Suarakitanews.com – Banjir yang melanda Kota Bekasi pada Selasa (4/3) lalu, bukan fenomena baru. Bahkan, sejarah mencatat bahwa wilayah ini telah akrab dengan banjir sejak zaman Kerajaan Tarumanegara. Raja Purnawarman pun, konon, telah berupaya keras mengendalikan banjir dengan menggali sungai-sungai besar.
Akan tetapi, upaya pengendalian banjir yang telah dilakukan sejak ribuan tahun lalu, seolah tak pernah benar-benar tuntas. Banjir terus berulang, dan kali ini, melumpuhkan aktivitas warga Bekasi.
Lantas, apa yang sebenarnya menjadi penyebab utama banjir di Bekasi? Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bekasi menyebutkan bahwa intensitas hujan tinggi dan luapan air dari hulu Kali Bekasi di Puncak, Bogor, menjadi faktor utama. Namun, pandangan berbeda diungkapkan oleh Juru Kampanye Isu Keadilan Urban Greenpeace Indonesia, Jeanny Sirait.
Menurutnya, air kiriman hanyalah salah satu penyebab. Akar masalah sebenarnya terletak pada alih fungsi lahan besar-besaran di wilayah Jawa Barat. Selain itu, Senior Data Strategist Greenpeace Indonesia, Sapta Ananda Proklamasi, menambahkan bahwa alih fungsi lahan menjadi pemukiman di daerah aliran sungai (DAS) Kali Bekasi juga memperparah kondisi.
Oleh karena itu, solusi yang ditawarkan pun beragam. Jeanny Sirait menekankan pentingnya pengembangan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat, serta pengembangan daerah resapan air di hilir. Di samping itu, pembatasan izin bisnis yang berpotensi merusak lingkungan juga perlu dilakukan.
Sementara itu, Sapta Ananda Proklamasi menyoroti pentingnya pengelolaan dan pembangunan DAS yang berbasis lanskap, bukan wilayah administrasi. Dengan demikian, diharapkan banjir di Bekasi dapat diatasi secara lebih efektif dan berkelanjutan.








