Suarakitanews – Apakah kamu anak sulung dalam keluarga? Jika iya, kamu mungkin merasa sering diminta untuk menjadi panutan, bertanggung jawab lebih besar, atau bahkan jadi “asisten” orang tua sejak kecil. Tapi, tahukah kamu bahwa posisi sebagai anak pertama atau firstborn ternyata punya dampak psikologis yang signifikan?
Dalam dunia psikologi, ada istilah yang disebut “Oldest Child Syndrome” atau Sindrom Anak Sulung. Ini bukan penyakit, melainkan pola kepribadian dan kecenderungan perilaku yang terbentuk karena urutan kelahiran.
Ciri-Ciri Umum Anak Pertama
Berdasarkan berbagai studi psikologi, termasuk penelitian dari Fukuya, Fujiwara, Isumi, Doi, dan Ochi (2021), anak sulung biasanya menunjukkan beberapa sifat khas, antara lain:
- Protektif
Sebagai anak pertama, mereka cenderung bertindak seperti “penjaga” bagi adik-adiknya. Sifat ini berkembang karena mereka terbiasa melihat diri sebagai pemimpin kecil dalam keluarga. - Ambisius
Karena sering menjadi “percobaan pertama” orang tua dalam pola asuh, anak sulung belajar banyak lewat trial and error. Hal ini menumbuhkan jiwa eksploratif dan ambisi yang tinggi. - Bertanggung Jawab
Anak sulung sering diminta membantu pekerjaan rumah atau menjaga adik, sehingga rasa tanggung jawab mereka cenderung lebih tinggi daripada saudara lainnya. - Perfeksionis
Tekanan untuk menjadi contoh bagi adik-adiknya dapat mendorong mereka menetapkan standar tinggi bagi diri sendiri, dan sering kali menjadi perfeksionis.
Tantangan Mental Si Sulung
Di balik kelebihan itu, si sulung juga menghadapi tekanan mental tersendiri, di antaranya:
- Penurunan perhatian setelah lahirnya adik.
Ketika adik lahir, anak sulung bisa merasa diabaikan karena perhatian orang tua terbagi. - Perubahan pola asuh.
Orang tua bisa jadi lebih santai pada anak kedua, sementara anak sulung tumbuh dengan tuntutan tinggi, sehingga muncul perasaan tidak adil atau cemburu. - Beban sebagai panutan.
Label “harus jadi contoh” bisa menjadi beban psikologis yang menimbulkan stres bahkan kecemasan.
Sulung, Kamu Nggak Sendirian
Jika kamu merasa lelah karena selalu dituntut untuk “kuat”, ingatlah bahwa kamu berhak merasa rapuh dan beristirahat. Seperti kata Kunto Aji dalam lagunya:
“Cukupkanlah ikatanmu, relakanlah yang tak seharusnya untukmu. Yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.”
Penutup
Oldest Child Syndrome bukanlah sesuatu yang negatif, tapi penting untuk dikenali agar kamu bisa memahami dirimu sendiri lebih baik. Jangan lupa, kamu berhak bahagia, berhak istirahat, dan tidak harus selalu sempurna.
Penulis: Mita Putri








