Suara Kita News.com, KARAWANG – Tak ada hiburan yang lebih tulus daripada perayaan yang lahir dari keringat dan semangat gotong royong warganya sendiri. Itulah yang terlihat dalam peringatan Milangkala (hari jadi) ke-43 Desa Purwamekar, Kecamatan Rawamerta. Alih-alih mengandalkan dana besar dari pemerintah, perayaan ini justru menunjukkan kekuatan sejati sebuah komunitas: bersatu, berkreasi, dan berbagi.
Pada Sabtu (6/9) lalu, jalanan Desa Purwamekar berubah menjadi panggung raksasa. Masyarakat dari 42 Rukun Tetangga (RT) tumpah ruah dalam Karnaval Kirab Budaya yang penuh warna. Mereka tidak datang dengan tangan kosong. Setiap RT membawa nasi tumpeng megah dan dong dang—gerobak berhias hasil bumi yang dihias sedemikian rupa, menunjukkan kreativitas tak terbatas.
“Alhamdulillah, semua warga begitu antusias dan merasa bangga menjadi warga Desa Purwamekar,” ujar Kepala Desa Hj. Emih Fitra kepada wartawan. Ia menjelaskan bahwa kemeriahan karnaval ini sepenuhnya berasal dari iuran swadaya masyarakat. Pihak desa, kata Emih, hanya memfasilitasi panggung utama, sementara seluruh kreativitas dan energi datang dari warga.
Perayaan tak berhenti di siang hari. Malamnya, warga dihibur dengan pertunjukan Topeng Banjet, sebuah seni tradisional yang berhasil memikat warga setempat maupun dari desa tetangga. Menurut Emih, acara hiburan berlangsung lancar tanpa insiden, menunjukkan ketertiban dan kedewasaan warga dalam merayakan.
Selain pertunjukan seni, kemeriahan juga ditambah dengan hadiah doorprize yang khusus disediakan untuk warga desa. “Hadiah ini khusus untuk warga yang tadi ikut acara kirab budaya,” kata Emih. Ini menjadi bentuk apresiasi kecil yang mempererat rasa kebersamaan.
Perayaan ini juga mendapat dukungan dari putra asli Desa Purwamekar yang kini menjabat sebagai anggota DPRD Karawang, H. Asep Syaripudin, S.T., M.M. Kehadirannya menjadi simbol bahwa semangat membangun desa tidak pernah padam, bahkan ketika seseorang telah berhasil di tingkat yang lebih tinggi.
Milangkala ke-43 Desa Purwamekar membuktikan bahwa perayaan terbaik bukanlah yang paling mewah, tetapi yang paling tulus. Ini adalah cerita tentang bagaimana sebuah desa merayakan ulang tahunnya dengan cara yang paling otentik: dengan gotong royong, kreativitas, dan cinta pada tanah kelahiran.






