jejak Intervensi Militer Amerika Serikat di Timur Tengah: Irak, Afghanistan, Libya hingga Yaman Berujung Krisis Berkepanjangan

Suarakitanews – Intervensi militer Amerika Serikat di Timur Tengah dan Afrika Utara telah berlangsung selama beberapa dekade. Namun, alih-alih membawa stabilitas dan demokrasi, banyak negara justru terjebak dalam konflik berkepanjangan, krisis kemanusiaan, serta ketidakstabilan politik.

Terbaru, pada 28 Februari, Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi negara tersebut, Ali Khamenei.

Serangan itu disebut sebagai bagian dari strategi Presiden Donald Trump untuk menghentikan program nuklir Iran sekaligus mendorong perubahan rezim di Republik Islam tersebut.

Namun demikian, Trump bukanlah presiden pertama yang mengambil langkah intervensi di kawasan tersebut. Sebelumnya, sejumlah presiden Amerika Serikat seperti George H. W. Bush, George W. Bush, dan Barack Obama juga pernah melakukan operasi militer di berbagai negara Timur Tengah.

Akibatnya, sejumlah negara seperti Irak, Afghanistan, Libya, Suriah, dan Yaman mengalami konflik berkepanjangan yang dampaknya masih terasa hingga saat ini.

Irak: Dari Perang Teluk hingga Invasi 2003

Intervensi Amerika Serikat di Irak dimulai ketika pasukan Saddam Hussein menginvasi Kuwait pada tahun 1990. Sebagai respons, Washington memimpin koalisi internasional dalam operasi Desert Storm yang berhasil mengusir pasukan Irak dari Kuwait.

Meski demikian, konflik tidak berhenti di sana. Pada 2003, Amerika Serikat kembali menginvasi Irak dengan alasan bahwa rezim Saddam Hussein memiliki senjata pemusnah massal.

Akan tetapi, senjata tersebut tidak pernah ditemukan. Sementara itu, kejatuhan Saddam Hussein justru memicu konflik sektarian antara kelompok Sunni, Syiah, dan Kurdi.

Bahkan, kondisi tersebut membuka ruang bagi munculnya kelompok ekstremis seperti ISIS, yang pada 2014 sempat menguasai sebagian besar wilayah Irak dan Suriah.

Menurut laporan Iraq Body Count, sedikitnya 300.000 orang tewas akibat kekerasan langsung sejak invasi 2003.

Afghanistan: Perang Terpanjang Amerika Serikat

Setelah serangan 11 September 2001, Amerika Serikat melancarkan Operation Enduring Freedom untuk menggulingkan rezim Taliban di Afghanistan.

Awalnya, operasi tersebut berhasil menjatuhkan Taliban dalam waktu singkat. Namun, konflik kemudian berubah menjadi perang panjang selama hampir dua dekade.

Di sisi lain, Taliban berhasil kembali mengorganisasi kekuatan dan terus melawan pasukan Amerika Serikat serta NATO.

Akhirnya, setelah penarikan pasukan pada 2021, Taliban kembali merebut kekuasaan di Kabul.

Menurut Costs of War Project Universitas Brown, lebih dari 176.000 orang tewas akibat konflik yang terjadi selama intervensi militer tersebut.

Libya: Kejatuhan Gaddafi dan Kekosongan Kekuasaan

Pada 2011, Amerika Serikat bersama NATO melancarkan operasi militer di Libya di tengah gelombang Arab Spring.

Operasi tersebut bertujuan melindungi warga sipil dari tindakan represif rezim Muammar Gaddafi. Serangan udara NATO akhirnya membantu kelompok pemberontak merebut ibu kota Tripoli.

Namun, setelah Gaddafi tewas, Libya justru mengalami kekosongan kekuasaan. Berbagai kelompok milisi bersenjata kemudian saling berebut pengaruh di berbagai wilayah negara tersebut.

Akibatnya, hingga saat ini Libya masih terpecah secara politik dan menghadapi ketidakstabilan ekonomi yang serius.

Suriah: Konflik Multinasional yang Kompleks

Konflik Suriah dimulai pada 2011 ketika demonstrasi rakyat menuntut reformasi politik direspons secara keras oleh pemerintah Bashar al-Assad.

Seiring waktu, konflik tersebut berkembang menjadi perang saudara yang melibatkan berbagai aktor internasional, termasuk Rusia, Iran, Turki, dan Amerika Serikat.

Pada 2014, Amerika Serikat melakukan intervensi militer untuk memerangi kelompok ISIS yang menguasai sebagian wilayah Suriah dan Irak.

Meskipun ISIS berhasil dilemahkan, Suriah tetap berada dalam kondisi rapuh dan terpecah akibat perebutan kekuasaan di berbagai wilayah.

Yaman: Krisis Kemanusiaan Terbesar di Dunia

Sementara itu, konflik di Yaman menjadi salah satu krisis kemanusiaan terbesar di dunia.

Perang saudara yang dimulai pada 2014 mempertemukan pemberontak Houthi yang didukung Iran dengan koalisi negara Arab yang dipimpin Arab Saudi.

Dalam konflik ini, Amerika Serikat memberikan dukungan logistik, intelijen, serta penjualan senjata kepada koalisi tersebut.

Akibatnya, konflik berkepanjangan telah menewaskan lebih dari 377.000 orang, sebagian besar akibat kelaparan, penyakit, serta runtuhnya sistem layanan dasar.

Selain itu, hampir 80 persen penduduk Yaman kini bergantung pada bantuan kemanusiaan untuk bertahan hidup.

Intervensi yang Menuai Perdebatan

Sejumlah pakar menilai bahwa intervensi militer Amerika Serikat justru memperburuk ketidakstabilan kawasan.

Profesor Hubungan Global di Universitas Amerika Kairo, Ibrahim Awad, menyatakan bahwa konflik di Timur Tengah tidak dapat diselesaikan melalui intervensi asing semata.

Oleh karena itu, banyak pengamat menilai bahwa pendekatan militer sering kali tidak diikuti dengan strategi pembangunan politik yang jelas.

Akibatnya, sejumlah negara yang mengalami intervensi justru terjebak dalam konflik berkepanjangan dan ketidakstabilan hingga saat ini.

Penulis: Mita Putri

Mita Putri

Artikel Terkait

Krisis Migran Ceuta dan Melilla: Pengerahan Militer Spanyol di Tengah Sengketa Kedaulatan Berabad-Abad

Suarakitanews – Tegangan diplomatik kembali memanas di Selat Gibraltar setelah Pemerintah Spanyol mengerahkan pasukan militer tambahan ke Ceuta, sebuah wilayah kantong Spanyol di Afrika Utara. Langkah drastis ini diambil sebagai…

Lanjutkan Membaca

// // //
Detik-Detik Mencekam Gempa Venezuela: Kisah Perempuan Berjam-jam Mencari Kabar Keluarganya di Caracas

Venezuela, Suarakitanews — Sebuah pesan suara singkat di WhatsApp menjadi awal dari berjam-jam kecemasan yang tak terlupakan. “Baru saja terjadi gempa yang sangat hebat, saat ini masih terasa gunangannya,” demikian…

Lanjutkan Membaca

// // //

Rekomendasi

Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

  • October 12, 2026
Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

  • October 10, 2026
Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

  • October 9, 2026
Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

  • October 8, 2026
Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

  • October 8, 2026
Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri

  • October 8, 2026
Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri