Suarakitanews.com – Perjalanan Tuna: Dari Laut ke Piring Konsumen. Saat membuka sekaleng tuna di swalayan lokal, pernahkah Anda berpikir tentang perjalanan panjang yang telah dilalui ikan tersebut? Di balik setiap kaleng tuna yang tersedia di rak toko, ada kisah panjang yang penuh perjuangan. Salah satu kisah itu adalah pengalaman Firman, seorang nelayan migran asal Indonesia.
Meninggalkan Tanah Air Demi Masa Depan
Dengan penuh harapan, Firman meninggalkan keluarganya di Indonesia pada Maret 2023. Ia menuju Mauritius untuk bekerja di kapal longliner Taiwan, Chaan Ying, bersama nelayan migran lainnya. Harapannya sederhana: mendapatkan penghasilan yang cukup untuk keluarganya. Namun, realitas yang dihadapinya jauh dari bayangannya.
Bekerja Keras di Perairan Somalia
Saat kapal beroperasi di perairan Somalia, Firman dan rekan-rekannya bekerja hampir sepanjang siang dan malam untuk menangkap tuna. Kondisi kerja sangat berat, dengan jam kerja panjang dan tekanan yang luar biasa. Tuna albacore menjadi tangkapan utama mereka, tetapi ada juga banyak tangkapan sampingan seperti hiu yang masih menjadi bagian dari industri ini.
Tantangan dan Penderitaan di Lautan Lepas
Bekerja di kapal perikanan bukanlah hal mudah. Firman menghadapi kondisi yang tidak layak, mulai dari makanan yang minim gizi hingga lingkungan kerja yang berbahaya. Kesehatannya mulai menurun, namun saat ia meminta untuk pulang, pihak kapal menolak dengan alasan ‘utang kerja’ yang belum lunas. Ia merasa terisolasi dan terjebak di tengah lautan.
Dari Mauritius ke Rak Supermarket di Amerika Serikat
Setelah ditangkap, tuna hasil kerja keras Firman diproses di Mauritius. Berdasarkan investigasi Greenpeace Asia Tenggara, tuna albacore yang ditangkapnya kemungkinan besar berakhir dalam kaleng merek Bumblebee yang dijual di supermarket di Maine, Amerika Serikat.
Konsumen dan Realitas Industri Perikanan Global
Banyak konsumen tidak menyadari hubungan langsung antara sandwich tuna yang mereka santap dengan praktik kerja paksa serta eksploitasi di industri perikanan. Selain itu, metode penangkapan ikan yang tidak berkelanjutan juga berdampak buruk pada ekosistem laut.
Tuna seharusnya menjadi sumber protein yang terjangkau bagi banyak keluarga di seluruh dunia. Namun, apakah harus dibayar dengan penderitaan manusia dan kerusakan lingkungan?
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Sebagai konsumen, kita dapat berkontribusi dengan memilih produk yang bersertifikasi ramah lingkungan dan berkelanjutan. Dengan lebih sadar dalam memilih makanan laut, kita bisa mendukung praktik perikanan yang lebih adil dan beretika.
Saat berikutnya Anda membeli sekaleng tuna, ingatlah perjalanan panjang yang telah dilaluinya. Pilihan Anda dapat membantu menciptakan perubahan dalam industri perikanan global.
Penulis : Mita
Sumber : Netting Profit, Risking Lives: The Unresolved Human and Environmental Exploitation at Sea (Greenpeace Asia Tenggara, 2024).








