Suarakitanews – Israel Gempur Iran: Infrastruktur Militer, Nuklir, dan Energi Jadi Sasaran! Pada 13 Juni 2025, konflik antara Israel dan Iran kembali memanas. Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke Iran dan menargetkan lebih dari 100 infrastruktur militer dan intelijen, termasuk fasilitas nuklir utama di Natanz. Serangan ini merupakan eskalasi terbaru dalam konflik Timur Tengah yang terus bergejolak.
Lebih dari itu, Israel juga dikabarkan telah membunuh enam ilmuwan, dua di antaranya adalah ilmuwan Iran, sebagai bagian dari operasi rahasia mereka. Sejak akhir pekan, kedua negara terus saling membalas serangan, memperburuk ketegangan di kawasan.
Israel Serang Fasilitas Energi Strategis Iran
Tak hanya menargetkan fasilitas militer, pada 14 Juni 2025, Israel memperluas serangannya ke sektor energi. Sejumlah infrastruktur penting seperti kilang minyak dan ladang gas diserang, memicu kebakaran hebat dan gangguan pasokan energi domestik serta ekspor Iran.
Beberapa fasilitas yang terkena dampak antara lain:
Depo Bahan Bakar Shahran, Teheran
Pusat distribusi bahan bakar terbesar di Teheran ini memiliki kapasitas hingga 260 juta liter, tersebar di 11 tangki penyimpanan.
Kilang Minyak Shahr Rey, Teheran
Salah satu kilang tertua di Iran dengan kapasitas produksi 225.000 barel per hari.
Ladang Gas South Pars, Provinsi Bushehr
Merupakan ladang gas terbesar di dunia, menyimpan 20% cadangan gas global. Produksi di lokasi ini dihentikan sebagian akibat kerusakan.
Fasilitas Gas Fajr Jam
Tempat pemrosesan gas utama dari South Pars yang memainkan peran vital dalam distribusi energi Iran.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa serangan ini baru awal. “Kami akan menyerang setiap lokasi dan setiap target rezim Ayatullah,” ujarnya seperti dilansir Reuters (14 Juni 2025).
Dampak Global: Harga Minyak Dunia Melonjak
Serangan terhadap infrastruktur energi Iran langsung berdampak pada harga minyak dunia. Pada 13 Juni 2025, harga minyak melonjak lebih dari 7 persen, mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap disrupsi pasokan energi dari kawasan Teluk.
Iran sendiri merupakan negara dengan cadangan minyak terbesar ke-3 di dunia dan cadangan gas alam terbesar ke-2, dengan ekspor gas petroleum senilai USD 631 juta (2023) menurut data U.S. Energy Information Administration (EIA) dan OEC.
Iran Ancam Tutup Selat Hormuz
Sebagai respons, salah satu anggota parlemen Iran, Esmaeil Kowsari, mengungkapkan bahwa Iran mempertimbangkan untuk menutup Selat Hormuz, jalur laut strategis yang menjadi transit 21 juta barel minyak setiap hari.
Selat Hormuz adalah jalur vital penghubung antara Teluk Persia dan Samudera Hindia, memisahkan Iran dari Oman dan Uni Emirat Arab. Jika ditutup, bukan hanya ekspor Iran yang terdampak, tetapi juga seluruh perdagangan minyak dunia.
Namun, analis energi Ellen Wald menyebut Iran kemungkinan tidak akan menutup selat tersebut. Alasannya, hal itu justru akan merugikan kepentingan Iran sendiri, termasuk memperburuk hubungan dengan Cina, sebagai konsumen utama minyak Iran. (Sumber: CNBC, 13 Juni 2025)
Prediksi Harga Minyak Dunia Bisa Tembus USD 100 per Barel
Lembaga keuangan global Goldman Sachs memprediksi bahwa jika ketegangan terus meningkat dan Selat Hormuz benar-benar terganggu, maka harga minyak global bisa tembus USD 100 per barel.
Dengan posisi Iran sebagai pemain kunci dalam rantai pasokan energi global, situasi ini menjadi sorotan internasional. Negara-negara pengimpor minyak kini menghadapi ketidakpastian pasokan dan lonjakan harga, yang berpotensi memperlambat pemulihan ekonomi global.
Penulis: Mita Putri








