Suarakitanews.com – Petualangan ke Luar Angkasa yang Mengubah Tubuh: Mengapa Astronot NASA Butuh Waktu Lama untuk Pulih? Ekspedisi ke luar angkasa selalu menjadi impian bagi banyak orang, namun realitanya jauh lebih ekstrem daripada yang dibayangkan. Lingkungan luar angkasa adalah salah satu yang paling menantang yang pernah dihadapi manusia, dan tubuh kita, sejauh ini, belum dirancang untuk bertahan di dalamnya.
Kisah dua astronot NASA, Suni Williams dan Butch Wilmore, menjadi contoh nyata betapa beratnya konsekuensi dari perjalanan antariksa yang berkepanjangan. Misi mereka yang awalnya direncanakan hanya delapan hari, akhirnya harus diperpanjang hingga sembilan bulan. Perpanjangan waktu yang signifikan ini tentu saja memberikan dampak yang luar biasa pada kondisi fisik mereka.
Lantas, apa saja yang terjadi pada tubuh manusia ketika terpapar kondisi ekstrem luar angkasa dalam jangka waktu yang lama? Mari kita telaah beberapa perubahan signifikan yang dialami para astronot:
1. Kehilangan Massa Otot yang Signifikan
Salah satu dampak paling langsung dan terasa adalah hilangnya massa otot. Di stasiun luar angkasa, dalam kondisi mikrogravitasi, semua objek, termasuk tubuh manusia, menjadi terasa tanpa beban. Akibatnya, otot-otot tidak perlu bekerja keras untuk melawan gravitasi, menjaga postur tubuh, atau bahkan untuk bergerak. Oleh karena itu, otot-otot menjadi kurang aktif dan secara bertahap akan menyusut dengan kecepatan yang mengkhawatirkan.
2. Proses Penuaan Dini yang Dipercepat
Kondisi tanpa gravitasi juga memberikan tekanan pada sistem kardiovaskular. Jantung dan pembuluh darah menjadi kurang terlatih karena tidak adanya tekanan gravitasi yang biasa kita rasakan di Bumi. Selain itu, tulang juga mengalami kerapuhan yang meningkat karena keseimbangan antara sel pembentuk dan perusak tulang terganggu. Dengan demikian, para astronot mengalami proses yang serupa dengan penuaan dini, di mana tubuh mereka mengalami penurunan fungsi lebih cepat dari seharusnya.
3. Gangguan Keseimbangan dan Pusing yang Parah
Sistem vestibular, yang bertanggung jawab atas keseimbangan tubuh kita, juga mengalami gangguan di luar angkasa. Di lingkungan tanpa adanya konsep “atas” atau “bawah” yang jelas, sistem ini menjadi bingung. Akibatnya, ketika kembali ke Bumi dan merasakan kembali gravitasi, astronot akan mengalami sensasi pusing dan disorientasi yang intens. Inilah yang menjelaskan mengapa Suni Williams dan Butch Wilmore memerlukan bantuan dan harus ditandu saat keluar dari kapsul mereka, meskipun sebelumnya mereka dalam kondisi fisik yang prima.
Perjalanan Pulih yang Panjang
Kisah Suni Williams dan Butch Wilmore hanyalah satu contoh betapa kompleksnya dampak tinggal di luar angkasa bagi tubuh manusia. Dr. Helen Sharman, seorang astronot yang juga pernah mengalami perjalanan ke luar angkasa, memberikan gambaran lebih lanjut. Ia mengungkapkan bahwa dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk memulihkan kembali massa otot yang hilang, dan bahkan bertahun-tahun untuk memulihkan kepadatan tulang yang berkurang.
Kesimpulan
Pengalaman para astronot ini menjadi pengingat akan tantangan besar yang dihadapi manusia dalam menjelajahi alam semesta. Meskipun teknologi terus berkembang, tubuh manusia masih perlu beradaptasi lebih jauh untuk dapat bertahan dan berfungsi optimal di lingkungan luar angkasa yang ekstrem. Proses pemulihan yang panjang setelah kembali ke Bumi menjadi bukti nyata bahwa perjalanan ke luar angkasa bukanlah hal yang mudah bagi tubuh manusia.
Penulis : Mita Putri
Sumber : instagram @bbcindonesia








