Aksi Kamisan ke-900: Kisah Sumarsih Mencari Keadilan atas Kematian Wawan Sejak Tragedi Semanggi

  • News
  • March 9, 2026

Suarakitanews – Aksi Kamisan ke-900: Perjuangan Sumarsih Menuntut Keadilan atas Kematian Wawan, pelaksanaan Aksi Kamisan kini telah mencapai angka ke-900. Selama lebih dari dua dekade, aksi ini menjadi simbol perjuangan keluarga korban pelanggaran HAM di Indonesia.

Salah satu sosok yang paling konsisten hadir adalah Sumarsih, ibu dari Bernardinus Realino Norma Irawan atau yang akrab dipanggil Wawan.

Sejak kematian putranya dalam Tragedi Semanggi 1998, Sumarsih tidak pernah berhenti mencari jawaban. Setiap Kamis, ia berdiri di depan Istana Negara Jakarta bersama para korban dan aktivis HAM lainnya. Tujuan mereka sederhana tetapi berat: meminta negara mengungkap kebenaran dan menegakkan keadilan.

Wawan, Mahasiswa yang Tewas oleh Peluru Tajam

Kematian Wawan terjadi pada 13 November 1998. Saat itu, Wawan yang merupakan mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya Jakarta sedang membantu korban demonstrasi. Namun, sebuah peluru tajam standar militer mengenai dadanya.

Menurut hasil autopsi dokter forensik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, peluru tersebut menembus jantung dan paru-paru Wawan. Akibatnya, ia meninggal seketika di halaman kampusnya.

Keesokan harinya, dalam misa arwah yang dipimpin oleh Uskup Agung Jakarta Kardinal Julius Darmaatmadja, peristiwa tersebut kembali ditegaskan sebagai penembakan terhadap mahasiswa yang sedang melakukan aksi kemanusiaan.

Latar Belakang Sumarsih: Dari Desa ke Jakarta

Sumarsih lahir di desa Rogomulyo, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Ia berasal dari keluarga petani sederhana yang menanamkan nilai pendidikan dan kerja keras sejak kecil.

Namun, setelah ayahnya meninggal, ia terpaksa menunda kuliah dan bekerja untuk membantu keluarga. Meski demikian, Sumarsih tidak menyerah. Ia pernah bekerja sebagai petugas program keluarga berencana, guru, hingga akhirnya diterima bekerja di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada tahun 1982.

Sementara itu, suaminya, Arief Priyadi, bekerja di lembaga penelitian Centre for Strategic and International Studies (CSIS). Keluarga kecil ini kemudian menetap di Jakarta dan membesarkan dua anak: Wawan dan Irma.

Kehidupan Keluarga yang Berubah Setelah 1998

Sebelum tragedi terjadi, keluarga Sumarsih dikenal hangat dan penuh kebersamaan. Setiap akhir pekan mereka sering memasak bersama atau pergi ke gereja.

Namun, situasi Indonesia pada 1998 berubah drastis. Gelombang demonstrasi mahasiswa menuntut reformasi dan pengunduran diri Presiden Soeharto. Di tengah kondisi politik yang memanas tersebut, Wawan memilih bergabung sebagai relawan kemanusiaan yang membantu korban demonstrasi.

Sumarsih sebenarnya sering melarang Wawan ikut aksi. Ia khawatir dengan sifat pemerintahan saat itu yang dianggap represif. Namun, Wawan tetap memilih turun ke lapangan karena merasa memiliki tanggung jawab moral.

Akhirnya, kekhawatiran itu menjadi kenyataan ketika Wawan tewas tertembak dalam tragedi yang kemudian dikenal sebagai Tragedi Semanggi I.

Penolakan Uang Duka dari Pemerintah

Tidak lama setelah pemakaman Wawan, pemerintah melalui Departemen Sosial memberikan cek senilai Rp5 juta sebagai bantuan duka.

Namun, Sumarsih menolak bantuan tersebut. Ia bahkan menyatakan bahwa uang itu seharusnya diberikan kepada tentara yang menembak Wawan, jika pelakunya bisa ditemukan.

Pernyataan ini kemudian dipublikasikan melalui surat pembaca di beberapa media. Akibatnya, sikap Sumarsih menjadi perbincangan luas di masyarakat dan dianggap sebagai bentuk keberanian melawan ketidakadilan negara.

Aksi Kamisan: Simbol Perlawanan terhadap Impunitas

Seiring waktu, perjuangan Sumarsih berkembang menjadi gerakan yang lebih luas. Bersama keluarga korban pelanggaran HAM lainnya, ia menggagas Aksi Kamisan, sebuah aksi damai yang digelar setiap hari Kamis di depan Istana Negara.

Menurut sejumlah peneliti HAM, aksi ini penting karena mengingatkan negara bahwa kasus pelanggaran HAM masa lalu belum selesai.

Selain itu, aksi tersebut juga menjadi ruang solidaritas bagi para korban. Mereka berkumpul, saling menguatkan, dan terus menuntut negara agar tidak mengabaikan keadilan.

Lebih dari 20 Tahun Mencari Keadilan

Kini, setelah lebih dari dua puluh tahun berlalu, pelaku penembakan Wawan masih belum terungkap secara jelas. Oleh karena itu, Sumarsih terus berdiri setiap Kamis sebagai simbol perlawanan terhadap budaya impunitas di Indonesia.

Bagi Sumarsih, perjuangannya bukan lagi sekadar untuk Wawan. Cintanya kepada anaknya telah berubah menjadi cinta terhadap kemanusiaan.
Ia percaya bahwa selama kebenaran belum terungkap, perjuangan tidak boleh berhenti.

“Saya harus memaafkan siapa?” ujar Sumarsih suatu kali.

“Tidak ada yang mengaku sampai sekarang.”

Penulis: Mita Putri
Dikutip dari BBC News Indonesia

Mita Putri

Artikel Terkait

Laporan Khusus: Jejak Sunyi Sang “Manusia Bayangan Republik” Zulkifli Lubis

Suara Kita News. Com, Dalam lembaran sejarah Indonesia, panggung utama kerap dikuasai oleh mereka yang bersuara lantang di atas mimbar. Namun, di balik layar sejarah kemerdekaan, terdapat figur-figur yang memilih…

Lanjutkan Membaca

// // //
  • News
  • July 1, 2026
  • //
Biaya Visa Jepang Resmi Naik 5 Kali Lipat per 1 Juli 2026, Turis Indonesia Wajib Tahu!

Suarakitanews — Kabar penting bagi Anda yang berencana liburan ke Negeri Sakura: biaya visa Jepang naik secara signifikan mulai 1 Juli 2026. Kenaikan ini bukan sekadar penyesuaian kecil, melainkan lonjakan…

Lanjutkan Membaca

// // //

Rekomendasi

Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

  • October 12, 2026
Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

  • October 10, 2026
Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

  • October 9, 2026
Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

  • October 8, 2026
Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

  • October 8, 2026
Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri

  • October 8, 2026
Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri