KPF Ungkap Fakta Kerusuhan Agustus 2025: Pola Operasi Mirip Malari 1974 dan Perburuan Aktivis Terbesar Sejak Reformasi

Suarakitanews – Kerusuhan Agustus 2025 menjadi salah satu krisis politik paling signifikan pada tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Laporan investigasi Komisi Pencari Fakta (KPF) menyimpulkan bahwa gelombang demonstrasi tersebut bukanlah peristiwa spontan, melainkan akumulasi kemarahan publik akibat ketegangan elite politik, tekanan ekonomi, dan rivalitas lembaga negara.

Berdasarkan investigasi selama lima bulan, KPF menemukan adanya pola eskalasi terstruktur yang, jika dicermati, memiliki kemiripan dengan peristiwa Peristiwa Malari.

Selain itu, KPF mencatat 6.719 orang ditangkap, 703 menjadi tahanan politik, dan 13 warga sipil meninggal dunia. Dengan demikian, peristiwa ini disebut sebagai perburuan aktivis terbesar sejak Reformasi 1998.

Ketegangan Elite dan Rivalitas Institusi Negara

Menurut laporan KPF, demonstrasi terjadi di tengah ketegangan elite dan persaingan antara Polri, Kejaksaan Agung, serta pelibatan TNI dalam pengamanan.

Di satu sisi, Presiden Prabowo dinilai mengandalkan Kejagung dalam penanganan kasus korupsi dengan dukungan pengamanan TNI. Namun di sisi lain, langkah tersebut disebut memicu rivalitas dengan Polri.

Akibatnya, masyarakat sipil melihat adanya perebutan legitimasi antarlembaga. Situasi ini, menurut peneliti KPF Ravio Patra, memperkeruh cara negara membaca dan merespons aksi massa.

Tekanan Ekonomi Jadi Pemicu Emosi Publik

Tidak hanya faktor politik, tekanan ekonomi juga berperan besar. Pengetatan fiskal, efisiensi anggaran, serta wacana kenaikan tunjangan anggota DPR hingga Rp50 juta per bulan memicu kemarahan luas.

Lebih lanjut, video viral anggota DPR berjoget yang dikaitkan dengan kenaikan tunjangan mempercepat eskalasi kemarahan. Narasi seperti “berjoget di atas penderitaan rakyat” menyebar luas di media sosial, sehingga memicu tagar #BubarkanDPR dan #Demo25.

Kronologi Demonstrasi 25–31 Agustus 2025

  1. Demonstrasi 25 Agustus 2025

    Awalnya, demonstrasi dipicu oleh penolakan kenaikan tunjangan DPR. Ribuan mahasiswa, pelajar, dan pengemudi ojek online mengepung Gedung DPR RI.
    Namun demikian, aksi yang berlangsung hingga malam berujung ricuh. Sebanyak 351 orang ditangkap, termasuk 196 anak di bawah umur.
  2. Demonstrasi 28 Agustus 2025 dan Tewasnya Affan

    Gelombang kedua terjadi pada 28 Agustus 2025. Eskalasi meningkat setelah pengemudi ojol, Affan Kurniawan (21), tewas terlindas kendaraan taktis Brimob di Bendungan Hilir.
    Peristiwa ini menjadi titik balik. Kemarahan massa meluas dan tuntutan berubah dari isu ekonomi menjadi reformasi Polri.
  3. 29–31 Agustus 2025: Kerusuhan dan Penjarahan

    Selanjutnya, demonstrasi meluas ke 76 wilayah. Terjadi penjarahan dan pembakaran fasilitas publik.
    KPF menemukan bahwa pelaku kerusuhan awal bukanlah massa demonstran utama, melainkan kelompok berbeda yang bergerak dengan pola konvoi motor terorganisir.

Kolektif Nika dan Simbol Jolly Roger

Simbol Jolly Roger dari serial One Piece digunakan anak muda sebagai simbol perlawanan.

Namun, menurut KPF, simbol ini kemudian dimanfaatkan dan disusupi pihak tak dikenal yang memprovokasi kekerasan. Meskipun demikian, KPF menegaskan bahwa kapasitas kolektif Nika tidak memadai untuk mengorkestrasi kerusuhan nasional.

Indikasi Massa Bayaran dan Operasi Tumpang Tindih

KPF juga mengungkap dugaan mobilisasi massa bayaran dalam demonstrasi 28 Agustus 2025. Bahkan, terdapat pengakuan dana operasional yang dialokasikan untuk menggalang massa aksi.

Selain itu, laporan menyebut adanya “operasi dalam operasi” yang melibatkan multi-aktor. Oleh sebab itu, narasi bahwa demonstrasi sepenuhnya dikendalikan aktivis dinilai tidak memadai.

Kemiripan dengan Malari 1974

Jika ditarik lebih jauh, pola yang muncul menyerupai Peristiwa Malari 1974. Saat itu, konflik elite dan perebutan pengaruh berujung pada pembingkaian mahasiswa sebagai dalang kerusuhan.

Demikian pula pada Agustus 2025, aktivis pro-demokrasi disebut menjadi sasaran kriminalisasi. Narasi “dalang” dan “provokator” muncul beriringan dengan penangkapan massal.

Rekomendasi KPF

Sebagai langkah lanjutan, KPF merekomendasikan:

  • Presiden membentuk tim gabungan pencari fakta independen.
  • DPR membentuk Panitia Khusus.
  • Polri dan TNI melakukan audit internal dan penyelidikan disiplin.
  • Kejagung meninjau ulang berkas perkara demonstran.
  • Komnas HAM melakukan penyelidikan pro justitia.
  • PBB melalui OHCHR melakukan investigasi independen.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, Laporan KPF menyimpulkan bahwa Kerusuhan Agustus 2025 bukan sekadar ledakan emosi spontan. Sebaliknya, peristiwa ini merupakan akumulasi ketegangan elite, tekanan ekonomi, rivalitas institusi, serta dinamika operasi keamanan yang kompleks.

Dengan demikian, tanpa transparansi dan akuntabilitas menyeluruh, risiko pengulangan pola seperti Malari 1974 tetap membayangi demokrasi Indonesia.

Penulis: Mita Putri

Mita Putri

Artikel Terkait

Blackout Sumatera: 5 Orang Tewas, Bisnis Merugi Miliaran — PLN Wajib Beri Kompensasi hingga 500 Persen

Suarakitanews – Blackout Sumatera 2026: Kronologi, Korban Jiwa, dan Hak Kompensasi yang Wajib Anda Ketahui Pemadaman listrik massal atau blackout Sumatera yang berlangsung selama tiga hari, yakni 22 hingga 24…

Lanjutkan Membaca

// // //
Krisis Pangan Mengintai? Petani Indonesia Tertekan El Nino dan Ekonomi Global

Suarakitanews – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dan ancaman El Nino 2026 mulai memberikan tekanan besar terhadap sektor pertanian nasional. Kenaikan harga bahan bakar, bibit, hingga pestisida…

Lanjutkan Membaca

// // //

Rekomendasi

Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

  • October 12, 2026
Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

  • October 10, 2026
Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

  • October 9, 2026
Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

  • October 8, 2026
Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

  • October 8, 2026
Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri

  • October 8, 2026
Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri