Suarakitanews.com – Di tengah maraknya konten viral di media sosial, tren Italian Brainrot mencuri perhatian dengan keunikannya yang absurd dan penuh unsur humor. Dari suara robotic yang menyebut “Tung tung tung Sahur!” hingga makhluk aneh seperti Bombardino Crocodilo dan Tralalero Tralala, konten ini bukan hanya menjadi hiburan semata, tetapi juga berubah menjadi ritual partisipatif di internet.
Apa Itu Italian Brainrot?
Mengacu pada situs Know Your Meme, Italian Brainrot adalah tren konten bergaya brainrot yang menampilkan video AI, karya seni, atau meme dengan gaya surealis. Biasanya, konten ini menggabungkan hewan dengan benda seperti pesawat atau kelapa, dan seringkali diberi fitur manusia seperti kaki.
Fenomena ini mulai muncul di TikTok pada awal Januari 2024, diawali dengan meme Tralalero Tralala, sebelum akhirnya melahirkan berbagai makhluk dan frasa viral lainnya seperti:
- Bombardino Crocodilo
- Tung Tung Tung Sahur
- Brr Brr Patapim
Tren ini menyebar luas berkat kreativitas para pengguna TikTok dan kini hadir hampir di seluruh platform media sosial.
Dari Meme ke Strategi Brand
Menariknya, tren Italian Brainrot tak hanya berhenti sebagai hiburan internet. Beberapa brand ternama seperti Ryanair dan Samsung Belgia mulai mengadopsi gaya meme ini ke dalam strategi konten mereka di TikTok. Hasilnya? Konten mereka mendapat lonjakan views yang signifikan dibandingkan konten biasa.
Menurut Francesco De Nittis, manajer di agensi Human Centric Group, tren ini mencerminkan bagaimana generasi Z mencari konten yang spontan, instan, dan lucu.
“Brand yang cerdas mengenali tren ini bukan hanya sebagai hiburan, tapi juga sebagai bentuk partisipasi. Mereka menunjukkan bahwa mereka paham leluconnya, bukan sekadar ikut-ikutan,” ujarnya.
Mengapa Gen Z Menyukai Brainrot?
Berdasarkan data dari GWI, sebanyak 76% Gen Z menggunakan TikTok untuk menonton video lucu. Sementara itu, laporan dari Lifewire menyebutkan bahwa 57% dari mereka juga menggunakan video pendek untuk melakukan riset produk.
Konten brainrot dinilai ringan, tidak membutuhkan beban berpikir, dan memberikan hiburan cepat. Kamu hanya tinggal scroll, tertawa, lupakan, dan ulangi. Namun, penting untuk diingat bahwa mengikuti tren saja tidak cukup. Agar konten berdampak, brand perlu menyisipkan keunikan dan karakter mereka sendiri.
Brainrot: Simbol Kecemasan Digital?
Kata Brain Rot bahkan dinobatkan sebagai Oxford Word of the Year 2024. Menurut Andrew Przybylski, profesor psikologi dari Oxford University, istilah ini digunakan publik untuk menggambarkan ketidakpuasan mereka terhadap dunia digital.
“Brain rot bukanlah kondisi medis. Istilah ini lebih sebagai simbol dari rasa frustrasi kita terhadap media sosial,” jelas Andrew.
Di sisi lain, Dr. Michael Rich, pendiri Digital Wellness Lab di Boston Children’s Hospital, menyatakan bahwa mereka yang senang mengonsumsi konten semacam ini mungkin memiliki kondisi mendasar seperti ADHD. Namun, belum ada bukti kuat bahwa konten brainrot berdampak langsung pada kesehatan mental.
Italian Brainrot adalah fenomena unik yang berhasil menciptakan ruang partisipatif baru di media sosial. Meski terlihat absurd, tren ini mencerminkan selera humor dan pola konsumsi konten instan yang digemari Gen Z. Untuk brand, memanfaatkan tren ini bisa menjadi langkah strategis—selama tetap menyisipkan nilai otentik dari brand itu sendiri.
Penulis : Mita Putri
Sumber : instagram @ussfeed








