Suarakitanews – Jeffrey Epstein dan Rencana Membeli Istana di Maroko
Nama Jeffrey Epstein kembali menjadi sorotan setelah terungkap bahwa ia berusaha membeli sebuah istana mewah di Maroko sehari sebelum penangkapannya pada Juli 2019. Fakta ini terkuak melalui dokumen yang dirilis oleh Departemen Hukum Amerika Serikat pada Januari lalu.
Menariknya, transaksi tersebut diduga menjadi salah satu aktivitas keuangan terbesar dan terakhir yang dilakukan Epstein sebelum ia ditahan atas tuduhan perdagangan seks anak di bawah umur.
Istana Bin Ennakhil: Properti Mewah di Kawasan Elite Marrakesh
Properti yang ingin dibeli Epstein adalah Istana Bin Ennakhil, yang terletak di kawasan eksklusif Palmeraie, kota Marrakesh. Kawasan ini dikenal sebagai tempat tinggal para ekspatriat kaya dan tokoh elite internasional.
Istana tersebut disebut sebagai mahakarya arsitektur Maroko. Dibangun oleh sekitar 1.300 pengrajin, bangunan ini menampilkan detail mosaik, ukiran kayu, dan desain interior khas Maroko yang mewah dan artistik. Tidak heran jika properti ini dihargai puluhan juta dolar AS.
Transaksi Terakhir Sebelum Penangkapan
Pada 5 Juli 2019, Epstein menandatangani transfer dana sebesar US$14,95 juta. Dana tersebut dikirim setelah ia membeli sebuah perusahaan offshore senilai €18 juta yang memiliki Istana Bin Ennakhil.
Namun demikian, tiga hari setelah penangkapannya, akuntannya, Richard Kahn, membatalkan transfer tersebut. Akibatnya, pembelian istana itu pun tidak pernah terealisasi.
Di sisi lain, spekulasi pun bermunculan. Sebab, Maroko tidak memiliki perjanjian ekstradisi dengan Amerika Serikat. Oleh karena itu, sejumlah media di Maroko menduga Epstein berencana menjadikan negara tersebut sebagai tempat berlindung.
Akan tetapi, seorang mantan rekan Epstein membantah anggapan tersebut. Menurutnya, transaksi itu justru menunjukkan bahwa Epstein tidak mengetahui rencana penangkapannya.
Jejak Hubungan Epstein dengan Maroko
Sebenarnya, hubungan Epstein dengan Maroko bukanlah hal baru. Sejak awal 2000-an, ia diketahui beberapa kali berkunjung ke negara tersebut.
Salah satu penuduhnya, Virginia Giuffre, mengklaim pernah diterbangkan ke Tangier oleh Epstein untuk memeriksa desain interior sejumlah properti mewah.
Selain itu, pada 2002, Epstein juga menghadiri pernikahan Raja Maroko, Mohammed VI, setelah disebut diundang oleh mantan Presiden AS, Bill Clinton.
Tak hanya itu, dokumen pemerintah AS juga menunjukkan bahwa Epstein sempat meminta mantan Menteri Inggris, Peter Mandelson, untuk membantunya mencari rumah di Marrakesh pada 2010.
Strategi Pajak dan Perusahaan Offshore
Dalam proses negosiasi, firma properti Kensington Luxury Properties disebut mengusulkan strategi penjualan dan pajak. Skemanya, properti akan didaftarkan terjual seharga €10 juta kepada otoritas Maroko, sementara sisa €20 juta dicatat sebagai pembelian saham perusahaan offshore pemilik istana.
Strategi ini dinilai dapat mengurangi beban pajak. Meski demikian, pihak firma membantah adanya pelanggaran hukum.
Pada akhirnya, Epstein memilih membeli saham perusahaan offshore saja dan masih dalam proses menentukan pendaftaran resmi ketika ia ditangkap.
Kesimpulan: Motif Pelarian atau Investasi Biasa?
Pertanyaannya kemudian, apakah pembelian Istana Bin Ennakhil merupakan upaya pelarian?
Di satu sisi, fakta bahwa Maroko tidak memiliki perjanjian ekstradisi dengan AS memicu dugaan tersebut. Namun di sisi lain, tidak ada bukti dalam dokumen resmi yang menunjukkan Epstein secara eksplisit membahas Maroko sebagai tempat perlindungan.
Yang jelas, transaksi ini menjadi potongan penting dalam rangkaian peristiwa terakhir kehidupan Jeffrey Epstein sebelum kematiannya di tahanan pada Agustus 2019.
Dengan demikian, meski pembelian itu batal, kisah ini tetap menambah lapisan misteri dalam jaringan relasi dan strategi finansial Epstein di panggung internasional.
Penulis: Mita Putri








