Suarakitanews – Serang, Banten – Sudah hampir satu bulan warga Kampung Combrang, Kecamatan Cikande, Kabupaten Serang, hidup dalam kecemasan yang tak kunjung reda.
Pasalnya, kampung yang dihuni sekitar 90 keluarga itu hanya berjarak sekitar 200 meter dari sumber radiasi radioaktif PT PMT, sebuah pabrik peleburan metal yang kini tengah diselidiki oleh tim gabungan pemerintah.
Apa Itu Cesium-137 dan Bahayanya bagi Kesehatan?
CS-137 atau Cesium-137 merupakan unsur radioaktif buatan manusia yang sangat berbahaya jika terpapar dalam jangka panjang.
Zat ini dikenal dapat menyebabkan kerusakan sel, kanker, hingga kematian, terutama jika masuk ke tubuh melalui udara, makanan, atau air yang terkontaminasi.
Menurut hasil temuan tim, tingkat radiasi Cesium-137 (CS-137) di sekitar area pabrik mencapai 0,3 hingga 0,5 mikrosievert per jam, jauh di atas batas normal yaitu sekitar 0,1 mikrosievert per jam.
Paparan radiasi yang tinggi juga bisa menimbulkan gejala awal seperti mual, batuk, dan iritasi kulit, yang mulai dirasakan oleh sebagian warga di Kampung Combrang.
“Mereka Pakai Masker, Sarung Tangan, Tapi Tak Ada Penjelasan”
Sejak kasus ini mencuat, warga mengaku semakin takut.
“Setiap hari ada petugas menggunakan APD lengkap berlalu-lalang di depan rumah. Mereka pakai masker, pakai sarung tangan, bahkan bersalaman dengan warga. Bikin ketakutan, tapi enggak ada penjelasan apapun,” ujar Arief, tokoh masyarakat Kampung Combrang.
Arief menambahkan, sejumlah warga mulai mengalami batuk dan gatal-gatal, namun belum ada pemeriksaan kesehatan yang jelas terkait hal tersebut.
Pemerintah Klaim Sudah Periksa Warga, Tapi Tanpa Transparansi
Sementara itu, Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Radiasi CS-137, Bara Krishna Hasibuan, menyebut bahwa pemeriksaan kesehatan terhadap warga sebenarnya telah dilakukan.
Namun, ia mengakui bahwa pemerintah tidak menyampaikan informasi tersebut secara terbuka demi menghindari kepanikan.
“Sudah ada (pemeriksaan), cuma kita memang enggak terus terang saja selama ini. Kita enggak mau menimbulkan kepanikan,” jelas Bara.
Ahli BRIN Desak Evaluasi Sistem Pengawasan Radioaktif
Menanggapi situasi ini, Peneliti Senior Nuklir BRIN, Profesor Djarot Sulistio, menekankan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengawasan bahan radioaktif di Indonesia.
Menurutnya, kejadian di PT PMT harus menjadi momentum perbaikan sistem pengawasan sumber radioaktif, agar kasus serupa tidak terulang di masa mendatang.
Warga Menunggu Kepastian dan Transparansi
Hingga kini, warga Kampung Combrang masih menunggu penjelasan resmi dan hasil pemeriksaan kesehatan dari pemerintah.
Rasa takut bercampur marah terus membayangi, apalagi dengan aktivitas petugas yang terus berlalu-lalang tanpa penjelasan terbuka.
Kasus ini menjadi peringatan serius tentang pentingnya transparansi, pengawasan ketat, dan tanggung jawab lingkungan bagi industri yang berisiko tinggi seperti pengolahan logam dan bahan radioaktif.
Penulis: Mita Putri






