Suarakitanews – Pada 13 Juni 2025, dunia kembali dikejutkan oleh serangan militer Israel terhadap Iran, yang secara langsung menargetkan fasilitas nuklir, markas militer, serta kawasan permukiman warga sipil. Serangan ini dilancarkan di bawah operasi yang dinamai “Rising Lion Operation”, dan dinyatakan akan berlanjut selama dianggap perlu oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
Fasilitas Nuklir Natanz Jadi Target Utama
Fasilitas pengayaan uranium Natanz di Iran, sekitar 220 km dari Tehran, menjadi salah satu target utama serangan Israel. Menurut IAEA, meski lokasi itu termasuk yang diserang, tidak ada kebocoran radiasi yang terdeteksi. Serangan ini memicu kekhawatiran global atas potensi eskalasi konflik nuklir di Timur Tengah.
Mengapa Israel Menyerang Program Nuklir Iran?
Israel meluncurkan serangan dengan alasan mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir, meski Iran membantah dan menegaskan program nuklirnya hanya untuk tujuan damai seperti energi dan medis. Serangan ini terjadi di tengah negosiasi nuklir AS-Iran yang dimulai April 2025, guna menggantikan kesepakatan 2015 yang ditinggalkan Donald Trump.
Jalan Buntu Diplomasi AS-Iran
Iran menolak tuntutan AS untuk membatasi pengayaan uranium, menyusul serangan Israel yang memicu pembatalan putaran keenam negosiasi nuklir pada 15 Juni 2025.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengecam tindakan Israel dan memperingatkan Iran agar tidak menyerang pangkalan militer AS di Timur Tengah. Sementara itu, Presiden Trump mengaku telah meminta Israel menunda serangan demi mencegah konflik lebih luas dan menyelamatkan proses perdamaian.
Kritik Terhadap Netanyahu: Konflik untuk Kepentingan Politik?
Menurut analis politik Israel, Ori Goldberg, keputusan Netanyahu dipengaruhi oleh kepentingan politik dalam negeri. Ia menyebut bahwa Netanyahu cenderung memanfaatkan konflik untuk mempertahankan koalisi politiknya yang rapuh.
Bahkan, laporan terbaru dari IAEA tidak menunjukkan adanya ancaman eksistensial dari Iran terhadap Israel, yang memperkuat kritik terhadap tindakan Netanyahu.
Ironi: Israel Juga Miliki Fasilitas Nuklir
Menariknya, Israel sendiri memiliki fasilitas nuklir seperti Soreq Nuclear Research Center di selatan Tel Aviv. Meski mengklaim program nuklirnya bersifat damai, Israel tidak menandatangani Traktat Nonproliferasi Nuklir (NPT) dan diperkirakan memiliki sekitar 90 hulu ledak nuklir, menurut data dari Center for Arms Control and Non-proliferation.
Fasilitas nuklir rahasia di Dimona (Pusat Riset Nuklir Negev) diyakini sebagai tempat pengembangan senjata berbasis plutonium yang tidak diakui secara resmi oleh Israel.
Kesimpulan
Serangan Israel terhadap Iran menandai titik kritis dalam ketegangan geopolitik Timur Tengah, yang bisa berdampak langsung pada stabilitas global dan kelangsungan diplomasi nuklir. Meski tujuan Israel adalah mencegah proliferasi nuklir, tindakan ini justru bisa memicu konflik lebih luas, mengingat Iran belum menunjukkan niat menyerah terhadap tekanan internasional.
Penulis: Mita Putri








