Suarakitanews – Pantura di Ambang Bencana: Ketika Industrialisasi Menggerus Alam dan Kehidupan Warga. Sedikitnya 18.882 hektar lahan di pesisir utara Pulau Jawa (Pantura) kini digunakan pemerintah untuk mengembangkan kawasan industri dalam bingkai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan Proyek Strategis Nasional (PSN). Proyek-proyek ini tersebar di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat, dengan janji mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun di balik itu, tersimpan ancaman besar bagi lingkungan dan masyarakat pesisir.
Ekosida di Pantura: Ancaman Tenggelam yang Kian Nyata
Pakar dan pegiat lingkungan menyebut pesisir utara Jawa kini menghadapi ancaman “ekosida”, atau kehancuran ekosistem akibat ulah manusia. Penurunan permukaan tanah yang semula alami kini semakin cepat karena beban infrastruktur industri.
Setiap tahunnya, permukaan tanah di Pantura turun minimal 4 sentimeter, namun eksploitasi industri membuat laju penurunan itu meningkat drastis. Akibatnya, banjir rob terjadi semakin sering dan merugikan ribuan warga.
Alih-alih membangun kawasan yang ekologis dan adaptif terhadap perubahan iklim, pemerintah justru terus mendorong pembangunan industri besar yang memperburuk krisis iklim di Indonesia.
Suara dari Pesisir: “Kami Hidup Seperti Manusia Amfibi”
Di Indramayu, Jawa Barat, Suwandi, seorang warga pesisir, menceritakan penderitaannya.
“Sehari semalam 24 jam, dan 12 jam kaki saya tidak pernah kering. Saya adalah manusia amfibi,” ujarnya lirih.
Kondisi serupa dirasakan Ningsih, warga pesisir lain di Eretan Wetan.
“Dulu juga banjir, tapi enggak besar sampai seperti ini. Sekarang lautnya sudah dekat, air masuk terus ke rumah.”
Kini, ribuan rumah dan puluhan ribu warga di Eretan Wetan terdampak banjir rob. Bupati Indramayu, Lucky Hakim, menyebutkan rencana untuk membangun tanggul dan rumah panggung sebagai solusi jangka pendek bagi masyarakat pesisir.
Krisis di Kendal: Green Belt Hilang, Padi Tak Lagi Tumbuh
Di wilayah pesisir utara Kendal, Jawa Tengah, kondisi tak jauh berbeda.
Turmudzi, warga setempat, mengaku sawah mereka kini tak bisa lagi ditanami padi.
“Air sudah naik, lahan jadi asin. Tanam padi sudah tidak bisa.”
Lebih parah lagi, Wasito, warga lainnya, mengungkapkan bahwa sabuk hijau (green belt) yang seharusnya berfungsi menahan abrasi dan menangkap emisi, kini telah hilang.
“Seharusnya sabuk hijau dipertahankan, tapi malah dihilangkan.”
Pihak pengelola KEK Kendal membantah tudingan itu dan menyatakan bahwa ekosistem mangrove masih terjaga, meski citra satelit menunjukkan sebaliknya.
Gresik: Reklamasi dan Rob yang Tak Terelakkan
Sementara itu, di Gresik, Jawa Timur, fenomena serupa kembali terulang.
Abdul Fadil, warga pesisir utara Gresik, mengatakan banjir rob kini semakin parah.
“Dulu rob enggak sampai depan rumah. Sekarang tiap tahun sudah sampai depan rumah.”
Pihak pengelola JIIPE Gresik menolak tudingan bahwa reklamasi menyebabkan banjir rob. Namun, Heri Andreas, ahli geodesi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), menegaskan bahwa banjir rob adalah indikator nyata adanya eksploitasi kawasan industri di pesisir.
Penutup: Antara Pembangunan dan Kehancuran Ekologi
Kawasan industri memang dianggap simbol kemajuan ekonomi. Namun, di balik gedung-gedung megah dan pelabuhan baru, masyarakat pesisir justru menanggung akibat dari pembangunan yang abai terhadap ekologi.
Jika industrialisasi di Pantura terus berjalan tanpa perencanaan ekologis yang matang, maka bukan hanya ekosistem yang hancur, tetapi juga jutaan nyawa yang hidup di tepi laut akan kehilangan masa depan.
Penulis: Mita Putri






