‘Operasi Senyap’ 10 Menit: Strategi Bupati Aep Ubah Wajah Kota dari Meja Kerja
Suara Kita News. Com, KARAWANG – Wajah birokrasi Kabupaten Karawang dipastikan bakal sedikit “berkeringat” sebelum memulai pelayanan publik. Bupati Karawang, Aep Syaepuloh, baru saja mencanangkan revolusi disiplin melalui instruksi bersih-bersih rutin setiap pagi. Bukan sekadar seremonial, gerakan ini dirancang sebagai “operasi senyap” untuk mengikis kekumuhan di pusat-pusat layanan masyarakat.
Instruksi ini disampaikan Aep dengan nada tegas usai melantik 13 pejabat di Kantor Disdukcapil, Selasa (3/2). Ia menegaskan bahwa kebersihan bukan lagi tugas sampingan, melainkan fondasi utama integritas seorang pelayan publik.
Kebijakan ini tidak hanya menyasar para Aparatur Sipil Negara (ASN), tetapi juga merambah hingga institusi pendidikan dan pemerintah tingkat kecamatan.
Aep sedang mematangkan Surat Edaran (SE) yang akan mewajibkan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD), terutama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud), untuk menerapkan ritual kebersihan harian.
“Hanya butuh 5 sampai 10 menit setiap pagi. Sisir area masing-masing, pastikan tidak ada sampah. Ini berlaku untuk anak sekolah, kantor kecamatan, hingga meja kerja saya sendiri. Kita mulai dari lingkungan terkecil kita,” ujar Aep.
Kombinasi Armada dan Sanksi Menyadari bahwa masalah sampah di Karawang tidak bisa selesai hanya dengan sapu lidi, Bupati Aep juga menaikkan intensitas “perang” di sektor hilir.
Tahun ini, Pemkab Karawang melakukan langkah taktis dengan, Penambahan armada mobil amrol pengangkut sampah untuk memastikan ritme pembuangan tidak terhambat.
Peningkatan kapasitas Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST). Instruksi khusus kepada Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk menindak tegas pelaku pembuangan sampah sembarangan yang kerap menciptakan titik-titik pembuangan sampah liar.
Strategi Bupati Aep ini merupakan bentuk diplomasi “teladan”. Dengan mewajibkan area kantor bupati dibersihkan terlebih dahulu, ia mengirimkan pesan kuat kepada bawahannya: tidak ada pengecualian.
Kini, tantangan terbesarnya ada pada konsistensi. Jika gerakan 10 menit ini berhasil menjadi budaya, Karawang tidak hanya akan bersih secara visual, tetapi juga memiliki mentalitas birokrasi yang lebih peduli terhadap detail lingkungan.
“Tahun ini pengadaan mobil sampah sudah berjalan. Saya sudah instruksikan Kadis LH, tidak boleh ada pembiaran terhadap sampah liar,” pungkasnya.
Kebijakan ini merupakan upaya branding kota yang dimulai dari internal. Dengan memanfaatkan momentum awal tahun dan pelantikan pejabat baru, Aep mencoba mengikat komitmen para pemangku kepentingan untuk menjadikan kebersihan sebagai indikator kinerja yang nyata.
penulis : Yerrydewa






