10 Tahun Perjanjian Paris: Janji Iklim yang Gagal dan Realita Krisis Lingkungan Hari Ini

Suarakitanews – Desember 2025 menjadi pengingat satu dekade sejak dunia menyatukan komitmen ambisius dalam Perjanjian Paris—sebuah kesepakatan global untuk membatasi kenaikan suhu bumi di bawah 2°C dan berupaya maksimal untuk menahannya di 1,5°C.

Namun, di Hari Lingkungan Hidup ini, muncul pertanyaan besar: Apakah bumi benar-benar menjadi lebih baik?

Fakta Mengerikan di Tahun 2024

Alih-alih perbaikan, realita justru menunjukkan sebaliknya:

  • Kenaikan suhu bumi telah melampaui 1,5°C.
  • Emisi karbon global mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah.
  • Eksploitasi besar-besaran mineral kritis untuk baterai kendaraan listrik meningkat tajam.
  • Konflik bersenjata, seperti serangan Israel ke Gaza, menambah kerusakan lingkungan secara signifikan.
Indonesia: Antara Janji dan Kenyataan

Sebagai salah satu negara penandatangan Paris Agreement, Indonesia juga belum menunjukkan arah perubahan yang memadai. Justru sebaliknya, beberapa kebijakan dan proyek besar menunjukkan kontradiksi yang nyata:

  1. Rencana PLN untuk meningkatkan penggunaan gas bumi, yang sejatinya adalah energi fosil, dalam 5 tahun ke depan.
  2. PLTU masih terus dibangun dan menjadi tulang punggung kawasan industri, seperti IMIP (Morowali) dan IWIP (Halmahera).
  3. Hilirisasi nikel berdampak buruk: banjir, pencemaran lingkungan, dan deforestasi di berbagai daerah.

Semua ini dibungkus dengan narasi manis bernama transisi energi—namun sayangnya, bukan transisi yang adil.

Transisi Energi atau Transisi Kepentingan?

Kunjungan PM Prancis Emmanuel Macron ke Indonesia baru-baru ini menyoroti betapa negara-negara maju yang mendukung Perjanjian Paris justru melanggengkan eksploitasi sumber daya demi kepentingan industri mereka.

Contohnya, kerjasama antara Danantara dan perusahaan tambang Prancis, Eramet, demi pasokan nikel. Ini adalah cermin dari bagaimana “transisi energi hijau” bisa berubah menjadi kedok kolonialisme baru atas sumber daya alam.

Krisis Iklim Tak Memukul Semua Orang Sama Rata

Dalam satu dekade terakhir, kita belajar bahwa krisis iklim bersifat tidak adil. Mereka yang paling terpinggirkan—masyarakat adat, nelayan, petani—adalah yang pertama dan paling parah merasakan dampaknya:

  • Hutan hilang, mata pencaharian masyarakat adat pun ikut lenyap.
  • Laut tercemar, nelayan kehilangan tangkapan.
  • Musim tidak menentu, petani kehilangan hasil panen.
Saatnya Menempatkan Alam dan Manusia di Pusat Kebijakan

Kita tidak bisa hanya bergantung pada dorongan penggunaan energi terbarukan, tetapi juga harus menyentuh akar persoalan: hentikan ketergantungan pada energi fosil dan eksploitasi mineral kritis yang hanya menguntungkan korporasi besar.

Untuk menjaga suhu bumi tetap di bawah ambang batas 1,5°C, kita harus memperjuangkan agar mandat Perjanjian Paris tetap hidup. Ini bukan hanya soal angka, tetapi soal masa depan kehidupan manusia dan keberlanjutan planet ini.

Kesimpulan

Lingkungan hidup bukan untuk dirayakan satu tahun sekali, melainkan untuk diperjuangkan setiap hari. Saatnya kita mendesak para pemimpin dunia untuk benar-benar bertindak—bukan hanya berbicara.

Penulis: Mita Putri

Mita Putri

Artikel Terkait

Laporan Khusus: Jejak Sunyi Sang “Manusia Bayangan Republik” Zulkifli Lubis

Suara Kita News. Com, Dalam lembaran sejarah Indonesia, panggung utama kerap dikuasai oleh mereka yang bersuara lantang di atas mimbar. Namun, di balik layar sejarah kemerdekaan, terdapat figur-figur yang memilih…

Lanjutkan Membaca

// // //
  • News
  • July 1, 2026
  • //
Biaya Visa Jepang Resmi Naik 5 Kali Lipat per 1 Juli 2026, Turis Indonesia Wajib Tahu!

Suarakitanews — Kabar penting bagi Anda yang berencana liburan ke Negeri Sakura: biaya visa Jepang naik secara signifikan mulai 1 Juli 2026. Kenaikan ini bukan sekadar penyesuaian kecil, melainkan lonjakan…

Lanjutkan Membaca

// // //

Rekomendasi

Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

  • October 12, 2026
Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

  • October 10, 2026
Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

  • October 9, 2026
Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

  • October 8, 2026
Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

  • October 8, 2026
Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri

  • October 8, 2026
Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri