Indonesia Jadi Wakil Komandan ISF di Gaza, Prabowo Hadiri Dewan Perdamaian Trump: Peluang Damai atau Risiko Geopolitik?

Suarakitanews – Prabowo Subianto menghadiri pertemuan Dewan Perdamaian yang digagas Donald Trump dan Indonesia disebut akan menempati posisi Wakil Komandan Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) di Gaza.

Pengumuman tersebut disampaikan Mayor Jenderal AS Jasper Jeffers III dalam forum yang berlangsung di United States Institute of Peace (USIP), Washington DC.

“Saya telah menawarkan dan Indonesia telah menerima posisi wakil komandan ISF,” ujar Jeffers.

Dengan demikian, Indonesia menjadi salah satu aktor kunci dalam struktur keamanan pascakonflik Gaza.

Apa Itu ISF dan Bagaimana Strukturnya?

ISF (International Stabilization Force) direncanakan akan mengerahkan sekitar 20.000 personel militer yang dibagi ke lima sektor:

  • Rafah
  • Khan Younis
  • Deir al Balah
  • Kota Gaza
  • Gaza Utara

Selain itu, rencana jangka panjang mencakup pelatihan 12.000 polisi oleh Mesir dan Yordania.

Adapun negara penyumbang personel militer antara lain Indonesia, Albania, Kazakhstan, Kosovo, dan Maroko.

Sebelumnya, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyebut Indonesia berpotensi mengirim sekitar 8.000 pasukan perdamaian.

Dewan Perdamaian Trump: Struktur dan Kontroversi

Dewan Perdamaian ini dipimpin langsung oleh Trump dan memiliki dua struktur utama:

  • Dewan Eksekutif Pendiri
  • Dewan Eksekutif Gaza

Beberapa tokoh yang duduk di dalamnya antara lain:

  • Marco Rubio
  • Jared Kushner
  • Steve Witkoff
  • Tony Blair
  • Marc Rowan
  • Ajay Banga

Namun demikian, yang menjadi sorotan adalah tidak adanya perwakilan Palestina dalam struktur eksekutif utama.

Selain itu, Trump disebut memiliki hak veto penuh serta memimpin dewan tersebut seumur hidup, meski tak lagi menjabat sebagai Presiden AS. Inilah yang kemudian memunculkan kritik dari sejumlah kalangan internasional.

Komitmen Dana Rekonstruksi Gaza

Dalam pidato pembukaan, Trump menyatakan AS akan mengalokasikan US$ 10 miliar untuk rekonstruksi Gaza.

Negara-negara seperti Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Kazakhstan, dan Maroko disebut akan menyumbang total US$ 7 miliar, sementara PBB berkontribusi US$ 2 miliar.

Trump menutup forum dengan pernyataan:

“Kita akan membuat Gaza menjadi tempat yang sangat sukses dan aman.”
Meski begitu, sejumlah pihak mempertanyakan transparansi dan arah politik dari badan baru ini.

Mengapa Indonesia Bergabung?

Menurut Prabowo, keterlibatan Indonesia merupakan kesempatan bersejarah untuk mendorong solusi dua negara (two-state solution).

Lebih jauh lagi, pemerintah menegaskan partisipasi ini bertujuan untuk:

  • Menghentikan kekerasan
  • Melindungi warga sipil
  • Membuka akses kemanusiaan

Menjaga agar transisi Gaza tidak menyimpang dari hukum internasional
Juru bicara Kementerian Luar Negeri RI juga menegaskan bahwa keikutsertaan Indonesia tidak melanggar prinsip politik luar negeri bebas aktif.

Risiko Geopolitik yang Mengintai

Namun demikian, tidak sedikit yang mempertanyakan langkah ini.
Beberapa risiko yang disorot antara lain:

  • Risiko persepsi geopolitik – Indonesia dianggap terlalu dekat dengan kebijakan AS.
  • Risiko keamanan personel TNI – Situasi Gaza masih sangat rentan.
  • Risiko finansial – Biaya keanggotaan permanen disebut mencapai US$ 1 miliar.
  • Potensi melemahkan peran PBB – Dewan Perdamaian ini dinilai bisa menyaingi mekanisme resmi PBB.

Sebagai perbandingan, selama ini Indonesia aktif dalam misi seperti United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL).

Apakah Indonesia Akan Jadi “Antek Asing”?

Sebagian warganet melontarkan kritik keras. Akan tetapi, sejumlah pengamat menilai justru sebaliknya.

Dengan masuk dari dalam, Indonesia memiliki peluang:

  • Mendorong keterlibatan Palestina
  • Menjadi penyeimbang moral
  • Memastikan rekonstruksi berjalan adil dan transparan

Namun, tanpa agenda yang jelas, Indonesia berisiko terseret kepentingan politik besar.

Gaza di Titik Kritis

Saat ini, sekitar 80 persen bangunan di Gaza rusak atau hancur. Puluhan juta ton puing masih menumpuk. Sementara itu, gencatan senjata tetap rapuh.

Karena itu, pertanyaan besarnya adalah “Apakah Dewan Perdamaian Trump benar-benar akan membawa perdamaian berkelanjutan, atau justru membuka babak baru dalam dinamika geopolitik global?”.

Indonesia kini berada di garis depan. Langkah ini bisa menjadi tonggak diplomasi bersejarah — atau ujian besar bagi politik luar negeri bebas aktif.

Penulis: Mita Putri

Mita Putri

Artikel Terkait

Krisis Migran Ceuta dan Melilla: Pengerahan Militer Spanyol di Tengah Sengketa Kedaulatan Berabad-Abad

Suarakitanews – Tegangan diplomatik kembali memanas di Selat Gibraltar setelah Pemerintah Spanyol mengerahkan pasukan militer tambahan ke Ceuta, sebuah wilayah kantong Spanyol di Afrika Utara. Langkah drastis ini diambil sebagai…

Lanjutkan Membaca

// // //
Detik-Detik Mencekam Gempa Venezuela: Kisah Perempuan Berjam-jam Mencari Kabar Keluarganya di Caracas

Venezuela, Suarakitanews — Sebuah pesan suara singkat di WhatsApp menjadi awal dari berjam-jam kecemasan yang tak terlupakan. “Baru saja terjadi gempa yang sangat hebat, saat ini masih terasa gunangannya,” demikian…

Lanjutkan Membaca

// // //

Rekomendasi

Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

  • October 12, 2026
Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

  • October 10, 2026
Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

  • October 9, 2026
Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

  • October 8, 2026
Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

  • October 8, 2026
Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri

  • October 8, 2026
Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri