Siswa SD Akhiri Hidup karena Tak Punya Buku dan Pena

Suara Kita News. Com, NGADA — Di sebuah desa bernama Nenowea, di mana udara dingin Kecamatan Jerebuu biasanya membawa ketenangan, kini hanya ada keheningan yang menyesakkan. Seorang bocah laki-laki berusia 10 tahun, YBR, memutuskan untuk menyerah pada dunia. Ia pergi bukan karena sakit yang bisa diobati medis, melainkan karena kemiskinan yang mencekik harapannya untuk sekadar menjadi seorang murid.

Kamis pagi, 29 Januari 2026, menjadi saksi bisu berakhirnya perjalanan hidup siswa sekolah dasar itu. Tubuh kecilnya ditemukan tak bernyawa, tergantung di dahan pohon cengkeh tak jauh dari rumah neneknya.

Tragedi ini bermula dari permintaan yang sangat sederhana, namun terasa mustahil bagi keluarga YBR. Pada Rabu malam, 28 Januari, YBR menginap di rumah ibunya, MGT. Malam itu, ia tidak meminta mainan atau baju baru. Ia hanya meminta Rp 10.000 untuk membeli buku tulis dan pena.

Namun, di meja makan yang barangkali juga sering kosong itu, sang ibu terpaksa memberikan jawaban yang menyayat hati: “Tidak ada uang.”

Sebagai orang tua tunggal yang menghidupi lima anak sendirian sejak suaminya pergi sepuluh tahun lalu, uang sepuluh ribu rupiah adalah kemewahan yang tidak ia miliki malam itu.

Harapan YBR sebenarnya tertumpu pada dana Program Indonesia Pintar (PIP). Berkali-kali bocah itu bertanya, “Mama, kapan beasiswa PIP diurus?”

Namun, hak YBR terbentur tembok tebal birokrasi. Dana itu membeku di bank hanya karena selembar KTP ibunya masih tercatat di Kabupaten Nagekeo, bukan Kabupaten Ngada. Untuk mencairkan hak anaknya, sang ibu harus mengurus pindah domisili—sebuah proses yang membutuhkan waktu dan biaya yang lagi-lagi tak mereka miliki.

“Ditanya lagi anaknya, dan dijawab sama lagi kalau akan diurus. Sampai terakhir, belum sempat urus,” tutur Bupati Ngada, Raymundus Bena, dengan nada penuh keprihatinan.

Esok paginya, Kamis 29 Januari, YBR sempat mengeluh sakit. Ia enggan berangkat ke sekolah. Bukan karena malas, mungkin karena rasa malu harus masuk kelas tanpa buku dan pena di tangan. Namun, sang ibu tetap memintanya berangkat dan mengantarnya ke rumah sang nenek.

YBR tidak pernah sampai ke kelasnya. Kepada warga yang berpapasan dengannya di kebun, ia hanya berbisik lirih bahwa kepalanya sakit. Tak lama kemudian, ia ditemukan telah pergi selamanya, meninggalkan secarik surat yang isinya merobek hati siapa pun yang membacanya.


Ia pergi membawa luka tentang pendidikan yang seharusnya gratis, tentang birokrasi yang seharusnya melayani, dan tentang kemiskinan yang seharusnya tidak mematikan impian seorang anak.

penulis : Madun/Red

  • Artikel Terkait

    Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

    Suara Kita News, Karawang – Gerakan atau forum Gelo Commando 2026 secara resmi menyuarakan aspirasi rakyat Indonesia dengan mengusung 8 Poin Aspirasi Rakyat. Berbagai tuntutan ini mencakup isu kesejahteraan sosial,…

    Lanjutkan Membaca

    // // //
    Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

    Suara Kita News.com, Pilkades Desa Bangle, Kecamatan Majalaya, tengah menjadi sorotan hangat. Di tengah panggung pertarungan empat kandidat kuat, atmosfer pemilihan kali ini terasa jauh berbeda. Warga tidak lagi sekadar…

    Lanjutkan Membaca

    // // //

    Rekomendasi

    Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

    • October 12, 2026
    Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

    Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

    • October 10, 2026
    Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

    Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

    • October 9, 2026
    Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

    Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

    • October 8, 2026
    Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

    Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

    • October 8, 2026
    Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

    Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri

    • October 8, 2026
    Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri