Suarakitanews – Ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran kini berubah menjadi konflik berskala besar. Bahkan, dalam tiga hari terakhir, serangan militer yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran telah memicu eskalasi perang regional di Timur Tengah.
Tidak hanya itu, Iran juga membalas dengan meluncurkan serangan ke beberapa negara Arab yang dianggap sebagai sekutu Amerika Serikat. Akibatnya, konflik ini semakin meluas dan berpotensi melibatkan lebih banyak negara.
Lalu, sebenarnya apa tujuan AS dan Israel menyerang Iran?
Ambisi Militer AS Menghancurkan Program Rudal Iran
Sejak awal konflik, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa tujuan utama operasi militer ini adalah menghancurkan kemampuan militer Iran, terutama program rudalnya.
Menurut Trump, Iran tengah mengembangkan rudal yang berpotensi menjangkau wilayah Amerika Serikat. Oleh karena itu, AS ingin menghancurkan industri rudal Iran sepenuhnya agar ancaman tersebut tidak lagi ada.
Selain itu, Trump juga menuduh Iran hampir berhasil mengembangkan senjata nuklir. Namun, klaim tersebut masih diperdebatkan karena tidak sepenuhnya didukung oleh laporan intelijen Amerika.
Dengan demikian, bagi pemerintahan Trump, kemenangan berarti hancurnya sistem persenjataan strategis Iran.
Upaya Menggulingkan Rezim Iran
Di sisi lain, tujuan lain yang tidak kalah penting adalah perubahan rezim di Teheran.
Trump bahkan secara terbuka menyerukan agar rakyat Iran mengambil alih pemerintahan mereka. Ia menilai serangan militer ini dapat membuka peluang bagi masyarakat Iran untuk menggulingkan pemimpin yang berkuasa selama puluhan tahun.
Namun demikian, banyak analis menilai strategi tersebut sangat berisiko. Pasalnya, sejarah menunjukkan bahwa serangan udara saja jarang berhasil menggulingkan sebuah rezim yang kuat.
Sebagai contoh, pada 2003 Amerika Serikat harus mengirim pasukan darat untuk menggulingkan Saddam Hussein di Irak.
Kepentingan Israel Menghentikan Ancaman Iran
Sementara itu, Israel memiliki alasan yang berbeda tetapi saling berkaitan.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu selama bertahun-tahun menyebut Iran sebagai ancaman terbesar bagi negaranya. Ia percaya bahwa Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir yang dapat menghancurkan Israel.
Karena itu, Israel ingin menghancurkan kekuatan militer Iran serta jaringan milisi pro-Iran di Timur Tengah.
Selain faktor keamanan, konflik ini juga memiliki dimensi politik dalam negeri. Netanyahu menghadapi tekanan politik menjelang pemilu. Dengan demikian, kemenangan militer dapat memperkuat posisinya di dalam negeri.
Apakah Rezim Iran Bisa Runtuh?

Meski pemimpin tertinggi Iran dilaporkan tewas dalam serangan, bukan berarti pemerintah Iran akan langsung runtuh.
Sistem politik Iran dibangun dengan jaringan institusi yang kuat sejak Revolusi Islam 1979. Selain itu, rezim ini juga dilindungi oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan pasukan paramiliter Basij yang sangat loyal.
IRGC sendiri diperkirakan memiliki sekitar 190.000 personel aktif dan ratusan ribu cadangan. Di sisi lain, Basij memiliki ratusan ribu anggota yang siap mempertahankan rezim.
Karena itu, bagi pemerintah Iran, definisi kemenangan bukan menghancurkan musuh, melainkan bertahan dari perang.
Risiko Besar Jika Rezim Iran Jatuh
Namun demikian, jika rezim Iran benar-benar runtuh, konsekuensinya bisa sangat besar bagi kawasan.
Iran adalah negara besar dengan populasi lebih dari 90 juta orang. Jika pemerintahannya runtuh secara mendadak, maka potensi perang saudara sangat tinggi.
Sebagai perbandingan, penggulingan Saddam Hussein di Irak pada 2003 memicu konflik berkepanjangan dan munculnya kelompok ekstremis.
Hal serupa juga terjadi di Libya setelah Muammar Gaddafi digulingkan pada 2011. Negara tersebut hingga kini masih mengalami ketidakstabilan politik dan ekonomi.
Masa Depan Timur Tengah Masih Tidak Pasti
Pada akhirnya, perang antara AS, Israel, dan Iran dapat mengubah keseimbangan kekuatan di Timur Tengah.
Namun, pertanyaannya tetap sama: apakah konflik ini akan membuat kawasan lebih aman, atau justru memicu krisis baru yang lebih besar?
Sejauh ini, jawabannya masih belum jelas. Yang pasti, setiap eskalasi baru dapat memperluas konflik dan memperpanjang penderitaan masyarakat di kawasan tersebut.
Penulis: Mita Putri








