Suarakitanews – Situasi di Iran semakin tidak menentu setelah rangkaian serangan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran memicu kepanikan di kalangan warga. Di ibu kota Teheran, banyak penduduk mulai menimbun bahan makanan dan kebutuhan pokok karena khawatir konflik akan berlangsung lama.
Selain suara ledakan yang masih terdengar di beberapa wilayah, warga juga menghadapi lonjakan harga bahan pokok yang semakin menekan kehidupan sehari-hari.
“Kami harus menyetok barang kebutuhan karena kami tidak tahu berapa lama serangan ini akan berlangsung,” kata Nasrin, seorang warga Teheran.
Ia menambahkan bahwa banyak keluarga kini mulai membeli makanan dalam jumlah besar karena takut terjadi kelangkaan pangan di Iran.
Harga Pangan di Iran Melonjak Tajam
Sementara itu, kenaikan harga kebutuhan pokok menjadi masalah baru bagi masyarakat. Bahkan sebelum konflik memanas, ekonomi Iran sudah tertekan akibat sanksi internasional.
Namun, setelah serangan terbaru dimulai, harga sejumlah bahan makanan melonjak lebih tinggi.
Pouyo, warga Teheran lainnya, mengatakan bahwa harga beras mengalami kenaikan cukup signifikan.
“Saya baru saja mengecek harga. Beras sekarang sekitar 625 toman, padahal sebelum perang sekitar 530 toman,” jelasnya.
Selain beras, kentang menjadi salah satu bahan makanan yang mengalami kenaikan harga paling tajam.
Sebagai langkah darurat, pemerintah Iran kemudian memutuskan untuk melarang ekspor produk pangan dan pertanian hingga waktu yang belum ditentukan. Kebijakan ini bertujuan untuk menjaga ketersediaan bahan makanan bagi masyarakat dalam negeri.
Internet Dibatasi dan Biaya Akses Meningkat
Di sisi lain, situasi juga semakin sulit karena pemerintah melakukan pembatasan akses internet. Kondisi ini membuat warga kesulitan memperoleh informasi terkini mengenai situasi perang.
Shayan, warga dari Kota Karaj yang berada sekitar satu jam dari Teheran, mengatakan harga paket internet meningkat drastis.
“Sekarang sangat sulit terhubung ke internet. Harga paket internet bahkan naik luar biasa,” ujarnya.
Bahkan layanan internet satelit seperti Starlink juga mengalami lonjakan harga yang signifikan.
Ledakan Terus Terjadi di Beberapa Wilayah Teheran
Selain tekanan ekonomi, warga juga hidup dalam ketakutan akibat ledakan yang masih terjadi di beberapa wilayah ibu kota.
Omid, pemuda berusia 26 tahun, mengatakan bahwa ia awalnya mengira serangan hanya akan menargetkan pejabat tinggi Iran.
Namun, kenyataannya ledakan masih terdengar di berbagai bagian kota.
“Awalnya saya pikir serangan hanya menargetkan orang tertentu. Tapi sampai sekarang kami masih mendengar banyak ledakan,” katanya.
Akibat situasi tersebut, banyak toko di Teheran terpaksa tutup dan jalanan terlihat sepi, meskipun kehadiran aparat keamanan semakin meningkat.
Sebagian Warga Memilih Bertahan di Teheran
Meski sebagian warga mulai meninggalkan kota, ada juga yang memilih tetap tinggal di rumah mereka.
Maryam, salah satu warga yang tinggal dekat lokasi serangan rudal, mengatakan malam sebelumnya sangat menegangkan.
“Serangan semalam sangat mengerikan. Rumah kami sampai bergetar,” tulisnya melalui pesan singkat.
Namun demikian, ia menyatakan tidak berencana meninggalkan kota.
“Jika kami tidak terbunuh, kami akan tetap di sini,” katanya.
Ratusan Korban Tewas dalam Konflik Iran
Sementara itu, Bulan Sabit Merah Iran melaporkan bahwa sekitar 787 orang telah tewas sejak serangan dimulai pada 28 Februari.
Di sisi lain, militer Israel menyatakan telah menyerang sejumlah target strategis, termasuk kantor kepresidenan Iran dan berbagai infrastruktur penting.
Sebagai balasan, Iran juga meluncurkan serangan rudal dan drone ke Israel, yang menargetkan beberapa fasilitas militer di Tel Aviv dan wilayah lainnya.
Konflik ini bahkan meluas ke kawasan Timur Tengah, dengan laporan serangan yang terjadi di negara-negara yang memiliki pangkalan militer Amerika Serikat seperti Qatar, Bahrain, Yordania, Uni Emirat Arab, dan Kuwait.
Ketegangan Timur Tengah Semakin Meningkat
Dengan meningkatnya serangan dari kedua belah pihak, banyak pengamat menilai konflik ini berpotensi memperluas ketegangan di Timur Tengah.
Sementara itu, warga sipil di Iran menjadi pihak yang paling terdampak. Selain menghadapi ancaman serangan, mereka juga harus berjuang menghadapi krisis ekonomi, kenaikan harga pangan, dan keterbatasan akses informasi.
Situasi ini membuat banyak warga hanya bisa berharap konflik segera berakhir.
Penulis: Mita Putri








