Suarakitanews – Aceh, Tiga perempuan muda asal Aceh berani angkat suara lewat karya seni untuk mengkritik sebagian pelaksanaan syariat Islam di Aceh yang mereka nilai kerap merendahkan perempuan. Melalui seni peran, instalasi, dan fotografi, mereka berkolaborasi menafsir ulang sosok pahlawan nasional Cut Nyak Dien — bukan sebagai ikon perang semata, tetapi sebagai simbol keberanian, kebebasan berpikir, dan kekuatan perempuan modern.
Kritik Lewat Karya
Ketiga seniman muda ini adalah Zikrayanti, Arifa Safura, dan Riska Munawarah. Mereka lahir dan besar di Aceh, menyaksikan langsung perubahan sosial, budaya, dan politik yang begitu cepat pasca penerapan syariat Islam.
“Kenapa fokusnya selalu ke tubuh perempuan? Kenapa tidak ke persoalan sampah, atau korupsi parah di Aceh?” tutur Arifa Safura, seniman instalasi yang kerap mengangkat tema tubuh dan kontrol sosial dalam karyanya.
“Apakah perempuan harus menjadi hantu dulu supaya ditakuti dan didengar?”
Sementara itu, Riska Munawarah, seorang fotografer muda, menyoroti realitas sosial yang dihadapinya sehari-hari.
“Apakah pembatasan yang berorientasi gender telah menjadikan Aceh sebagai ruang aman bagi perempuan? Sayangnya, fakta berkata tidak.”
Menarik Inspirasi dari Cut Nyak Dien
Dalam kolaborasi terbaru mereka, ketiganya menggelar sebuah pameran seni bertajuk reinterpretasi Cut Nyak Dien. Mereka mencoba memaknai ulang sosok pahlawan perempuan itu dari kacamata tubuh dan pengalaman perempuan masa kini — dengan menyoroti bagaimana perjuangan Cut Nyak dulu justru sarat nilai kesetaraan dan keberanian perempuan.
“Cut Nyak dulu sangat modern. Feminismenya kuat, kekuatan gendernya luar biasa. Tapi sekarang? Tubuh perempuan malah dipermasalahkan. Kita ini semakin mundur, bukan maju,” kata Zikrayanti, seniman pertunjukan.
Seni Sebagai Perlawanan
Kolaborasi ini bukan hanya tentang seni, tetapi juga tentang keberanian untuk berbicara. Melalui karya mereka, ketiga perempuan ini mengajak masyarakat untuk meninjau kembali bagaimana nilai-nilai keislaman dan adat diterapkan dalam kehidupan sosial.
Mereka percaya bahwa Aceh seharusnya menjadi ruang aman bagi semua, termasuk perempuan. Bukan sebaliknya.
Refleksi dan Harapan
Dengan semangat Cut Nyak Dien yang mereka tafsir ulang, Zikra, Arifa, dan Riska berusaha menyalakan kembali api keberanian perempuan Aceh untuk berpikir kritis dan menyuarakan keadilan.
Seni bagi mereka bukan sekadar ekspresi, tetapi juga alat perjuangan dan refleksi sosial.
Melalui suara dan karya, mereka membuktikan bahwa perempuan Aceh tidak diam. Mereka masih berjuang — dengan caranya sendiri.
Penulis: Mita Putri






