Suarakitanews.com – Gaza kembali diselimuti duka. Pada 23 Maret 2024, Rifaat Radwan, seorang paramedis muda berusia 23 tahun, gugur dalam serangan mematikan yang dilancarkan oleh militer Israel. Kejadian tragis ini menambah daftar panjang korban dari kalangan pekerja kesehatan, yang hingga kini telah mencapai 15 orang tewas.
Menurut kesaksian ibunda Rifaat, Hajjah Umm Muhammad, anaknya tengah berada dalam konvoi ambulans Bulan Sabit Merah Palestina (PRCS) saat serangan terjadi. Ironisnya, wilayah tempat mereka melintas diklasifikasikan sebagai zona hijau, yang seharusnya aman bagi ambulans dan pekerja medis.
Kata-kata Terakhir Rifaat: “Maafkan Saya, Ibu…”
Dalam video yang ditemukan di ponsel Rifaat setelah kematiannya, terdengar suara lirihnya berkata: “Maafkan saya, Ibu.. ini jalan yang saya pilih untuk membantu orang-orang.” Video tersebut juga menunjukkan bahwa lampu ambulans menyala, membantah klaim awal Israel yang menyebut konvoi itu “bergerak mencurigakan tanpa lampu.”
Ibunda Rifaat mengenangnya sebagai sosok pemberani yang selalu siap menolong. “Saya menitipkan Rifaat kepada Allah tiap kali dia berangkat kerja,” ujarnya penuh haru.
Penemuan Jasad dan Bukti Rekaman
Jasad Rifaat ditemukan sepekan setelah kejadian, tepat pada 30 Maret. Saat tim bantuan menemukan jasad para paramedis, mereka juga menemukan ponsel Rifaat yang merekam detik-detik serangan. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa para pekerja medis ditembak secara langsung, tanpa peringatan.
Menurut laporan forensik awal, para paramedis mengalami luka tembak di bagian atas tubuh, indikasi kuat adanya dugaan pembunuhan yang disengaja.
Israel Janjikan Investigasi, Dunia Minta Penyelidikan Independen
Militer Israel (IDF) menyatakan akan melakukan “pemeriksaan menyeluruh” atas insiden ini. Namun, Bulan Sabit Merah Palestina dan berbagai organisasi internasional, termasuk PBB, menyerukan penyelidikan independen dan transparan atas kejadian tragis tersebut.
Munther Abed, satu-satunya paramedis yang selamat, menyatakan bahwa dirinya dan rekan-rekannya ditembaki tanpa peringatan. Ia mengaku disiksa selama 15 jam oleh tentara Israel setelah ditangkap.
Konteks Konflik yang Lebih Luas
Sejak serangan lintas batas oleh Hamas pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang, Israel melancarkan operasi militer besar-besaran di Gaza. Hingga kini, lebih dari 50.750 warga Palestina dilaporkan tewas, mayoritas merupakan warga sipil.
Kesimpulan
Kisah Rifaat Radwan bukan hanya menggambarkan kekejaman konflik, tapi juga menunjukkan dedikasi luar biasa para pekerja medis yang mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan orang lain. Tragedi ini menuntut perhatian dunia untuk segera menghentikan kekerasan dan memastikan perlindungan bagi tenaga kesehatan di zona konflik.
Penulis : MIta Putri
Sumber : instagram @bbcindonesia








