Suarakitanews – Pemerintahan Taliban kembali menuai sorotan internasional setelah mengumumkan kebijakan baru yang melarang semua buku karya perempuan di universitas Afghanistan. Aturan ini tidak hanya menyasar tulisan-tulisan perempuan, tetapi juga memperkuat pembatasan terhadap pengajaran Hak Asasi Manusia (HAM) dan isu pelecehan seksual.
Menurut laporan BBC Afghanistan, sekitar 140 buku karya perempuan resmi dihapus dari kurikulum universitas. Buku-buku tersebut mencakup berbagai bidang ilmu, termasuk karya akademik dengan judul sederhana seperti “Keselamatan di Laboratorium Kimia”. Selain itu, 540 buku lain yang dianggap “memprihatinkan” karena dituding mengandung kebijakan anti-Syariah dan anti-Taliban juga ikut dilarang.
Zakia Adeli, mantan Wakil Menteri Kehakiman Afghanistan, menilai kebijakan ini mencerminkan pola pikir yang misoginis. Ia mengatakan, “Mengingat pola pikir dan kebijakan Taliban, sudah barang tentu ketika perempuan tidak diizinkan belajar, pandangan, ide, dan tulisan mereka juga ditekan.”
Lebih lanjut, seorang anggota komite peninjau buku mengonfirmasi aturan ini. Ia menyatakan dengan tegas bahwa, “Semua buku yang ditulis oleh perempuan tidak boleh diajarkan.”
Dampak Terhadap Dunia Akademik
Larangan ini memperdalam krisis pendidikan di Afghanistan. Sejak Taliban kembali berkuasa pada 2021, akses perempuan terhadap pendidikan menengah dan tinggi telah dibatasi. Kini, dengan pelarangan buku karya perempuan, ruang intelektual di universitas semakin sempit.
Kebijakan ini juga dipandang sebagai upaya sistematis untuk menghapus kontribusi perempuan dalam dunia akademik. Padahal, karya tulis perempuan sering kali menjadi sumber pengetahuan penting yang memperkaya wawasan mahasiswa.
Reaksi Internasional
Komunitas internasional mengecam langkah Taliban ini. Organisasi HAM menilai bahwa pelarangan ini bukan hanya diskriminatif, tetapi juga merupakan bentuk sensor yang merugikan generasi muda Afghanistan. Banyak pihak menyerukan agar komunitas global tidak diam dan terus menekan Taliban untuk menghormati hak perempuan.
Kesimpulan
Larangan buku karya perempuan di universitas Afghanistan menunjukkan bahwa Taliban semakin mempersempit ruang kebebasan akademik. Dengan menghapus ide, suara, dan kontribusi perempuan, masa depan pendidikan di Afghanistan berada dalam ancaman besar.
Penulis: Mita Putri








