Slow Reply dan Overthinking: Kenapa Pesan Tak Dibalas Bisa Bikin Cemas?

Suarakitanews – Pernahkah kamu merasa mood tiba-tiba berubah hanya karena pesan yang kamu kirim belum juga dibalas? Sekilas, hal ini memang terlihat sepele. Namun, bagi sebagian orang, slow response atau slow reply justru bisa memicu rasa cemas, overthinking, bahkan membuat suasana hati menjadi buruk.

Menariknya, yang sebenarnya memicu perasaan tersebut bukan hanya karena lamanya balasan. Sebaliknya, pikiran yang kita bangun di kepala sering kali menjadi penyebab utama munculnya emosi negatif.

Slow Response dan Reaksi Emosional

Dalam komunikasi digital, slow response sering dianggap sebagai hal yang biasa. Akan tetapi, bagi sebagian orang, situasi ini dapat menimbulkan berbagai reaksi emosional.

Misalnya saja, pikiran seperti berikut sering muncul:

  • “Dia berubah ya?”
  • “Aku salah apa?”
  • “Apa dia sudah tidak tertarik lagi?”

Akibatnya, pikiran mulai dipenuhi asumsi yang belum tentu benar. Semakin lama pesan tidak dibalas, semakin besar pula kemungkinan seseorang mengalami overthinking.

Mengapa Slow Reply Membuat Kita Terus Menunggu?

Fenomena ini sebenarnya dapat dijelaskan melalui teori intermittent reinforcement yang diperkenalkan oleh psikolog Amerika, B.F. Skinner (1904–1990).

Menurut teori ini, sesuatu yang datang tidak konsisten justru membuat seseorang semakin sulit berhenti berharap.

Sebagai contoh:
Jika seseorang selalu membalas chat dengan cepat, kamu cenderung merasa santai.

Namun, jika terkadang cepat dan terkadang lama, otak akan berpikir: “Siapa tahu sekarang dibalas cepat lagi.”

Karena pola ini tidak bisa diprediksi, maka seseorang justru semakin sering memikirkan pesan tersebut dan semakin terikat secara emosional.

Penelitian Psikologi Tentang Ketidakpastian dalam Hubungan

Penelitian yang dilakukan oleh Erin R. Whitchurch (2010) dari University of Virginia terhadap 47 mahasiswa menunjukkan hasil yang menarik.

Studi tersebut menemukan bahwa ketika seseorang tidak yakin apakah orang lain tertarik padanya atau tidak, ia justru akan lebih sering memikirkan orang tersebut.

Dengan kata lain, ketidakpastian membuat pikiran lebih fokus dan terus kembali pada orang yang sama.

Temuan ini kemudian diperkuat oleh penelitian lanjutan oleh Montoya dan rekan-rekannya (2015). Penelitian tersebut menunjukkan bahwa ketidakpastian dalam hubungan dapat meningkatkan ketertarikan karena memicu rasa penasaran.

Akibatnya, seseorang menjadi lebih sering memikirkan orang tersebut dibandingkan ketika semuanya terasa pasti.

Otak Tidak Menyukai Ketidakpastian

Selain itu, slow response juga menciptakan situasi yang ambigu. Sementara itu, otak manusia secara alami tidak menyukai hal yang tidak jelas.

Ketika terdapat ruang kosong dalam informasi, pikiran kita sering kali akan mengisinya sendiri. Sayangnya, yang muncul justru sering berupa asumsi negatif atau ketakutan yang paling kita khawatirkan.

Oleh karena itu, semakin lama pesan tidak dibalas, semakin besar kemungkinan pikiran mulai membuat cerita sendiri.

Mengapa Rasanya Seperti Ditolak?

Penelitian oleh psikolog Geraldine Downey (1996) menjelaskan fenomena ini melalui konsep rejection sensitivity.

Istilah ini merujuk pada kecenderungan seseorang untuk lebih sensitif terhadap kemungkinan penolakan dalam hubungan sosial.

Orang dengan tingkat rejection sensitivity yang tinggi biasanya:

  • Lebih mudah overthinking
  • Lebih peka terhadap perubahan kecil dalam hubungan
  • Lebih cepat merasa diabaikan

Kondisi ini sering muncul pada orang yang pernah mengalami pengalaman ditolak, diabaikan, atau sangat menghargai hubungan yang sedang dijalani.

Akibatnya, situasi yang sebenarnya belum tentu negatif dapat terasa seperti ancaman dalam hubungan.

Jadi, Apa Sebenarnya yang Membuat Mood Rusak?

Pada akhirnya, yang membuat mood menjadi buruk bukan semata-mata karena slow reply. Sebaliknya, penyebab utamanya sering kali adalah cerita yang muncul di dalam pikiran kita sendiri.

Perlahan-lahan muncul berbagai ketakutan, seperti:

  • takut tidak dianggap penting
  • takut mulai dijauhi
  • takut kehilangan tempat di hidup seseorang

Padahal, di balik semua itu, mungkin yang sebenarnya kita cari hanyalah rasa aman dalam hubungan.

Karena itu, memahami emosi dan ketakutan yang muncul bisa menjadi langkah pertama untuk membangun perasaan yang lebih tenang dan sehat dalam berkomunikasi.

Pada akhirnya, bukan situasinya yang selalu menyakitkan, tetapi makna yang kita berikan terhadap situasi tersebut.

Penulis: Mita Putri

Mita Putri

Artikel Terkait

Coercive Control: Ketika “Aku Sayang Kamu” Berubah Jadi Penjara

Suarakitanews — Awalnya terasa seperti perhatian. Tapi lama-lama, kamu merasa sesak. Itulah wajah asli coercive control dalam hubungan — kekerasan yang datang diam-diam, bersembunyi di balik kata “aku cuma khawatir.”…

Lanjutkan Membaca

// // //
Blind Spot Adalah: Cara Mengenal Diri Lewat Johari Window dan Feedback Orang Lain

Suarakitanews – Pernahkah seseorang mengatakan sesuatu tentang dirimu, lalu kamu terdiam karena tidak menyadarinya sama sekali? Jika pernah, artinya kamu baru saja bertemu dengan blind spot milikmu sendiri. Blind spot…

Lanjutkan Membaca

// // //

Rekomendasi

Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

  • October 12, 2026
Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

  • October 10, 2026
Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

  • October 9, 2026
Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

  • October 8, 2026
Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

  • October 8, 2026
Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri

  • October 8, 2026
Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri